Iran Aktualita, 04 Januari 2020
-
Syahid Qasem Soleimani
Dinamika Iran pekan ini didominasi oleh peristiwa gugurnya komandan Brigade Quds IRGC, Letjen. Qasem Soleimani oleh pasukan Amerika Serikat di Irak.
Perkembangan berikutnya di Iran berkaitan dengan penyelenggaraan manuver laut gabungan antara Iran, Rusia dan Cina di Laut Oman dan utara Samudra Hindia.
Gugurnya Komandan Brigade Quds IRGC, Qasem Soleimani
Letjen Qasem Soleimani, komandan Brigade Quds Sepah Pasdaran Iran (IRGC) Jumat (03/01/20) gugur syahid dalam serangan udara pasukan Amerika Serikat di dekat bandara udara Baghdad, Irak.
Peristiwa ini menuai respon luas. Pertama-tama kami akan membahas aksi teror ini. Letjen Soleimani dengan catatan gemilangnya di perang melawan musuh selama era perang delapan tahun dengan Irak dan kemudian disusul dengan tanggung jawabnya sebagai komandan di sejumlah unit seperti unit 41 Tsarullah Kerman dan unit anti penyelundupan dan kriinal di wilayah timur Iran telah menorehkan kebanggaan tersendiri dalam menjaga keamanan negara.
Soleimani diangkat sebagai komandan Brigade Quds IRGC tahun 1997 dan dengan gigih melawan berbagai kelompok teroris dan anasir kriminal di kawasan.
Seiring dengan kemunculan Daesh (ISIS) dan meluasnya domain kejahatan fenomena buruk dukungan AS dan berbagai rezim di kawasan, Brigade Quds pimpinan Soleimani memainkan peran besar dalam menghancurkan Daesh dan memulihkan keamanan serta stabilitas di negara-negara kawasan.
Setelah bertahun-tahun aktif di front terdepan di perang melawan anasir Takfiri di berbagai negara kawasan, pada 21 November 2017 dalam sebuah suratnya kepada Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengumumkan berakhirnya kekhilafahan Daesh di kawasan.
Qasem Soleimani yang selama bertahun-tahun dengan keberaniannya menjadi duri di mata musuh, senantiasa mendapat ancaman dari berbagai kelompok teroris.
Seperti yang dinyatakan Rahbar di pesan dukanya bertepatan dengan gugurnya Syahid Soleimani, "Balasan keras dan tegas tengah menunggu penjahat yang melumuri tangan kotor mereka dengan darah Soleimani dan syuhada lainnya."
"Setelah perjuangannya selama bertahun-tahun, keikhlasan dan keberaniannya di medan perang menghadapi para setan dan penjahat dunia, dan kerinduannya sekian lama untuk menjemput kesyahidan di jalan Allah swt, akhirnya Solaemani yang terhormat mencapai kedudukan mulia ini. Darah sucinya tumpah di tangan pihak yang paling dibenci umat manusia di muka bumi," ujar Rahbar dalam pesannya Jumat pagi.
Rahbar menekankan, "Semua teman dan musuh tahu bahwa garis perlawanan jihad akan terus berlanjut dengan motivasi ganda, dan kemenangan pasti akan menanti para mujahidin,".
Tudingan Amerika terhadap Iran dan kemudian disusul dengan serangan teror Jumat dini hari mengindikasikan bahwa Amerika sangat kebingungan dan perhitungannya pun keliru. Karena aksi teror seperti ini bukan saja tidak menghidupkan kembali posisi AS yang hilang di kawasan, bahkan akan meningkatkan kemarahan dan kebencian terhadap Amerika di kawasan dan dunia.
Kejahatan ini terjadi ketika beberapa hari sebelumnya, tepatnya Ahad malam, Amerika melancarkan serangan udara terhadap devisi 45 dan 46 Hashd al-Shaabi di kota al-Qaim di perbatasan Irak dan Suriah. Di serangan ini sediktinya 25 anggota Hashd al-Shaabi gugur dan 51 lainnya terluka.
Hashd al-Shaabi dan sayap militernya sebuah kelompok yang sepenuhnya Irak dan berada di bawa pengawasan pemerintah Baghdad. Kelompok relawan ini legal, demokratik dan aktivitasnya berada dalam lindungan undang-undang. Kelompok ini memainkan peran penting dalam melawan kelompok terrois Daesh dan mengalahkan fenomena buruk ini di Irak.
Untuk menutupi kegagalan represi maksimum terhadap Iran, Presiden AS Donald Trump menuding Iran berada di balik serangan ke kedubesnya di Irak dan mengancam Iran.
Ayatullah Khamenei hari Rabu (01/01/2020) saat bertemu dengan ribuan perawat Iran seraya mengisyaratkan statemen Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran bertanggung jawab atas insiden hari Selasa di Irak dan mengancam bangsa Iran, menekankan, Amerika keliru, karena masalah ini tidak ada kaitannya dengan Republik Islam Iran.
Seraya menjelaskan bahwa "Saya, pemerintah dan rakyat Iran mengutuk keras kejahatan Amerika menyerang Hashd al-Shaabi Irak," Ayatullah Khamenei menjelaskan, semua pihak harus memahami Republik Islam tidak menghendaki perang, namun siapa saja yang mengancam kepentingan, kemaslahatan, kehormatan, kebesaran dan kemajuan bangsa Iran, pasti akan dilawan tanpa pertimbangan dan mereka akan dibalas dengan keras.
Ayatullah Khamenei seraya mengisyaratkan kejahatan AS khususnya Blackwater di Irak dan Afghanistan serta pembantaian ribuan ilmuwan Irak dan rakyat biasa mengingatkan, "Kunjungan petinggi Amerika ke sejumlah negara kawasan tanpa ijin negara tersebut serta keberadaan pangkalan militernya, contoh lain dari perilaku pelecehan Amerika terhadap negara dan bangsa kawasan."
Amerika kini meniti jalan di mana ia harus menunggu balasan atas kejahatannya.
Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran menyatakan bahwa rezim Amerika Serikat memikul tanggung jawab atas seluruh konsekuensi dari petualangan jahat ini.
Dewan melakukan sebuah pertemuan darurat pada hari Jumat (03/01/2020) setelah AS meneror Komandan Pasukan Quds Pasdaran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani di bandara internasional Baghdad, Irak.
"AS perlu mengetahui bahwa serangan keji ini adalah kesalahan strategis terbesar negara itu di wilayah Asia Barat, dan Washington tidak akan mudah terbebas dari konsekuensi salah perhitungan ini. Seperti yang dikatakan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam pesannya, pembalasan yang berat sedang menunggu para penjahat yang menumpahkan darah syahid Soleimani," kata Dewan dalam sebuah pernyataan.
Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran menegaskan bahwa para pelaku kejahatan ini akan menerima balasan yang keras pada waktu dan tempat yang tepat.
"Tanpa ragu, jalan jihad dan perlawanan akan dilanjutkan dengan motivasi yang berlipat ganda dan pohon perlawanan akan terus tumbuh dan semakin kuat dari sebelumnya," tegas pernyataan itu.
Menurut Dewan, kejahatan ini merupakan balas dendam yang dilakukan atas nama Daesh dan teroris takfiri oleh AS terhadap para komandan besar kontra-terorisme. Mereka telah membunuh simbol-simbol yang membanggakan dalam perang melawan terorisme di Irak dan Suriah.
Dewan menyampaikan belasungkawa atas pembunuhan syahid Qasem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, kepada Pemimpin Besar Revolusi Islam, para pejuang poros perlawanan, keluarga syuhada, dan seluruh warga Iran.
Sepah Pasdaran Iran dalam statemennya seraya mengucapkan belasungkawa atas gugurnya Letjen Soleimani dan syuhada lainnya menekankan pembalasan yang keras atas kejahatan ini.
Menhan Iran, Amir Hatami mengatakan, tak diragukan lagi bahwa kejahatan mengerikan ini yang merupakan dokumen dan bukti kuat kejahatan AS dan dukungan negara ini terhadap teroris di kawasan dan Irak, akan dibalas dengan tegas.
Sementara itu, Deplu Iran menyatakan kesiapannya untuk menggunakan seluruh kapasitas politk, hukum dan internasionalnya untuk melaksanakan keputusan Dewan Keamanan Nasional membalas rezim penjahat dan teroris Amerika terkait kejahatan nyata ini.
Menlu Iran di akun twitternya menulis, Washington bertanggung jawab atas dampak petualangan vulgarnya.
Zarif menekankan, langkah Amerika di terorisme internasional dan teror Soleimani, tokoh berpengaruh di perang anti Daesh (ISIS), al-Qaeda dan kelompok teroris lainnya sangat berbahaya dan pengobaran tensi yang bodoh.
Pekan lalu, Iran menggelar latihan maritim gabungan dengan Rusia dan Cina di Laut Oman dan utara Samudra Hindia.
Juru bicara Manuver Militer Gabungan Republik Islam Iran, Rusia dan Cina, Laksamana Gholamreza Tahani mengatakan, memperkuat dan meningkatkan keamanan perdagangan maritim dan memerangi pembajakan adalah tujuan utama latihan ini.
Dia menambahkan, unit-unit tempur permukaan, bawah permukaan, dan udara dari Angkatan Laut (AL) Iran, Rusia, dan Cina berpartisipasi dalam latihan militer tersebut.
"Ini adalah manuver AL gabungan trilateral pertama yang pernah dilakukan di wilayah laut yang sangat luas antara tiga kekuatan AL Republik Islam Iran, Rusia, dan Cina," kata Tahani dalam wawancara dengan Iranpress, Jumat (27/11/2019).
Dia menambahkan, di antara tujuan penting dari manuver militer ini adalah memperkuat dan meningkatkan keamanan perdagangan maritim di wilayah Samudra Hindia utara, memerangi pembajakan di kawasan itu, bertukar pengalaman di bidang penyelamatan maritim dan pengalaman taktis serta operasional dari personel yang lebih senior ke personel junior.
"Unit-unit veteran berpartisipasi dalam latihan ini. Unit-unit yang mampu melawan semua dimensi permukaan, bawah permukaan, dan udara juga berpartisipasi dalam menuver ini," jelasnyas.
Iran, Rusia dan Cina telah memulai manuver maritim bersama pada Jumat pagi, dan latihan militer bersandi "Marine Security Belt" ini akan berlangsung selama empat hari.
Menurut Tahani, berbagai latihan, termasuk latihan taktis maritim siang dan malam, akan dilakukan dengan mengerahkan semua kemampuan unit yang berpartisipasi dalam latihan ini.
"Latihan ini akan dilakukan di wilayah Samudra Hindia utara dan di perairan terbuka, meliputi area seluas 17.000 kilometer persegi," pungkasnya.
Manuver AL gabungan Iran, Rusia dan Cina merupakan inisiatif pertama sejak kemengan Revolusi Islam 1979 di Iran yang menggulingkan rezim Shah Pahlevi, boneka Amerika Serikat.
Manvuer bersama Iran, Cina dan Rusia dilakukan di tengah upaya AS untuk mengajak negara-negara dunia masuk ke dalam koalisi maritim untuk berpatroli di Teluk Persia. Upaya ini kurang mendapat tanggapan dari sekutu Washington.
Iran telah menyatakan kesiapan untuk bekerja dengan negara-negara tetangganya untuk mengamankan Teluk Persia dengan menawarkan inisiatif regional HOPE (Hormuz Peace Endeavour).