Catatan Jalan Ekologi
-
Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
Sekitar tahun 1988, setahun ketika saya baru memasuki dunia perikanan di Universitas Hasanuddin, saya mengambil mata kuliah Ekologi Perairan. Waktu itu kami praktik lapang di Pangkep, di tempat yang kini dikenal sebagai kawasan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep. Saya masih mahasiswa baru, belum sepenuhnya mengerti bahwa ekologi bukan hanya ilmu tentang hubungan organisme dengan lingkungannya, melainkan juga sebuah cara melihat dunia. Di sanalah, dalam udara pesisir Pangkep, di antara air, lumpur, plankton, tambak, dan percakapan dosen-dosen kami, saya pertama kali berkenalan dengan nama besar Howard T. Odum.
Odum bukan sekadar ahli ekologi sistem. Ia membuka jalan bagi saya untuk memahami bahwa ekonomi manusia sebenarnya tidak pernah berdiri sendiri. Ekonomi bukan mesin abstrak yang melayang di atas bumi. Ia berakar pada energi, air, tanah, cahaya matahari, organisme, sungai, laut, hutan, dan kemampuan alam untuk memulihkan dirinya. Dari Odum saya mulai mengerti sebuah gagasan yang kelak terus mengusik pikiran saya: kemakmuran tanpa pertumbuhan.
Istilah itu terdengar seperti paradoks. Bagaimana mungkin makmur tanpa tumbuh? Bukankah dunia modern mengajarkan bahwa kemakmuran identik dengan pertumbuhan ekonomi, angka produksi, konsumsi, perluasan pasar, investasi, gedung-gedung baru, jalan-jalan baru, tambang-tambang baru, pelabuhan-pelabuhan baru? Tetapi justru di situlah kritik ekologis Odum menjadi tajam. Pertumbuhan yang terus-menerus dalam dunia yang terbatas adalah ilusi. Ia seperti seseorang yang ingin terus menarik napas tanpa pernah mengembuskannya. Cepat atau lambat, tubuh akan runtuh.
Odum membedakan secara mendasar antara ekonomi yang berbasis keinginan dan ekonomi yang berbasis kebutuhan. Keinginan manusia hampir tidak terbatas. Ia dapat membiak tanpa ujung: rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih banyak, tambang yang lebih luas, konsumsi yang lebih cepat, hutan yang diubah menjadi uang, laut yang diubah menjadi komoditas, gunung yang dibelah menjadi angka dalam laporan investasi. Tetapi kebutuhan manusia sebenarnya terbatas: pangan yang layak, air yang bersih, udara yang sehat, tempat tinggal yang cukup, pendidikan, kesehatan, kebersamaan, rasa aman, dan makna hidup.
Ketika ekonomi dibangun di atas keinginan, ia menjadi rakus. Ia tidak pernah selesai. Ia selalu merasa kurang. Ia membuat bumi diperlakukan bukan sebagai rumah, melainkan sebagai gudang bahan baku. Hutan Papua ditebang bukan karena manusia sungguh-sungguh membutuhkan kehancuran hutan itu, tetapi karena keinginan kapitalistik telah menyamar sebagai pembangunan. Terumbu karang dirusak bukan karena manusia tidak bisa hidup tanpa merusaknya, tetapi karena hasrat ekonomi telah kehilangan rasa malu di hadapan kehidupan.
Sebaliknya, ekonomi berbasis kebutuhan mengajarkan kecukupan. Ia tidak anti-kemajuan. Ia tidak memuja kemiskinan. Ia tidak meminta manusia kembali ke gua. Tetapi ia bertanya dengan rendah hati dan kritis: kemajuan untuk siapa, dengan biaya apa, dan sampai batas mana? Pertanyaan itu sederhana, tetapi sering dihindari oleh peradaban modern. Sebab begitu pertanyaan itu diajukan, kita akan menyadari bahwa tidak semua yang disebut pembangunan benar-benar membangun. Ada pembangunan yang sesungguhnya pembongkaran. Ada kemajuan yang sebenarnya pengosongan. Ada pertumbuhan yang sebenarnya mempercepat kematian ekologis.
Di kemudian hari, gagasan kemakmuran tanpa pertumbuhan dipopulerkan kembali dalam wacana ekonomi ekologis modern, terutama melalui karya Tim Jackson, Prosperity Without Growth. Tetapi bagi saya, akar permenungan itu telah tertanam jauh lebih awal: dari Odum, dari ekologi perairan, dari pengalaman lapangan, dari percakapan dengan alam pesisir Sulawesi Selatan. Saya belajar bahwa alam tidak selalu mengajarkan ekspansi. Alam juga mengajarkan kedewasaan. Hutan tua tidak harus tumbuh secepat belukar muda, tetapi ia lebih stabil, lebih kompleks, lebih kaya relasi, lebih mampu menopang kehidupan. Ekosistem dewasa bukan ekosistem yang terus membesar tanpa batas, melainkan ekosistem yang makin efisien, makin berjejaring, makin hemat energi, makin pandai mendaur ulang, dan makin rendah menghasilkan limbah.
Dari titik itu, pikiran saya bergerak ke arah yang lebih jauh. Gagasan Odum tentang kemakmuran tanpa pertumbuhan mengingatkan saya kepada figur agung dalam sejarah Islam: Imam Ali bin Abi Thalib.
Ali adalah manusia besar yang tidak dibesarkan oleh kemewahan. Ia hidup dalam kebersahajaan yang hampir sulit dimengerti oleh manusia modern. Kekuasaan berada di tangannya, tetapi dunia tidak pernah berhasil memasuki hatinya. Ia bisa memerintah, tetapi tidak dikuasai oleh hasrat memiliki. Ia bisa mengatur negara, tetapi rohnya tetap merdeka dari kerakusan dunia. Dalam banyak riwayat, Ali digambarkan hidup sangat sederhana. Ia membuat sendiri rotinya. Bahkan roti itu dibungkus rapat, seolah-olah ia sedang mendidik dirinya sendiri: jangan membuka makanan kecuali ketika benar-benar membutuhkan. Jangan menjadikan makan sebagai pelampiasan keinginan. Jangan biarkan tubuh menyeret jiwa menjadi budak konsumsi.
Di sini, Imam Ali tampil bukan hanya sebagai tokoh spiritual, tetapi juga sebagai figur ekologis dalam makna terdalam. Ia mengajarkan bahwa keberlimpahan sejati bukan banyaknya benda yang kita kuasai, melainkan sedikitnya keinginan yang menguasai kita. Ia mengajarkan bahwa manusia yang merdeka bukan manusia yang dapat membeli apa saja, tetapi manusia yang tidak diperbudak oleh apa saja. Kebersahajaan Ali bukan kemiskinan. Ia adalah kemakmuran batin. Ia adalah ekonomi ruhani yang berbasis kebutuhan, bukan keinginan.
Pada tahun 2004, ketika menempuh studi doktoral, saya mendapat tugas untuk mengulas sebuah buku. Saya memilih karya Fritjof Capra, The Turning Point. saya memilihnya karena ia sudah saya baca di tahun 1990. Buku itu, dengan caranya sendiri, membuka lagi ingatan saya tentang kegelisahan lama: bahwa peradaban modern sedang mengalami krisis bukan hanya karena teknologi, politik, atau ekonomi, tetapi karena cara pandangnya terhadap realitas. Capra mengkritik paradigma mekanistik yang memandang dunia seperti mesin. Dalam paradigma itu, alam dipotong-potong, diukur, dieksploitasi, dan dikendalikan. Tetapi kehidupan bukan mesin. Kehidupan adalah jaringan. Ia relasional, dinamis, saling bergantung, dan tidak dapat dipahami hanya dengan logika dominasi.
Dari Capra saya belajar bahwa krisis ekologis berakar pada krisis kesadaran. Kita merusak alam karena kita terlebih dahulu salah memahami alam. Kita menganggap diri kita terpisah dari sungai, laut, hutan, ikan, terumbu karang, plankton, mangrove, dan tanah. Kita lupa bahwa manusia bukan penonton di luar ekosistem, melainkan simpul kecil di dalam jaringan besar kehidupan.
Namun sebelum itu, ketika saya belajar di University of Aarhus, Denmark, saya sudah lebih dahulu berjumpa dengan gagasan Warwick Fox tentang transpersonal ecology. Saya datang ke Aarhus untuk belajar ekotoksikologi perairan, sebuah bidang yang sangat ilmiah, sangat metodologis, penuh dengan paparan, dosis, respons organisme, pencemar, biomarker, dan kualitas air. Tetapi di sela-sela dunia laboratorium itu, saya menemukan bahwa ekologi tidak cukup hanya dibaca sebagai ilmu pengukuran. Ia juga harus dibaca sebagai ilmu perluasan diri.
Warwick Fox mengajarkan bahwa krisis ekologis muncul karena manusia terlalu sempit memahami dirinya. Diri manusia dipenjara dalam ego individual. Padahal diri sejati dapat meluas: dari aku menuju komunitas, dari komunitas menuju spesies lain, dari spesies lain menuju biosfer, bahkan menuju keseluruhan jaringan kehidupan. Ketika diri meluas, merusak alam bukan lagi tindakan terhadap sesuatu yang asing. Ia menjadi tindakan melukai diri sendiri.
Di titik inilah pengalaman saya mulai menyatu. Odum memberi saya dasar ekologis dan energi: bumi terbatas, ekonomi harus tunduk pada daya dukung alam. Capra memberi saya kritik terhadap paradigma mekanistik: kehidupan adalah jaringan, bukan mesin. Warwick Fox memberi saya perluasan kesadaran ekologis: diri manusia harus melampaui ego. Dan Mulla Sadra memberi saya fondasi metafisik: realitas bukan benda mati yang terpisah-pisah, melainkan gradasi wujud yang bergerak menuju kesempurnaan.
Dari Mulla Sadra, khususnya melalui filsafat transendennya, saya melihat bahwa alam bukan sekadar objek material. Alam adalah ayat. Alam adalah tanda. Alam adalah tajalli, penampakan bertingkat dari wujud. Karena itu, merusak alam bukan hanya kesalahan teknis dalam manajemen sumber daya. Ia adalah kegagalan ontologis. Ia adalah kesalahan dalam memahami keberadaan. Manusia yang merusak hutan, laut, sungai, dan terumbu karang bukan hanya melakukan kekeliruan ekologis, tetapi juga menunjukkan kemiskinan metafisik: ia tidak lagi mampu melihat kesucian dalam ciptaan.
Maka lahirlah sebuah gagasan yang saya sebut ekologi transenden. Ia bukan sekadar gabungan mekanis antara ekologi dan agama. Ia adalah usaha memahami alam sebagai sistem kehidupan, sebagai jaringan relasional, sebagai ruang perluasan diri, sekaligus sebagai tanda ilahi. Ekologi transenden menggabungkan batas-batas ekologis Odum, kesadaran sistemik Capra, perluasan diri Warwick Fox, metafisika wujud Mulla Sadra, dan kebersahajaan Imam Ali.
Dalam ekologi transenden, manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa mutlak atas alam. Manusia adalah penjaga. Tetapi penjagaan itu bukan sekadar tugas administratif. Ia adalah tugas spiritual. Manusia tidak boleh memperlakukan bumi sebagai benda mati, karena bumi adalah ruang amanah. Hutan bukan hanya stok kayu. Laut bukan hanya stok ikan. Terumbu karang bukan hanya objek wisata. Sungai bukan hanya saluran air. Mangrove bukan hanya lahan yang menunggu dikonversi. Semua adalah bagian dari tatanan wujud yang harus dihormati.
Dari sinilah saya melihat bahwa bumi Nusantara harus dibangun dengan paradigma kemakmuran tanpa pertumbuhan. Nusantara adalah negeri yang diberkahi dengan hutan tropis, laut luas, terumbu karang, mangrove, lamun, sungai, dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Tetapi berkah itu bisa berubah menjadi kutukan jika dikelola dengan nalar kapitalistik yang rakus. Atas nama pembangunan, hutan Papua dapat dibuka. Atas nama investasi, terumbu karang dapat dihancurkan. Atas nama pertumbuhan ekonomi, sungai dapat dicemari. Atas nama lapangan kerja, masyarakat adat dapat dipinggirkan. Atas nama kemajuan, alam dapat dibuat terluka.
Padahal yang kita butuhkan bukan pertumbuhan yang membesar tanpa batas, melainkan kemakmuran yang mendalam. Kita tidak perlu menjadi bangsa yang tampak kaya tetapi kehilangan hutan. Tidak perlu menjadi negara dengan angka pertumbuhan tinggi tetapi lautnya sakit. Tidak perlu membangun kota-kota yang megah jika desa, pesisir, pulau kecil, dan masyarakat adat kehilangan ruang hidup. Tidak perlu mengejar kemajuan kapitalistik jika harga yang harus dibayar adalah runtuhnya ekosistem.
Kemakmuran sejati bukan jumlah mall, tambang, jalan tol, atau kawasan industri. Kemakmuran sejati adalah ketika anak-anak dapat minum air bersih, nelayan masih menemukan ikan, petani masih mengenal tanahnya, masyarakat adat masih menjaga hutannya, terumbu karang masih menjadi rumah ikan, dan manusia tidak merasa harus merusak alam untuk merasa maju.
Dalam bahasa Imam Ali, kemakmuran adalah kemampuan menahan diri. Dalam bahasa Odum, kemakmuran adalah hidup sesuai batas energi dan daya dukung ekosistem. Dalam bahasa Capra, kemakmuran adalah kesadaran bahwa hidup adalah jaringan. Dalam bahasa Warwick Fox, kemakmuran adalah perluasan diri hingga mencakup alam. Dalam bahasa Mulla Sadra, kemakmuran adalah naiknya kualitas wujud manusia melalui kesadaran, bukan melalui penumpukan benda.
Maka mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya: berapa persen ekonomi tumbuh? Kita perlu bertanya lebih dalam: berapa banyak hutan yang masih berdiri? Berapa sehat sungai kita? Berapa jernih laut kita? Berapa kuat terumbu karang kita bertahan? Berapa banyak masyarakat lokal yang masih berdaulat atas tanah dan airnya? Berapa sedikit sampah yang kita hasilkan? Berapa adil distribusi kemakmuran? Berapa tenang jiwa manusia hidup di tengah dunianya?
Sebab pertumbuhan tanpa kebijaksanaan hanya mempercepat kerusakan. Pembangunan tanpa batas ekologis hanya memperindah jalan menuju jurang. Kemajuan tanpa ruh hanya menghasilkan benda-benda, tetapi kehilangan makna.
Nusantara memerlukan jalan lain: jalan kecukupan, jalan keseimbangan, jalan amanah. Kita perlu membangun ekonomi yang tidak menjadikan hutan sebagai korban pertama. Kita perlu membangun perikanan yang tidak menghancurkan laut. Kita perlu membangun industri yang tidak membunuh sungai. Kita perlu membangun kota yang tidak memutus hubungan manusia dengan tanah, air, dan langit. Kita perlu membangun universitas yang tidak hanya melahirkan tenaga kerja untuk pasar, tetapi juga penjaga kehidupan.
Itulah inti ekologi transenden: bukan menolak ilmu, bukan menolak teknologi, bukan menolak pembangunan, tetapi mengembalikan semuanya kepada martabat kehidupan. Ilmu harus menjaga. Teknologi harus merawat. Ekonomi harus mencukupkan. Politik harus melindungi. Agama harus membangunkan kesadaran bahwa alam bukan sekadar milik manusia, tetapi titipan Tuhan.
Dari Pangkep, dari Odum, dari Aarhus, dari Capra, dari Warwick Fox, dari Mulla Sadra, dan dari kebersahajaan Imam Ali, saya sampai pada satu keyakinan: masa depan bumi Nusantara tidak boleh diserahkan kepada ekonomi keinginan. Ia harus dibangun di atas ekonomi kebutuhan. Bukan kemakmuran yang tumbuh dengan menebang. Bukan kemajuan yang berdiri di atas karang yang mati. Bukan pembangunan yang mengusir masyarakat adat dari rumah ekologisnya.
Kita membutuhkan kemakmuran yang lebih hening, tetapi lebih dalam. Kemakmuran yang tidak bising oleh angka, tetapi nyata dalam air yang bersih, hutan yang utuh, laut yang sehat, pangan yang cukup, masyarakat yang adil, dan manusia yang tidak kehilangan jiwanya.
Sebab pada akhirnya, bumi tidak meminta kita menjadi kaya dengan merusaknya. Bumi hanya meminta kita menjadi cukup bijaksana untuk hidup bersamanya.[]