BRICS Racik Kedaulatan Farmasi Global Selatan Pasca-Korona
https://parstoday.ir/id/news/world-i191428-brics_racik_kedaulatan_farmasi_global_selatan_pasca_korona
Pars Today - Pasca-pandemi COVID-19, pentingnya sistem kesehatan yang tangguh, kemampuan ilmiah domestik, dan industri farmasi yang kuat semakin nyata bagi berbagai negara.
(last modified 2026-06-13T10:06:08+00:00 )
Jun 13, 2026 17:05 Asia/Jakarta
  • Produksi vaksin Corona
    Produksi vaksin Corona

Pars Today - Pasca-pandemi COVID-19, pentingnya sistem kesehatan yang tangguh, kemampuan ilmiah domestik, dan industri farmasi yang kuat semakin nyata bagi berbagai negara.

Melansir Pars Today dari TV BRICS, 13 Juni 2026, dalam beberapa tahun terakhir, jaminan akses terhadap obat-obatan, pengembangan vaksin, dan kemajuan teknologi medis tidak hanya masuk dalam kebijakan sosial, tetapi juga menjadi salah satu pilar ketahanan nasional.

Kini, negara-negara Global Selatan memberikan perhatian khusus pada penguatan kapasitas kesehatan mereka. Kelompok BRICS memainkan peran sentral dalam jalur ini dengan menyediakan wadah bagi kerja sama ilmiah, alih teknologi, dan pelaksanaan proyek bersama di bidang medis dan farmasi. Dalam pernyataan akhir KTT BRICS ke-17 di Rio de Janeiro disebutkan: "Dengan memahami sifat tantangan kesehatan global yang saling terkait, kami menegaskan kembali komitmen untuk memperkuat kedaulatan kesehatan global melalui peningkatan kerja sama internasional dan solidaritas."

Para ahli mengenalkan konsep "kedaulatan farmasi"; yang bermakna kemampuan suatu negara untuk menyediakan obat-obatan esensial bagi rakyatnya, mengembangkan produksi vaksin, dan mempertahankan tenaga kerja medis terampil.

Margarita Isakova, Kepala Kantor Internasional Direktorat Pengembangan Internasional Universitas Pirogov Rusia, dalam wawancara dengan TV BRICS menyatakan, "Akses tidak hanya terbatas pada kehadiran fisik vaksin di pusat perawatan. Aspek ekonomi, yaitu keterjangkauan obat tanpa memandang tingkat pendapatan pengguna akhir, sama pentingnya. Selain itu, infrastruktur yang memadai untuk penyimpanan dan distribusi vaksin di luar kota-kota besar tidak selalu memungkinkan."

Ia menambahkan bahwa negara-negara Global Selatan masih sangat bergantung pada impor bahan baku obat, sebuah ketergantungan yang terlihat jelas selama pandemi COVID-19.

Di antara negara-negara BRICS, India adalah produsen obat generik terbesar dan pemasok 60 persen vaksin UNICEF. Tiongkok memiliki kapasitas produksi vaksin terbesar dan investasi besar dalam penelitian dan pengembangan. Rusia, melalui strategi "Farmasi 2030", berupaya meningkatkan pangsa obat produksi domestik hingga 70 persen. Brasil telah swasembada dalam produksi produk imunobiologis. Mesir memenuhi 90 persen kebutuhan obatnya, dan Iran memproduksi lebih dari 90 persen obat yang dikonsumsi secara mandiri.

Namun demikian, akses terhadap vaksin dan obat-obatan di Global Selatan masih penuh tantangan. Para ahli menganggap sistem paten, tingginya biaya obat inovatif, dan keterbatasan finansial sistem kesehatan nasional sebagai hambatan utama.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Vaksin BRICS yang diluncurkan pada tahun 2022, menyediakan wadah untuk penelitian bersama, alih teknologi, serta kerja sama dalam produksi dan pengawasan. Pusat ini dapat mengurangi ketergantungan Global Selatan pada perusahaan-perusahaan besar Barat.

Para ahli menekankan bahwa penguatan kapasitas farmasi memerlukan investasi publik yang berkelanjutan, pengadaan bersama, alih teknologi, dan pelatihan sumber daya manusia. BRICS memiliki peluang untuk menjadi peletak dasar kedaulatan kesehatan dan teknologi bagi negara-negara Global Selatan melalui kerja sama di bidang-bidang ini.

Laporan ini menyingkap pergeseran geopolitik yang jarang disadari: perang bukan lagi hanya soal rudal, tapi soal siapa yang menguasai rantai pasok obat dan vaksin. Pandemi COVID-19 telah membuka mata Global Selatan bahwa ketergantungan pada Barat untuk hal-hal paling mendasar seperti obat-obatan adalah celah keamanan nasional. BRICS, dengan menggabungkan kekuatan manufaktur India, kapasitas R&D Tiongkok, dan kemandirian Iran serta Brasil, sedang mencoba membangun "benteng farmasi" baru. Ini bukan sekadar kerja sama ekonomi, ini adalah upaya mendekolonisasi kesehatan global, di mana akses terhadap obat tidak lagi didikte oleh paten dan monopoli perusahaan raksasa Barat.(Sail)