Di Balik Intervensi AS untuk Yen; Niat Baik atau Kepentingan Tersembunyi?
-
Dolar dan Yen
Pars Today - Menteri Keuangan Amerika Serikat mengklaim bahwa negaranya melakukan intervensi nilai tukar di Jepang untuk mendukung ekonomi negara itu sebagai mitra Washington yang dapat diandalkan. Namun, apa sebenarnya di balik tindakan Washington ini?
Sebagaimana dilaporkan IRNA dari ABC News, Sabtu, 8 Agustus 2026, AS telah bertindak dengan tujuan yang disebut sebagai mendukung nilai yen Jepang, mata uang yang baru-baru ini mencapai level terendah dalam empat dekade terakhir terhadap dolar.
Jepang, yang sangat bergantung pada impor makanan dan bahan bakar, dalam beberapa bulan terakhir bergulat dengan inflasi yang sebagian berasal dari guncangan harga minyak bersejarah akibat perang terhadap Iran.
Kekurangan minyak telah menyebabkan kenaikan harga minyak mentah di seluruh dunia dan memberikan tekanan lebih besar pada konsumen Jepang, yang sebelumnya juga telah dirugikan oleh penurunan daya beli mata uang mereka.
Meningkatnya inflasi bertepatan dengan paket-paket yang diusulkan pemerintah untuk menghidupkan kembali ekonomi Jepang yang dilanda krisis. Tokyo pada bulan November menyetujui paket stimulus ekonomi senilai 135 miliar dolar AS, termasuk subsidi energi untuk rumah tangga berpenghasilan rendah dan yang berada di bawah tekanan keuangan.
Namun, paket dukungan ini dapat memperdalam masalah keuangan pemerintah Jepang, sebuah negara yang utang pemerintahnya kini melebihi 200 persen dari PDB. Kesulitan keuangan pemerintah dapat memberi tekanan lebih lanjut pada yen, karena Jepang mungkin terpaksa mencetak uang di masa depan untuk mengelola utang nasionalnya.
Sementara itu, Bank Sentral Jepang mempertahankan suku bunga pada tingkat yang relatif rendah, sebuah faktor yang mengurangi daya tarik mata uang negara itu bagi para investor dan semakin menggerogoti nilai yen. Beberapa pengamat memperkirakan Bank Sentral Jepang akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang, tetapi langkah tersebut dapat bertentangan dengan upaya pemerintah untuk merangsang dan menghidupkan kembali ekonomi.
Sanae Takaichi, Perdana Menteri Jepang dan sekutu Donald Trump, menghadapi kritik karena kenaikan harga yang cepat dan meningkatnya tekanan ekonomi.
Paolo Pasquariello, profesor keuangan di University of Michigan, mengatakan kepada ABC News bahwa "ini adalah badai sempurna yang mendorong Jepang untuk mencoba memperkuat yen. Namun sisi lain dari koin ini adalah bahwa yen yang lebih kuat akan menguntungkan AS".
Para analis yang berbicara dengan media ini percaya bahwa intervensi AS untuk mendukung yen dapat mencegah Jepang menjual obligasi Treasury AS. Akibatnya, salah satu komponen yang dapat meningkatkan suku bunga akan hilang.
Menurut para analis, penguatan yen juga akan membuat barang-barang ekspor AS lebih murah bagi pembeli Jepang dan berpotensi membantu menstabilkan ekonomi Jepang. Selain itu, menurut klaim mereka, "ini sejalan dengan salah satu tujuan pemerintahan Trump, yaitu mengurangi defisit perdagangan AS dengan mitra-mitra besarnya."
Data dari Kantor Perwakilan Dagang AS menunjukkan bahwa nilai barang-barang AS yang diekspor ke Jepang tahun lalu mencapai 82,1 miliar dolar AS, angka yang sedikit lebih dari setengah nilai impor AS dari Jepang, yaitu 146 miliar dolar AS.
Richard Michelfelder, profesor di Rutgers University di New Jersey, mengatakan dalam hal ini bahwa "harga barang-barang AS bagi orang Jepang dalam yen, dibandingkan dengan 20 tahun lalu, telah meningkat dua kali lipat. Mengapa ini tidak menyenangkan? Karena mereka tidak lagi membeli produk kita sebanyak dulu. Jepang adalah salah satu ekonomi terbesar dan terkaya di dunia."
Scott Bessent, Menteri Keuangan AS, Jumat (7/8) dalam sebuah pesan di media sosial X, dengan mengklaim bahwa Washington telah melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan koordinasi pemerintah Jepang, menyatakan, "Pemerintahan Trump bertindak untuk mitra-mitra tepercaya AS. Keamanan ekonomi adalah keamanan nasional, dan aliansi AS-Jepang didasarkan pada keduanya. Kami dengan tegas mendukung langkah-langkah tegas Jepang di pasar dan kebijakan moneternya untuk memperkuat yen."
Michelfelder mengatakan bahwa "tanpa bantuan AS, Jepang mungkin terpaksa menjual sebagian dari cadangan besar obligasi Treasury AS-nya untuk menyediakan sumber daya yang diperlukan guna memperkuat yen".
Menurut ABC News, "Jika Jepang tiba-tiba melepas sejumlah besar obligasi Treasury AS ke pasar dan pasokan obligasi ini meningkat, imbal hasil obligasi akan naik. Peningkatan imbal hasil obligasi pada gilirannya akan menaikkan suku bunga dan meningkatkan biaya pembayaran utang pemerintah federal AS dan bahkan biaya pinjaman perumahan swasta. Imbal hasil obligasi Treasury AS saat ini juga berada pada tingkat yang tinggi karena perang Iran telah memperburuk inflasi dan meningkatkan biaya pinjaman."
Data Freddie Mac menunjukkan bahwa tingkat rata-rata hipotek tetap 30 tahun, yang terkait erat dengan imbal hasil Treasury 10 tahun, mencapai 6,66 persen minggu lalu, level tertinggi dalam setahun terakhir.
Michelfelder menambahkan, "Langkah ini membantu menjaga suku bunga tetap rendah di AS. Jepang memiliki ratusan juta dolar obligasi Treasury AS. Jika Jepang terpaksa menjual sebagian dari obligasi tersebut untuk membeli yen, hal ini pada akhirnya akan menjadi masalah yang lebih besar bagi kita dan merugikan kita (AS)."
Namun demikian, menurut ABC News, "Penguatan yen yang berlebihan juga dapat menimbulkan masalah bagi AS. Skenario seperti itu dapat mengganggu transaksi yang disebut 'carry trade', sebuah manuver keuangan di mana investor menjual mata uang yang dapat dipinjam dengan biaya rendah dan beralih ke mata uang dengan imbal hasil yang lebih tinggi."
Pasquariello juga mengatakan dalam hal ini bahwa "dampak akhir dari intervensi AS di pasar valuta asing tidak jelas. Dimensi pasar valuta asing yang sangat besar membuat ketahanan intervensi semacam itu dalam jangka panjang menjadi sulit, meskipun dapat meningkatkan nilai yen dalam jangka pendek".
Ia menambahkan, "Di pasar sebesar dan seluas pasar valuta asing, mengubah arah tren sangatlah sulit. Intervensi pemerintah ini, dalam skala keseluruhan pasar, seperti setetes air di lautan."(Sail)