Presiden LaLiga Serukan Akhir Kepemimpinan Infantino; Sistem FIFA Dipertanyakan
-
Presiden LaLiga, Javier Tebas
Pars Today - Presiden LaLiga, Javier Tebas, meyakini bahwa era Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA telah berakhir, dan menuduhnya menghancurkan esensi sepak bola.
Sebagaimana dilaporkan IRNA, Minggu, 9 Agustus 2026, Gianni Infantino, Presiden FIFA, setelah mundur dari rencana penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta, menghadapi tekanan besar untuk mengundurkan diri. FIFA telah menegaskan bahwa mereka tidak akan melanjutkan rencana tersebut, dan Infantino pada hari Rabu (5/8) meminta maaf kepada asosiasi-asosiasi nasional atas cara penyusunan rencana itu.
Namun, asosiasi-asosiasi, termasuk UEFA dan Federasi Sepak Bola Inggris, telah menuntut Infantino mengundurkan diri. Tekanan ini meningkat minggu ini setelah UEFA mengkonfirmasi bahwa ia membayar gaji yang tidak wajar kepada seorang staf yang dikatakan memiliki hubungan dengannya selama masa jabatannya sebagai Sekretaris Jenderal, klaim yang dibantah oleh Presiden FIFA.
Tebas, yang telah menjadi Presiden LaLiga sejak 2013, mengatakan kepada surat kabar Prancis Le Monde, "Menurut saya, era Gianni Infantino sudah berakhir. Saya tidak mengatakan ini karena peristiwa terkini. Saya telah memperhatikan gaya manajemen ini sejak lama, meskipun tampaknya banyak orang baru menyadarinya sekarang."
Ia menambahkan, "Infantino bukanlah seseorang yang membantu pertumbuhan sepak bola. Sebaliknya, proyek-proyeknya sedang menghancurkan esensi olahraga ini, yaitu liga-liga nasional. Sepak bola bukan hanya untuk elit. Menurut saya, era Infantino sudah berakhir."
Tebas melanjutkan, "Yang tersisa adalah melihat kapan hal ini akan terjadi dan bagaimana proses suksesi akan berjalan. Saya berharap ini bukan hanya soal mengganti satu orang dengan orang lain, tetapi sebuah reformasi yang nyata dan komprehensif."
Ancaman Eropa untuk memboikot Piala Dunia tetap ada meskipun Infantino telah meminta maaf. Tebas mengatakan, "Apa yang terjadi tidak mengejutkan saya. Yang mengejutkan saya adalah reaksi banyak orang yang selama bertahun-tahun berdiam diri."
Asosiasi Pers Britania Raya (PA Media), mengutip Tebas, menulis, "Krisis ini hanyalah puncak gunung es dari apa yang terjadi di FIFA, dan secara lebih luas di sepak bola, di mana tidak ada kebijakan tata kelola yang nyata. Masalahnya bukan hanya satu orang; ini adalah seluruh sistem."
Tebas di akhir pernyataannya mengatakan, "Sistem lama dapat bertahan bahkan ketika orang-orang berganti. Saya berharap situasi benar-benar berubah, seorang pemimpin baru muncul, dan sistem tata kelola baru di FIFA tercipta."(Sail)