Tekad Iran Balas Aksi Teror AS
https://parstoday.ir/id/news/iran-i77291-tekad_iran_balas_aksi_teror_as
Menyusul statemen permusuhan Presiden AS Donald Trump anti Iran, duta besar Swiss di Tehran sebagai penjaga kepentingan luar neegri AS, dipanggil Deplu Iran. Dalam hal ini Deplu Iran menyampaikan protes Tehran kepadanya.
(last modified 2026-04-20T10:59:39+00:00 )
Jan 06, 2020 15:26 Asia/Jakarta
  • Syahid Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis
    Syahid Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis

Menyusul statemen permusuhan Presiden AS Donald Trump anti Iran, duta besar Swiss di Tehran sebagai penjaga kepentingan luar neegri AS, dipanggil Deplu Iran. Dalam hal ini Deplu Iran menyampaikan protes Tehran kepadanya.

Donald Trump saat merespon ancaman Iran untuk membalas dendam aksi teror Washington menerot Komandan Brigade Quds Sepah Pasdaran, Letjen.Qasem Soleimani di akun twitternya mengancam, "Jika Iran menyerang warga Amerika atau kepentingannya maka Washington akan menyerang 52 titik di Iran termasuk situs budaya."

Deputi bidang politik menlu Iran, Sayid Abbas Araqchi kepada dubes Swiss mengatakan, statemen permusuhan, ancaman dan melanggar norma presiden AS tidak dapat diterima dan sepenuhnya melanggar hukum internasional."

"Berdasarkan tuntutan rakyat dan pemerintah Iran, Republik Islam selain memanfaatkan seluruh opsi politik dan hukum, juga menilai haknnya untuk merespon teror terhadap Syahid Soleimani kapan dan di mana lokasinya tetap terjaga," ungkap Araqchi.

Perilaku Trump sejak tiga tahun lalu memiliki satu karakteristik nyata. Karakteristik ini adalah ucapan dan perilakunya selalu dibarengi dengan kecongkakan dan pelecehan terhadap pihak lain. Sepertinya bagi Trump tidak ada bedanya antara jika ia menyebut sejawatnya dari Perancis sosok yang dungu atau mengatakan para sheikh Arab adalah sapi perah yang harus diperah sampai habis.

Presiden sebuah negara yang mengaku memiliki posisi unggul di dunia internasional, sejatinya sosok yang labil dari sisi mental dan moral yang tidak segan-segan melakukan beragam tindak kejahatan serta menganggapnya tidak penting apakah perilakunya tersebut mengancam kepentingan Amerika atau bangsa lain.

Amerika selama bertahun-tahun, ketika hadir di negara manapun pasti membawa kesengsaraan dan instabilitas. Afghanistan, Irak, Suriah, Libya dan berbagai negara lain di dunia adalah bukti nyata dari realita ini.

Perilaku seperti ini pastinya akan sangat menelan biaya dan Trump harus menunggu umpan balik dari tindakan sewenang-wenangnya. Kunjungan, kontak telepon dan pesan yang dikirik ke Tehran oleh berbagai negara dunia mulai dari Cina, Rusia, dan Turki hingga negara-negara tetangga yang mengkhawatirkan eskalasi konfrontasi Iran Amerika memiliki hubungan bermakna dengan dampak aksi teror Washington.

Di kondisi seperti ini, ungkapan Trump untuk menakut-nakuti Iran atas dampak balas dendam terhadap Amerika memiliki dua interpretasi:

Pertama; AS menyadari telah melakukan kejahatan besar dan tidak dapat diubah serta harus bersedia mengeluarkan biaya yang tinggi bagi kejahatan ini. Oleh karena itu, Trump menurut anggapannya mengancam Iran sebuah solusi preeemptive, padahal hal ini sebenarnya sebuah perhitungan keliru. Karena Iran akan bertindak kapan dan di mana, jika menilainya perlu dan pastinya negara ini memiliki kemampuan membalas setiap provokasi AS di level manapun. Tak hanya itu, Tehran juga memiliki kemampuan defensif.

Kedua; Ancaman dan statemen Trump anti Iran dapat dicermati sebagai gerakan provokatif untuk menimbang dan mengukur respos potensial Iran.

Bagaimana pun juga, Trump mengawali tahun 2020 dengan aksi teror di mana akhirnya tidak akan sesuai dengan keinginannya. Letjen Soleimani sebagai salah satu pakar strategi militer berulang kali mengungkap kebohongan klaim Amerika di perang kontra terorisme dan merusak kebijakan Amerika di Asia Barat (Timur Tengah) yang mengklaim ingin menstabilkan dan membuat aman kondisi di kawasan.

Tasy'i Jenazah Syahid Soleimani beserta Rombongan di Tehran

Teror Syahid Soleimani membuat rakyat Iran, Irak seluruh bangsa lain yang teluka oleh Amerika, semakin terluka. Proses tasy'i jenazah Syahid Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil komandan Hashd al-Shaabi Irak sebuah pesan nyata kepada Trump.

Kebencian terhadap Trump saat ini telah melewati perbatasan Iran dan di berbagai negara seperti Irak, Afghanistan, Yaman dan di antara bangsa lain semakin besar. Kebencian ini tidak mungkin dipadamkan dengan ancaman. Mimpi buruk Trump kini menjadi awal kematian bertahap dan menyakitkan atau tengah menunggu pukulan telak serta mematikan.

Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif saat menjelaskan poin ini menulis,"Pohon muqawama akan terus tumbuh. Dan imperialis akan terpaksa mengucapkan selamat tinggal kepada Asia Barat." (MF)