Irak Terjebak dalam "Kandang" Kesepakatan AS: Langit Dikuasai Washington, Kedaulatan Dipermainkan
-
Iringan tentara Amerika di Irak
Pars Today - Seorang analis Irak mengatakan bahwa kesepakatan antara Baghdad dan Washington telah menjadikan negaranya "terjebak" dalam keputusan-keputusan Amerika dan menghalanginya untuk mendapatkan sistem pertahanan canggih guna melindungi wilayah udaranya serta memastikan tidak adanya pelanggaran terhadap kedaulatannya oleh pihak asing.
Melansir IRNA, Sabtu, 13 Juni 2026, dari kantor berita Al-Maalumah, Ibrahim Al-Siraj menyatakan, "Kesepakatan antara Baghdad dan Washington telah membuat wilayah udara Irak rentan dan berada di bawah kendali Amerika. Hal ini terbukti dengan jelas selama perang terbaru yang disaksikan kawasan."
Ia menegaskan, "Perjanjian keamanan antara Baghdad dan Washington menyebabkan Irak bergantung pada Amerika, dan hal ini terlihat dari terus berlanjutnya dominasi negara itu atas langit Irak."
Analis ini melanjutkan, "Kesepakatan antara Baghdad dan Washington telah menjadikan Irak 'tawanan' keputusan-keputusan Amerika dan menghalanginya untuk mendapatkan sistem pertahanan canggih guna melindungi wilayah udaranya serta memastikan tidak adanya pelanggaran terhadap kedaulatannya oleh pihak asing."
Al-Siraj menambahkan, "Amerika, melalui dominasi militernya, mencegah Irak memanfaatkan sistem radar miliknya sendiri selama perang terbaru dan agresi Amerika serta rezim Zionis terhadap Iran. Oleh karena itu, banyak pertanyaan muncul tentang kedaulatan Irak di tengah dominasi Washington yang terus berlanjut."
Hussein Mahdi, seorang anggota parlemen Irak, sebelumnya menyatakan, "Upaya di parlemen sedang berlangsung dengan tujuan menekan pemerintah untuk mengambil tindakan terkait perjanjian keamanan dengan Washington, mengingat perkembangan dan tantangan di kawasan."
Ia menambahkan, "Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat meyakini bahwa perjanjian ini tidak lagi efektif dan tidak sesuai dengan kebutuhan tahap saat ini, sebuah masalah yang mengharuskan dilakukannya peninjauan ulang atau pengambilan sikap tegas mengenainya."
Ia menegaskan, "Irak saat ini memiliki kemampuan dan kapasitas yang memampukannya untuk melindungi keamanan dan kedaulatannya sendiri, dan hal ini menjadikan peninjauan ulang terhadap sifat hubungan serta perjanjian keamanan yang ada sebagai sebuah keharusan."
Mahdi juga mengatakan, "Dewan Perwakilan Rakyat di tahap mendatang akan terus mengkaji berkas ini, sedemikian rupa sehingga sejalan dengan kepentingan tertinggi negara dan melindungi kedaulatannya."
Di sisi lain, salah satu anggota Komisi Keamanan dan Pertahanan Parlemen Irak menuntut dihentikannya agresi udara rezim Zionis dan Amerika terhadap wilayah udara Irak. Ia menegaskan bahwa pelanggaran wilayah udara Irak mengancam keamanan dan stabilitas negara tersebut, dan bertentangan dengan konstitusi yang melarang penggunaan wilayah Irak untuk menyerang negara tetangga.
Ini adalah keluhan klasik dari negara "teman" yang merasa dikhianati. Irak tidak bisa melindungi langitnya sendiri karena perjanjian dengan AS justru membatasi kemandiriannya. Ironinya, perlindungan yang dijanjikan AS ternyata lebih berfokus pada kepentingan AS sendiri, termasuk memanfaatkan wilayah udara Irak untuk menyerang Iran.(Sail)