Teror Syahid Solaemani, Kesalahan Kalkukasi Strategis AS
https://parstoday.ir/id/news/iran-i77188-teror_syahid_solaemani_kesalahan_kalkukasi_strategis_as
Dewan Tinggi Keamanan Nasional Republik Islam Iran menyikapi kejahatan terbaru AS meneror Syahid Letjen Qasem Solaemani dengan menyebut aksi tersebut sebagai kesalahan kalkulasi strategis AS.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jan 04, 2020 09:20 Asia/Jakarta

Dewan Tinggi Keamanan Nasional Republik Islam Iran menyikapi kejahatan terbaru AS meneror Syahid Letjen Qasem Solaemani dengan menyebut aksi tersebut sebagai kesalahan kalkulasi strategis AS.

Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran dalam statemennya menyatakan, Amerika Serikat harus tahu bahwa serangan kriminal ini adalah kesalahan strategis terbesar mereka di kawasan Asia Barat, dan Washington tidak akan dengan mudah berlepas tangan dari konsekuensi kesalahan perhitungan tersebut.

Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran juga menyatakan bahwa para penjahat akan menghadapi pembalasan keras pada waktu dan tempat yang tepat. 

Institusi tinggi Iran ini menegaskan bahwa serangan teror AS terhadap Syahid Solaemani adalah balas dendam Daesh dan kelompok teroris takfiri lainnya terhadap  komandan besar dalam perang melawan terorisme. 

Aksi Teroris yang dilancarkan AS terhadap Letjen Qasem Solaemani dan sejumlah rekannya di dekat bandara Baghdad pada hari Jumat (3/1/2020) sekali lagi menunjukkan bahwa klaim ASmemerangi terorisme di Asia Barat, terutama Irak dan Suriah hanya isapan jempol belaka, sebab AS sendirilah teroris sebenarnya. Gedung Putih menjadi penyebab utama ketidakamanan dan kejahatan di kawasan tersebut. Amerika Serikat telah berulang kali menunjukkan permusuhannya terhadap setiap gerakan yang berupaya menumpas terorisme.

 

Letjen Qasem Solaemani

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan  ribuan perawat di Iran minggu lalu menyinggung statemen presiden AS yang menyalahkan Iran sebagai faktor utama kerusuhan Irak baru-baru ini dan mengancam Iran. Rahbar mengatakan, "Ketahuilah bahwa Republik Islam Iran tidak mencari perang, tetapi akan menghadapi siapapun dengan perlawanan keras, yang mengancam kepentingan nasional, martabat, kemuliaan, dan kemajuan bangsa Iran,".

Republik Islam Iran tidak pernah memulai perang di kawasan atau di luar itu, tetapi tidak ragu untuk mempertahankan keamanan nasionalnya. Pada Juni tahun lalu, ketika AS memulai petualangan di Selat Hormuz, AS menggunakan pesawat super canggih Global Hawk RQ-4 untuk menyusup ke zona udara Iran, tapi akhirnya berhasil ditembak jatuh oleh angkatan bersenjata Iran yang kuat. Majalah Time menulis, "Penembakkan drone ini mengirim pesan kepada AS bahwa Iran lebih kuat dari apa yang dipikirkan, ".

Selama beberapa tahun terakhir, AS melancarkan berbagai skenario untuk membenarkan intervensi dan dominasinya terhadap negara-negara target untuk membuka jalan bagi agresi militer, salah satunya adalah agresi militer di Irak tahun 2003. 

Proyek Iranofobia adalah contoh lain dari teori krisis AS demi mengejar tujuan ilegalnya di kawasan. Salah satu tujuan dari proyek ini adalah untuk memukul gerakan perlawanan di kawasan.

Tapi opini publik dunia saat ini menyalahkan AS dan Trump sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya krisis dan perang serta pelanggaran terhadap hukum dan perjanjian internasional. Tindakan teroris terbaru AS di Baghdad juga memiliki dimensi internasional yang tentunya akan membuat pelaku kejahatan ini menerima konsekuensi  yang jauh lebih buruk dan keuntungan sementara yang diraihnya.(PH)