Iran Pasti Mendukung Perdamaian dan Stabilitas di Afghanistan
"Iran mendukung perdamaian dan stabilitas di Afghanistan."
Mohammad Ebrahim Taherianfard, Wakil Khusus Menteri Luar Negeri Iran untuk Afghanistan, pada hari Minggu (26/07/2020) dalam menanggapi pernyataan Wakil Khusus AS untuk Afghanistan menekankan, "Republik Islam Iran mendukung perdamaian dan stabilitas di Afghanistan serta menekankan perlunya membangun perdamaian berdasarkan hasil dialog Afghanistan-Afghanistan yang dipimpin oleh orang Afghanistan."
Zalmay Khalilzad, Wakil Khusus AS untuk Afghanistan, baru-baru ini mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Iran tidak sepenuhnya mendukung upaya untuk membawa perdamaian ke Afghanistan.
Taherianfard juga menyarankan para pejabat AS agar mempelajari sikap-sikap ini dengan seksama sebelum mengomentari pandangan para pejabat Republik Islam Iran tentang masalah-masalah regional dan Afghanistan.
Republik Islam Iran, untuk alasan yang jelas, mendukung setiap perubahan yang berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas yang langgeng dan komprehensif di Afghanistan.
Atas dasar ini, Kementerian Luar Negeri Iran mengeluarkan pernyataan dalam menanggapi penandatanganan perjanjian AS-Taliban, "Perjanjian damai berkelanjutan di Afghanistan hanya dapat dicapai melalui dialog antar-Afghanistan dengan partisipasi kelompok-kelompok politik Afghanistan, termasuk Taliban, dan dengan mempertimbangkan negara-negara tetangga Afghanistan."
Pandangan ini menekankan dua poin penting dalam menilai klaim Zalmay Khalilzad, Wakil Khusus AS untuk Afghanistan bahwa Iran tidak mendukung proses pencapaian perdamaian abadi di Afghanistan.
Poin pertama, Republik Islam Iran menekankan perlunya kesepakatan antara aktor-aktor domestik di Afghanistan melalui dialog antar-Afghanistan. Ini adalah prasyarat untuk mencapai perdamaian berkelanjutan di Afghanistan.
Poin kedua, memberikan perhatian pada pertimbangan politik dan keamanan negara-negara tetangga Afghanistan, sementara Amerika Serikat bertujuan untuk menciptakan ketidakpercayaan dan perselisihan dalam hubungan Afghanistan dengan tetangga-tetangganya.
"Washington tidak memahami bahwa tanpa partisipasi negara-negara di kawasan, termasuk Iran, tidak ada solusi jangka panjang untuk keamanan Afghanistan. Berbagai upaya harus dilakukan untuk menjadikan Afghanistan mitra yang dapat dipercaya untuk kawasan dan dunia," kata Thomas Johnson, penulis Taliban Narratives, mengacu pada peran penting kerja sama regional dalam membangun perdamaian dan keamanan di Afghanistan.
Sementara Amerika Serikat terus bergerak ke arah yang berlawanan dan dengan kebijakan munafiknya telah meningkatkan ketegangan, konflik, dan dukungan untuk terorisme, perselisihan dan permusuhan di antara negara-negara di kawasan serta telah menyebarkan ketidakamanan, ketidakstabilan, kemiskinan, perang, dan ekstremisme.
John Bolton, mantan Penasihat Keamanan Nasional Presiden Donald Trump, mengungkapkan dan menulis tentang penggunaan rencana perdamaian AS di Afghanistan hanya sebagai alat dalam bukunya The Room Where It Happened, "Amerika Serikat telah kalah perang di Afghanistan dan rencana perdamaian hanya untuk mendapatkan suara agar Trump tetap tinggal di Gedung Putih."
Jelas bahwa Amerika Serikat berusaha untuk melegitimasi intervensinya di Afghanistan, sementara satu-satunya cara efektif untuk mencapai perdamaian berkelanjutan di Afghanistan adalah melalui pembicaraan antar-Afghanistan yang disponsori PBB, yang memiliki kapasitas yang baik untuk memfasilitasi dan memantau pembicaraan antar-Afghanistan serta menjamin implementasi perjanjian yang telah dicapai.
Karenanya, Republik Islam Iran dengan tetap menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Afghanistan, telah menyatakan kesiapannya untuk menyediakan dan mendukung setiap bantuan untuk pembentukan perdamaian, stabilitas dan keamanan di Afghanistan sejalan dengan strategi keamanan nasionalnya.