Iran Aktualita, 30 Januari 2021
-
Program nuklir Iran
Dinamika Iran sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai persyaratan Iran untuk memenuhi komitmen penuhnya di JCPOA.
Selain itu tentang penolakan tegas Iran terhadap permintaan AS, angkatan bersenjata Iran merespon ancaman Israel, Iran memasuki fase aktivitas kuantum, Iran akan mengoperasikan 1.000 sentrifugal canggih di Natanz, pejabat Iran dan Taliban membahas dialog damai Afghanistan dan kiper Iran terpilih menjadi pemain terbaik Liga AFC 2020.
Iran Umumkan Syarat untuk Penuhi Kembali Komitmen Nuklir
Presiden Hassan Rouhani mengatakan Iran akan memenuhi semua kewajiban perjanjian nuklir JCPOA segera setelah Amerika Serikat dan Eropa melaksanakan komitmennya.
Rouhani dalam rapat kabinet pada hari Rabu (27/1/2021) di Tehran, menuturkan semua negara di seluruh dunia setuju bahwa AS harus memenuhi komitmennya.
"Semua negara berpendapat bahwa AS harus kembali pada kewajibannya. Ada konsensus tentang itu di seluruh dunia," tambahnya.
Rouhani mencatat bahwa Tehran mengurangi komitmennya berdasarkan JCPOA karena Washington secara sepihak keluar dari perjanjian ini dan Eropa juga tidak mampu memenuhi kewajiban JCPOA.
Presiden Iran lebih lanjut menyinggung kegagalan perang ekonomi yang dilakukan AS terhadap Republik Islam. "Perang ekonomi ini tidak hanya gagal, tetapi ia juga akan segera berakhir," ungkapnya.
Dia mengatakan situasi saat ini bergerak ke arah kerja sama ekonomi Iran dengan negara-negara di kawasan, karena Donald Trump telah pergi.
Soal JCPOA, Iran Tolak Tegas Permintaan AS
Kepala Staf Kepresidenan Iran Mahmoud Vaezi, mengatakan bahwa kasus perjanjian nuklir JCPOA telah ditutup dan prinsip-prinsipnya tidak akan dinegosiasikan ulang.
Vaezi dalam wawancara dengan kantor berita Iran Press, Rabu (27/1/2021), menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri AS yang baru, Antony Blinken mengenai perjanjian nuklir.
"Iran berpegang pada prinsip-prinsipnya dan tidak peduli siapa yang berkuasa di Amerika Serikat," tegasnya.
Dia menuturkan bahwa posisi menlu baru AS tidak berbeda dengan permintaan pemerintahan Trump. "JCPOA sudah dibahas satu kali dan negosiasi ulang adalah tuntutan pemerintahan Trump, yang tidak dipenuhi," tambahnya.
"Iran masih berada di dalam JCPOA, tetapi komitmen kami akan sepenuhnya dilaksanakan ketika kelompok 4+1 dan AS memenuhi kewajiban JCPOA mereka," imbuh Vaezi.
"Jika Amerika dan pihak lain dalam JCPOA memenuhi komitmennya, maka Republik Islam Iran pasti akan kembali pada komitmennya," tandasnya.
Angkatan Bersenjata Iran Respon Ancaman Israel
Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran mengatakan, statemen kepala staf gabungan angkatan bersenjata rezim Zionis merupakan ilusi.
Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, seperti dilansir Iran Press, Rabu (27/1/2021) menambahkan pernyataan kepala staf gabungan angkatan bersenjata Israel tentang rencana penghancuran fasilitas nuklir dan pangkalan rudal Iran merupakan khayalan dan menunjukkan bahwa mereka belum memahami kekuatan militer Iran.
“Latihan kami baru-baru ini telah memperlihatkan sebagian dari kemampuan pertahanan Republik Islam, tetapi kemampuan kami memungkinkan untuk merespons tegas kesalahan sekecil apapun yang dilakukan rezim Zionis dan musuh,” tandasnya.
Sebelum ini, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Israel, Jenderal Aviv Kochavi mengklaim bahwa ia telah memerintahkan militer untuk menyusun rencana serangan ke Iran.
Iran Memasuki Fase Aktivitas Kuantum
Kepala Badan Energi Atom Iran, AEOI mengabarkan bahwa sekarang Iran sudah memasuki fase aktivitas kuantum.
Ali Akbar Salehi, Senin (25/1/2021) malam saat memamerkan uji coba ketiga transfer data dengan metode kuantum antara Milad Tower Tehran dan kantor AEOI, menegaskan bahwa Iran sekarang sudah memasuki fase aktivitas kuantum.
Ia menjelaskan, teknologi ini dapat digunakan di berbagai bidang di antaranya telekomunikasi, pertahanan, komunikasi antarbank, kedokteran, komputer, pengambilan gambar, kecerdasan buatan, sensor, jam atom, radar, dan lingkungan hidup.
Salehi menambahkan, secara umum di manapun dibutuhkan transfer data yang sudah dienskripsi, maka teknologi kuantum dapat digunakan di sana.
Menurut Kepala AEOI, Iran sudah memulai penelitian aktivitas kuantum ini sejak tahun 2017, dan dua tahun kemudian berkat kerja keras ilmuwan Iran, foton-foton yang saling terkait, berhasil diproduksi di Pusat Sains dan Teknologi Laser Nasional Iran.
"Sampai sekarang di Asia Barat belum ada negara yang melakukan uji coba ini. Di dunia hanya beberapa negara saja yang berhasil dalam aktivitas kuantum termasuk Austria, Amerika Serikat, Cina, Rusia, India, Inggris, dan Kanada, mereka menganggarkan dana besar dalam teknologi ini," imbuhnya.
Salehi menegaskan, Iran meski disanksi dan menjadi objek pembatasan luas di berbagai bidang, namun berhasil mengambil sejumlah langkah penting di bidang ini.
Iran akan Operasikan 1.000 Sentrifugal Canggih di Natanz
Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran, Behrouz Kamalvandi mengatakan kami akan memasang 1.000 sentrifugal IR-2M di reaktor Natanz dalam waktu tiga bulan.
"Hari ini kami memiliki banyak hal untuk dikatakan tentang pengayaan dan Iran sepenuhnya telah menguasai pengayaan uranium," ujarnya kepada wartawan, Kamis (28/1/2021).
"Kami tidak hanya berbicara tentang pengayaan, kami punya banyak prestasi di bidang radiofarmasi, yellow cake, dan produksi oksigen-18, dan kondisi kami baik di semua bidang," ungkapnya.
Kamalvandi menegaskan bahwa kami akan melaksanakan UU Aksi Strategis untuk Penghapusan Sanksi secara penuh.
"Kapasitas industri nuklir Iran tidak bisa dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini kami memiliki 17 kilogram cadangan uranium dengan kemurnian 20 persen," pungkasnya.
Pejabat Iran dan Taliban Bahas Dialog Damai Afghanistan
Sekjen Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Ali Shamkhani mengatakan strategi Amerika Serikat di Afghanistan adalah melestarikan perang dan pertumpahan darah.
Hal itu disampaikan Shamkhani dalam pertemuan dengan ketua delegasi politik Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar di Tehran, Rabu (27/1/2021) seperti dilaporkan IRIB.
"AS tidak mencari perdamaian dan keamanan di Afghanistan. Strategi negara itu adalah melanjutkan perang dan pertumpahan darah antara berbagai faksi Afghanistan," kata Shamkhani.
Amerika, lanjutnya, sedang memamerkan perundingan damai dengan maksud menggagalkan pembicaraan antara faksi-faksi Afghanistan sehingga mengesankan mereka sebagai pemicu instabilitas dan ketidakamanan.
Dia menekankan perlunya partisipasi semua kelompok etnis dalam menentukan masa depan Afghanistan secara damai, dan menyatakan bahwa Republik Islam Iran tidak akan pernah mengakui kelompok yang ingin berkuasa di Kabul lewat jalan perang.
Shamkhani juga meminta Taliban untuk bekerjasama dengan pemerintah Afghanistan demi mengatasi setiap kekacauan dan memerangi teroris Daesh.
Sementara itu, Mullah Abdul Ghani memaparkan perkembangan pembicaraan damai di Afghanistan dan menyinggung sikap inkonsisten Donald Trump dalam pelaksanaan kesepakatan damai.
"Kami tidak mempercayai AS dan kami akan memerangi kelompok manapun yang menjadi pasukan bayaran AS," tegasnya.
Dia juga menekankan pentingnya menjaga keamanan perbatasan Iran-Afghanistan, dan mengatakan bahwa semua suku harus berpartisipasi dan berperan untuk masa depan Afghanistan.
Delegasi politik Taliban tiba di Tehran pada Selasa kemarin dan disambut oleh para pejabat Kementerian Luar Negeri Iran.
Kiper Iran Terpilih Jadi Pemain Terbaik Liga AFC 2020
Hamed Lak, penjaga gawang tim Persepolis, Iran terpilih sebagai pemain terbaik Liga Champion AFC tahun 2020.
Situs Konfederasi Sepak Bola Asia, AFC (24/1/2021) merilis hasil jajak pendapat pemain terbaik Liga Champion Asia 2020.
Hamed Lak, kiper tim Persepolis Iran mendapatkan 47 persen suara dan terpilih sebagai pemain terbaik Liga Champion Asia 2020. Sementara Bashar Rasan, mantan gelandang Persepolis dengan 11 persen suara berada di peringkat ketiga.
Shoja Khalilzadeh, yang juga mantan pemain Persepolis berada di urutan ke-7 dengan 1 persen suara.(PH)