Menyoal Komitmen Eropa Menjaga JCPOA
Uni Eropa dan Troika Eropa yang terdiri dari Jerman, Prancis dan Inggris memainkan peran penting dalam upaya meraih kesepakatan nuklir antara Iran dan kelompok 5+1. Tapi dalam perjalanan implementasi perjanjian internasional ini, mereka tidak mengambil langkah signifikan untuk menjalankan isinya, temasuk menjalankan mekanisme keuangan antara Iran dan Eropa.
Meskipun demikian, Uni Eropa hingga kini terus menyuarakan urgensi mempertahankan JCPOA demi menjaga perdamaian dan keamanan regional maupun internasional. Dalam hal ini, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell hari Selasa, 4 Februari, 2020 setelah kembali dari Tehran menuju Brussels, menekankan perlunya upaya bersama untuk menjaga keberlanjutan JCPOA.
Menanggapi pertanyaan tentang aktivasi mekanisme penyelesaian sengketa JCPOA oleh troika Eropa, Borrell mengungkapkan bahwa hal ini tidak berarti mereka ingin merujuk kasus nuklir Iran ke Dewan Keamanan PBB dan menghancurkan kesepakatan tersebut.
Borrell baru-baru ini melakukan perjalanan ke Iran untuk pertama kalinya sejak menjabat sebagai kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa. Pada hari Senin, (3/2/2020) ia bertemu dengan presiden, ketua parlemen dan menteri luar negeri Iran.
Lawatan Borrell ke Tehran berlangsung di saat Troika Eropa mengambil langkah yang membuat kondisi JCPOA berada dalam ketidakpastian. Oleh karena itu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif sebelum kunjungan Borrell ke Tehran menulis surat 14 halaman yang mempertanyakan langkah troika Eropa yang mengaktifkan mekanisme penyelesaian sengketa JCPOA. Pengamat hubungan internasional Mohammed Sajedi menilai lawatan Borrell ke Iran sebagai upaya terakhir Uni Eropa untuk menjaga JCPOA.
Terlepas dari klaim Borrell bahwa Eropa berusaha untuk menjaga JCPOA, tapi sikap pihak Eropa justru menunjukkan sebaliknya. Uni Eropa dan Troika Eropa dalam praktiknya menolak untuk memenuhi kewajibannya, khususnya implementasi INSTEX.

Mereka tidak mengambil langkah signifikan ketika AS memaksimalkan tekanan politiknya terhadap Tehran yang merugikan kepentingan Iran, terutama menargetkan perekonomian dan mata pencaharian rakyat Iran. Akhirnya, Iran mengubah sikap dengan mengurangi tingkat komitmennya secara bertahap terhadap JCPOA.
Sementara itu, Troika Eropa justru mengaktifkan mekanisme penyelesaian sengketa pada 14 Januari 2020, sebagai reaksi atas langkah bertahap pengurangan komitmen Iran terhadap JCPOA. Pihak Eropa mengecam lima langkah yang diambil Iran, serta meminta Tehran menahan diri dan kembali ke status sebelumnya.
Menghadapi sikap Eropa tersebut, pejabat tinggi Iran menegaskan sejak awal bergabung dengan JCPOA demi kepentingan nasionalnya, dan akan mempertahankan perjanjian nuklir internasional ini selama bisa memenuhi kepentingan nasional negaranya. Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan, langkah Tehran mengurangi kewajibannya masih berada dalam kerangka perjanjian ini dan Iran tetap siap bekerja dengan Uni Eropa untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.
Pada saat yang sama pihak Eropa harus mengambil langkah signifikan untuk meredam dampak negatif dari sanksi AS tehran Tehran dengan menjalankan mekanisme untuk kelanjutan interaksi ekonomi, perdagangan dan minyak dengan Iran.
Amerika Serikat selama ini telah mengerahkan segala cara untuk merusak JCPOA. Oleh karena itu Washington mendukung langkah Troika Eropa yang meluncurkan mekanisme penyelesaian sengketa di JCPOA.
Masalah ini disinggung Ketua Parlemen Iran Ali Larijani dalam pertemuan dengan Borrell. Pejabat tinggi Uni Eropa ini menyesalkan sikap Eropa yang tidak memenuhi komitmennya terhadap JCPOA, dan mengklaim bahwa Uni Eropa akan menggunakan seluruh potensinya untuk menciptakan interaksi yang kuat demi menjaga JCPOA.(PH)