Menlu Iran ke Guterres: AS Ingkar Janji, Posisi Berubah-ubah, Minta Berlebihan
https://parstoday.ir/id/news/iran-i190282-menlu_iran_ke_guterres_as_ingkar_janji_posisi_berubah_ubah_minta_berlebihan
Pars Today - Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, dalam pembicaraan telepon dengan Sekretaris Jenderal PBB, menyatakan bahwa ingkar janji, posisi kontradiktif, dan keserakahan AS yang berulang adalah faktor penghambat dalam proses dialog yang dimediasi oleh Pakistan.
(last modified 2026-05-23T06:06:05+00:00 )
May 23, 2026 16:04 Asia/Jakarta
  • Antonio Guterres, Sekjen PBB dan Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran
    Antonio Guterres, Sekjen PBB dan Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran

Pars Today - Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, dalam pembicaraan telepon dengan Sekretaris Jenderal PBB, menyatakan bahwa ingkar janji, posisi kontradiktif, dan keserakahan AS yang berulang adalah faktor penghambat dalam proses dialog yang dimediasi oleh Pakistan.

Dilansir Pars Today, 23 Mei 2026, Sayid Abbas Araghchi dan Antonio Guterres berbincang melalui telepon pada Jumat (22/5) malam. Mereka bertukar pandangan tentang situasi terkini di kawasan dan perkembangan terkait diplomasi antara Iran dan AS dengan mediasi Pakistan.

Menlu Iran menjelaskan status terkini proses diplomatik untuk mengakhiri perang yang dipaksakan terhadap Iran. Ia menyebutkan catatan buruk AS, termasuk pengkhianatan berulang terhadap diplomasi dan agresi militer terhadap Iran, bersama dengan posisi kontradiktif dan keserakahan mereka yang terus-menerus, sebagai faktor penghambat dalam dialog yang dimediasi Pakistan.

Araghchi menegaskan, "Meskipun memiliki kecurigaan mendalam terhadap AS, Republik Islam Iran memasuki proses diplomatik ini dengan pendekatan yang bertanggung jawab dan keseriusan penuh, serta berusaha mencapai hasil yang rasional dan adil."

Sementara itu, Sekjen PBB, dengan menolak penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial negara mana pun, menekankan perlunya kepatuhan terhadap prinsip-prinsip Piagam PBB dan solusi diplomatik untuk membangun perdamaian serta stabilitas di kawasan.

Diplomasi tetap berjalan, tetapi jalanannya terjal. Araghchi mengeluhkan "keserakahan" AS yang menjadi sumber utama kebuntuan. Sementara itu, Guterres, yang seringkali hanya bisa menonton, kembali menyerukan perdamaian. Iran mengaku "sangat curiga" tetapi tetap bertahan di meja perundingan. Pertanyaannya, apakah Washington akan terus mengulangi siklus "ancaman, tawar-menawar, dan pengingkaran"? Atau akankah realitas lapangan (kegagalan militer) memaksa mereka duduk dengan lebih serius?(Sail)