Baghaei: Belum Ada Rencana Putaran Negosiasi Berikutnya
https://parstoday.ir/id/news/iran-i188742-baghaei_belum_ada_rencana_putaran_negosiasi_berikutnya
Pars Today - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran menegaskan bahwa AS belum menunjukkan keseriusan dalam diplomasi, dan perilaku Washington justru memperkuat ketidakpercayaan Tehran.
(last modified 2026-04-20T09:11:14+00:00 )
Apr 20, 2026 19:09 Asia/Jakarta
  • Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran
    Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran

Pars Today - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran menegaskan bahwa AS belum menunjukkan keseriusan dalam diplomasi, dan perilaku Washington justru memperkuat ketidakpercayaan Tehran.

Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, dalam konferensi pers hari Senin (20 April 2026), membuka pernyataannya dengan mengenang Hari Perempuan.

"Tahun ini, peringatan ini bertepatan dengan duka yang mendalam atas gugurnya jiwa-jiwa berharga dalam agresi militer," ujarnya. "Seorang putra Iran, di sekolah yang sama, pada hari yang sama, 28 Februari, bersama lebih dari 170 siswa dan guru, menjadi korban kejahatan perang Amerika. Makan Nasiri, tak ada satu pun bagian dari tubuh kecilnya yang tersisa. Ini akan tercatat dalam sejarah sebagai simbol dan contoh 'bantuan' Amerika kepada rakyat Iran".

"AS Bersikeras pada Posisi Tidak Masuk Akal"

Menanggapi pertanyaan IRNA tentang apakah gencatan senjata saat ini dan desakan AS untuk tidak menerima pertukaran merupakan "tipuan" untuk negosiasi yang berujung perang lagi, Baghaei menjawab:

"Kami tidak bisa melupakan pengalaman pahit setahun terakhir, bahkan sedetik pun. AS, dalam dua kesempatan dalam kurang dari sembilan bulan, mengkhianati diplomasi di tengah negosiasi, melanggar hukum internasional dengan cara paling kejam, menyerang kedaulatan Iran, menewaskan sejumlah besar pemimpin dan warga Iran, serta merusak aset Iran."

Ia menegaskan bahwa semua komponen Iran dengan sadar mengikuti setiap proses. "Dalam proses diplomatik, kami harus sama waspadanya, bahkan mungkin lebih, terhadap konspirasi musuh dibandingkan saat perang. Ini adalah tugas bijaksana tim negosiator dan seluruh sistem pemerintahan."

Sayangnya, kata Baghaei, AS sulit belajar dari pengalaman masa lalu. "Mereka bersikeras pada posisi tidak masuk akal dan tidak realistis, meskipun sudah pernah mengujinya. Kami orang Iran mengatakan, 'Menguji yang sudah teruji adalah kesalahan.' Namun tampaknya pihak lawan bersikeras mengulangi kesalahan ini, dan tentu akan mendapat respons yang sama seperti sebelumnya."

Belum Ada Rencana Putaran Negosiasi Berikutnya

Menjawab pertanyaan apakah putaran kedua negosiasi akan berlangsung dan apakah laporan media tentang perjalanan delegasi AS ke Islamabad untuk pertemuan hari Selasa dapat dikonfirmasi, Baghaei menjawab:

"Sejauh ini, kami tidak memiliki rencana untuk putaran negosiasi berikutnya, dan belum ada keputusan yang diambil."

Ia menambahkan bahwa AS, bersamaan dengan klaim diplomasi dan kesiapan untuk bernegosiasi, melakukan tindakan yang sama sekali tidak menunjukkan keseriusan dalam mengejar proses diplomatik.

"AS Langgar Gencatan Senjata"

Baghaei mencatat bahwa sejak awal pelaksanaan kesepahaman gencatan senjata, Iran menghadapi pengingkaran janji AS.

"Mereka awalnya mengatakan gencatan senjata Lebanon bukan bagian dari gencatan senjata, padahal mediator Pakistan telah menegaskan hal itu. Setelah kesepahaman tercapai, kami menyaksikan tindakan mereka di Selat Hormuz, apa yang mereka sebut 'blokade laut'. Dalam beberapa jam terakhir, kami melihat serangan terhadap kapal dagang Iran. Semua ini merupakan pelanggaran jelas terhadap gencatan senjata."

Baghaei menegaskan bahwa blokade laut dan pelabuhan suatu negara, menurut resolusi Majelis Umum PBB, sebuah dokumen konsensus yang disetujui semua negara, merupakan tindakan agresif.

"Dalam situasi seperti ini, perilaku dan ucapan tidak selaras. Ini hanya memperkuat kecurigaan sah Iran terhadap niat dan tujuan AS dalam seluruh proses ini. Republik Islam Iran akan dengan hati-hati, dengan mempertimbangkan kepentingan dan kemaslahatan bangsa Iran, mengambil keputusan yang diperlukan tentang jalur ke depan."

"Kami Tidak Mengakui Ultimatum"

Menjawab pertanyaan tentang batas waktu gencatan senjata dua minggu yang hampir habis dan apakah ada proses diplomatik untuk kemungkinan perpanjangan, Baghaei berkata:

"Pertama, kami tidak mengakui tenggat waktu atau ultimatum untuk mengamankan kepentingan nasional Iran. Kedua, kamilah yang memulai perang ini? Tidak. Dalam kedua kesempatan, baik bulan Juni maupun Februari, kami bertindak membela kedaulatan Iran. Kami akan terus membela diri selama kepentingan Iran memerlukannya."

Ia memperingatkan bahwa jika AS atau rezim Zionis melakukan petualangan baru, angkatan bersenjata Iran akan sepenuhnya siap membela negara.

"Tidak Ada Kepercayaan dalam Negosiasi dengan AS"

Menjawab pertanyaan tentang kepercayaan terhadap tanda tangan AS dalam setiap kesepakatan potensial, Baghaei tegas:

"Kepercayaan bukanlah landasan kami. Wajar jika dalam negosiasi dengan AS, tidak ada kepercayaan. Tidak ada kepercayaan antara Iran dan AS, karena pelanggaran jangka panjang dan terus-menerus yang mereka lakukan. Kami memutuskan berdasarkan kepentingan dan kemaslahatan kami."

Mengenai laporan bahwa delegasi AS telah berangkat atau berniat berangkat ke Islamabad, Baghaei mengatakan itu urusan mereka sendiri. "Namun, karena kami tidak melihat tanda-tanda keseriusan dari AS, sebaliknya, kami terus melihat banyak indikasi ketidaksungguhan, maka tidak dapat dikatakan diplomasi dalam arti sebenarnya sedang berlangsung; bukan diplomasi yang berarti mendikte."

"Posisi Iran Masuk Akal dan Tetap"

Menjawab pertanyaan tentang proposal baru AS dan rincian proposal 15 butir baru dari Iran yang disampaikan dalam kunjungan Panglima Militer Pakistan, Baghaei menjelaskan:

"Awalnya AS mengajukan proposal 15 butir. Kami memberikan proposal balasan dalam 10 butir. Berdasarkan itu, negosiasi ekstensif berlangsung di Islamabad. Hasilnya dikemas dalam suatu paket yang dikaji selama kunjungan Jenderal Asim Munir ke Tehran."

Ia menekankan bahwa posisi Iran sangat jelas. "Tidak seperti pihak lawan yang terus mengubah posisi, mengganti tuntutan, dan membuat pernyataan kontradiktif di media, yang tentu tidak membantu negosiasi, kami konsisten."

Baghaei menegaskan bahwa beberapa isu telah dengan tegas dinyatakan tidak dapat diterima sejak awal, dan desakan tidak akan mengubah posisi Iran. "Posisi kami sangat masuk akal dan adil. Banyak rincian yang beredar di media, seperti yang bisa Anda duga, tidak dapat dikonfirmasi."

"Bagaimana Bisa Percaya Klaim AS?"

Menjawab pertanyaan tentang prasyarat untuk negosiasi mendatang, Baghaei mengatakan:

"Lepas dari apakah Anda menyebutnya prasyarat atau syarat, posisi kami sangat jelas dan masuk akal. Landasan kami adalah kepentingan nasional Iran. Kami tidak menuntut apa pun di luar hak dan kepentingan nasional Iran, dan kami tidak akan membiarkan hak dan kepentingan nasional Iran dirampas karena arogansi orang lain."

Ia mencatat bahwa Iran menghadapi pelanggaran gencatan senjata. "Selama periode jeda ini, kami telah menyaksikan pelanggaran di Lebanon, apa yang mereka sebut 'blokade laut' terhadap Iran, dan serangan terhadap kapal dagang. Semua ini adalah pelanggaran berat terhadap hukum internasional, Piagam PBB, dan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata."

Dalam kondisi seperti ini, Baqaei mengajukan pertanyaan retoris, "Bagaimana kita bisa mempercayai klaim AS tentang kompromi dan diplomasi?"(sl)