Tucker Carlson: AS Gagal Buka Selat Hormuz Meski Rogoh Kocek Ratusan Miliar
https://parstoday.ir/id/news/world-i191360-tucker_carlson_as_gagal_buka_selat_hormuz_meski_rogoh_kocek_ratusan_miliar
Pars Today - Tucker Carlson, tokoh media konservatif terkemuka Amerika, dalam pernyataannya dengan merujuk pada peristiwa yang sedang berlangsung dalam krisis Asia Barat yang menunjukkan keterbatasan kekuatan militer Amerika Serikat, menekankan bahwa Washington meskipun telah mengeluarkan biaya yang selangit, tetap gagal membuka jalur Selat Hormuz.
(last modified 2026-06-12T07:53:28+00:00 )
Jun 12, 2026 14:48 Asia/Jakarta
  • Tucker Carlson, tokoh media konservatif terkemuka Amerika
    Tucker Carlson, tokoh media konservatif terkemuka Amerika

Pars Today - Tucker Carlson, tokoh media konservatif terkemuka Amerika, dalam pernyataannya dengan merujuk pada peristiwa yang sedang berlangsung dalam krisis Asia Barat yang menunjukkan keterbatasan kekuatan militer Amerika Serikat, menekankan bahwa Washington meskipun telah mengeluarkan biaya yang selangit, tetap gagal membuka jalur Selat Hormuz.

Melansir Pars Today dari IRNA, 12 Juni 2026, Tucker Carlson, tokoh media konservatif terkemuka Amerika, di kanal YouTube-nya mengumumkan, "Bahkan dengan kapal induk seharga 120 miliar dolar, Amerika tidak mampu menjamin keamanan Selat Hormuz."

Ia dengan merujuk pada adanya persoalan-persoalan yang tidak dapat diselesaikan Amerika Serikat dengan mudah, menambahkan, “Krisis saat ini menunjukkan kemampuan terbatas Washington, dan meluasnya krisis di Asia Barat menunjukkan tidak adanya kendali penuh para pemimpin Amerika atas keputusan-keputusan kunci kebijakan luar negeri negara ini.”

Pembawa acara Amerika ini juga merujuk pada pernyataan-pernyataan Trump yang berulang tentang kesepakatan-kesepakatan potensial yang kemudian tidak direalisasikan, dan menekankan, "Pernyataan-pernyataan berulang dan tidak membuahkan hasil ini, mempertanyakan efektivitas proses negosiasi."

Harian Guardian sebelumnya menggambarkan Donald Trump, Presiden Amerika, sebagai narator yang tidak dapat dipercaya dalam perang Iran, dan menulis bahwa ia telah berulang kali berbicara tentang dekatnya kesepakatan, namun tidak ada kesepakatan yang tercapai, dan sebagai gantinya ketegangan dan pertukaran serangan militer terus berlanjut.

Harian Le Monde Prancis dalam sebuah catatan berjudul "Ketidakmampuan Trump dalam Jebakan Iran", menulis bahwa slogan Presiden Amerika tentang "perdamaian melalui kekuatan" dalam berkas Iran tidak mencapai hasil yang ia klaim. Media Prancis ini menekankan bahwa perang Iran telah berubah menjadi biaya politik bagi Trump, dan prospek perkembangan, lebih mirip dengan kesepakatan potensial yang menjauh dari tujuan-tujuan awal Amerika, daripada kemenangan cepat Washington.

Kantor berita Reuters juga dalam sebuah laporan menulis tentang meningkatnya tekanan ekonomi dan politik akibat perang, dan menekankan bahwa meningkatnya ketegangan telah menaikkan harga energi, dan perang Iran telah berubah menjadi masalah politik bagi Gedung Putih menjelang pemilu sela Amerika.

Laporan ini menyingkap fenomena langka: ketika media Barat, dari konservatif seperti Tucker Carlson hingga liberal seperti Guardian dan Le Monde, bersuara dalam nada yang hampir sama: AS sedang kalah. Carlson, yang biasanya mendukung kebijakan luar negeri agresif, secara terbuka mengakui bahwa kapal induk $120 miliar pun tidak cukup untuk membuka Selat Hormuz. Guardian menyebut Trump "narator tidak tepercaya". Le Monde bicara tentang "jebakan Iran". Reuters menyebut perang sebagai "beban politik" menjelang pemilu. Ini bukan sekadar kritik oposisi, ini adalah pengakuan dari berbagai spektrum media bahwa strategi AS di Iran tidak bekerja. Dan yang paling menarik: semua ini terjadi sementara Trump terus berbicara tentang "kesepakatan yang hampir tercapai", kesepakatan yang tidak pernah datang.(Sail)