Media Zionis: Tanda-Tanda Kekalahan AS dalam Perang Iran Sangat Mencolok
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i196844-media_zionis_tanda_tanda_kekalahan_as_dalam_perang_iran_sangat_mencolok
Pars Today – Sebuah media Zionis menulis bahwa Amerika Serikat mengklaim dirinya sebagai pemenang perang, sementara Pentagon mengakui kekurangan persenjataan, harga minyak 110 dolar, dan selain Selat Hormuz, Bab al-Mandeb juga dalam proses pengepungan total.
(last modified 2026-09-15T13:54:47+00:00 )
Sep 15, 2026 20:46 Asia/Jakarta
  • Trump
    Trump

Pars Today – Sebuah media Zionis menulis bahwa Amerika Serikat mengklaim dirinya sebagai pemenang perang, sementara Pentagon mengakui kekurangan persenjataan, harga minyak 110 dolar, dan selain Selat Hormuz, Bab al-Mandeb juga dalam proses pengepungan total.

Menurut laporan Kantor Berita Mehr, situs Zionis the Inyan Merkazi dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Rami Yitzhar, pemimpin redaksinya, membahas "dimensi kekalahan strategis AS dalam perangnya yang tidak perlu melawan Iran dan konsekuensi jangka panjangnya." Ia dalam laporan ini menulis: "Kini apa yang Donald Trump, Presiden AS, berusaha sembunyikan dengan segala cara, dan apa yang Pete Hegseth, Menteri Perangnya, dengan keras membantahnya dalam narasi-narasi sebelumnya, telah menjadi jelas bagi semua orang."

 

Rincian dan Konsekuensi Perang

 

Yitzhar dalam menjelaskan konsekuensi perang ini menambahkan: "Selat Hormuz tertutup, harga minyak berada di sekitar 110 dolar per barel, inflasi sedang meningkat, dan cadangan amunisi AS sedang terkikis. Perang baru dan sangat agresif yang dilancarkan Sanaa terhadap Arab Saudi juga mendekatkan risiko kontrol berbahaya atas Bab al-Mandeb."

 

Kekurangan Amunisi dan Kerugian Operasional

 

Ia merujuk pada fakta bahwa laporan resmi pertama Inspektur Jenderal Kementerian Perang AS membenarkan apa yang selama berbulan-bulan dibantah oleh pemerintah negara itu: "Perang dengan Iran telah menyebabkan kekurangan amunisi dan gangguan dalam rantai pasokan; sehingga Pentagon terpaksa memulai tindakan-tindakan darurat untuk membeli persenjataan, menyimpan bahan baku dan komponen vital, serta mempercepat lini produksi."

 

Biaya langsung dari tindakan-tindakan ini sejauh ini sekitar 33,4 miliar dolar, dengan 22,3 miliar dolar di antaranya hanya terkait amunisi; angka ini tidak termasuk biaya lengkap rekonstruksi pangkalan-pangkalan yang rusak. Menurut laporan situs ini, lebih dari 50.000 personel militer AS berpartisipasi dalam perang ini, dengan setidaknya 18 orang tewas dan lebih dari 750 orang terluka.

 

Berdasarkan laporan ini, kerugian operasional juga sangat berat; sehingga 6 jet tempur mengalami kerusakan parah atau dihancurkan, 12 pesawat tanker dan 9 pesawat lainnya dihancurkan, dan dalam empat bulan pertama, setidaknya 30 drone jenis MQ-9 hilang.

 

Selain itu, pangkalan-pangkalan, sistem pertahanan, fasilitas komunikasi, dan situs radar canggih mengalami kerusakan. Laporan ini juga merujuk pada serangan rudal dan drone Iran terhadap pusat logistik utama Angkatan Laut AS di Bahrain.

 

Krisis Strategis AS

 

Menurut Yitzhar, masalah strategis AS bahkan lebih berbahaya lagi: "AS telah mengkonsumsi amunisi canggih dengan kecepatan yang membuat industri persenjataan kesulitan untuk mengkompensasinya. Cadangan ini tidak hanya dibutuhkan untuk Asia Barat, tetapi juga untuk pertahanan sekutu-sekutu dan terutama untuk pencegahan terhadap Tiongkok."

 

Analis Zionis ini menambahkan: "Oleh karena itu; perang ini mengungkapkan keterbatasan mendasar dalam kekuatan AS: Uang dapat dicetak dan dikumpulkan dengan cepat, tetapi rudal-rudal canggih tidak."

 

Ancaman Yaman

 

Berdasarkan laporan ini, saat ini tahap yang jauh lebih berbahaya telah dimulai yang mencakup penguatan kontrol dan kemampuan Gerakan Ansarullah di wilayah Bab al-Mandeb. Penulis Zionis ini percaya bahwa dari sudut pandang Tehran, arti dari hal ini jelas; di samping tekanan pada Selat Hormuz di timur, kemungkinan memberikan tekanan berat melalui Yaman pada gerbang selatan Laut Merah juga meningkat.

 

Ia menambahkan bahwa hal ini telah berubah menjadi ancaman bagi tatanan ekonomi global; karena ketika Selat Hormuz terganggu, jalur Arab Saudi di barat dan jalur Bab al-Mandeb menjadi sangat penting. Penargetan jalur ini dapat menyebabkan kenaikan harga minyak, transportasi, dan asuransi, merusak pergerakan barang di Terusan Suez, dan memperburuk gelombang inflasi. Jika kedua titik penyempitan (Hormuz dan Bab al-Mandeb) menghadapi ancaman secara bersamaan, kekalahan AS dapat berubah menjadi bencana internasional.

 

Delusi AS Mengenai Tujuan Perang Iran

 

Laporan ini menambahkan bahwa terdapat kontradiksi yang jelas dalam posisi AS mengenai tujuan perang Iran, yang digambarkan sebagai upaya menghidupkan kembali pencegahan AS dan melemahkan Iran. Sementara itu, Pentagon secara praktis mengakui erosi cadangan dan masalah dalam penyediaan pasukan serta persenjataannya sendiri, Selat Hormuz masih tertutup, harga minyak 110 dolar, dan front tekanan Iran kini telah meluas ke Bab al-Mandeb.

 

Yitzhar mengatakan: "Ini adalah hasil-hasil yang setiap pembaca dengan melihatnya akan menyadari siapa yang diperkuat, siapa yang dilemahkan, dan siapa yang harus membayar harga perang."

 

Netanyahu Bertanggung Jawab atas Perang Agresi di Kawasan

 

Penulis Zionis ini menambahkan bahwa di seluruh dunia, terutama di AS, bisikan ini telah meningkat bahwa Benjamin Netanyahu adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas terseretnya ke dalam perang dan kekalahan-kekalahan yang ditimbulkannya. Masalah ini bukan lagi sekadar perbedaan pendapat internal di wilayah-wilayah pendudukan, melainkan bahaya yang terkonsentrasi bagi kabinet Tel Aviv. (MF)