Makam, Buku dan Haji
https://parstoday.ir/id/news/opini-i190434-makam_buku_dan_haji
Purkon Hidayat, Futuris Global Selatan, Direktur Indonesian Futurist Institute
(last modified 2026-05-26T04:49:02+00:00 )
May 26, 2026 11:46 Asia/Jakarta
  • Purkon Hidayat, Futuris Global Selatan, Direktur Indonesian Futurist Institute
    Purkon Hidayat, Futuris Global Selatan, Direktur Indonesian Futurist Institute

Purkon Hidayat, Futuris Global Selatan, Direktur Indonesian Futurist Institute

Sekitar selemparan batu dari makam seorang sufi perempuan, Sayidah Maksumah yang berada tepat di jantung kota Qom, sebuah papan besar bertuliskan bahasa Farsi menyita perhatian saya, "Marghad Motahar va Ketab khoneh Umumi Ayatollah Uzma Marashi Najafi, Makam yang Mulia dan Perpustakaan Umum Ayatullah Udzma Marasyi Najafi".

Makam dan perpustakaan, dua terma yang menggendor pikiran saya ketika memasuki tempat yang ditunjuk dalam papan itu pertama kali mengunjunginya sekitar dua dekade lalu.

Memasuki pintu bangunan, sebuah makam dengan penutup besi disinari lampu berwarna hijau terang seperti menyambut kedatangan para tamu yang hendak mengunjungi perpustakaan. Menatap kitab-kitab yang berjejer rapi, terutama kitab tulisan tangan yang sebagian dipajang tertutup kaca etalase melecut pikiran saya untuk bertanya, "Bagaimana sang ulama ini bisa mengumpulkan buku begitu banyak?"

Sambil melihat-lihat deretan buku dengan rasa takjub, saya mencoba menebak sendiri pertanyaan liar yang tiba-tiba muncul di kepala seketika itu. "Mungkin saja, posisi beliau sebagai ulama otoritatif dengan mudah memperoleh dukungan dari masyarakat untuk membiayai proyek intelektualnya, bahkan bisa jadi dari negara". Tapi dugaan saya keliru. Sebagian buku-buku itu dibeli sendiri oleh Ayatullah Marasyi sejak masih muda dengan "berdarah-darah".

Pendirian perpustakaan ini lahir dari motivasi luhur sang ulama, sebagaimana dalam penuturannya sendiri ketika masih hidup, “Suatu hari, saya melewati pasar Qaisaria di Najaf dan melihat beberapa orang para pencari ilmu berkumpul di suatu tempat. Di sana, saya melihat seseorang berdiri membawa tongkat dengan membawa banyak uang untuk membeli buku dari orang-orang yang ada di sana dengan cara lelang. Saya bertanya siapa orang ini? Mereka menjawab, "Dia adalah wakil dari konsulat Inggris di Baghdad,".

Dari peristiwa itu, Marasyi muda tahu bahwa buku-buku itu dibeli oleh perwakilan salah satu negara Eropa untuk kepentingannya sendiri. Dari sana, ia mencium aroma skenario imperialisme budaya yang dijalankan secara halus untuk menghilangkan warisan karya para ulama terdahulu.

Sejak itu, Sayid Marasyi mengumpulkan seluruh uangnya untuk membeli banyak kitab, terutama kitab tulisan tangan yang langka hingga bertahun-tahun lamanya. Perjuangannya yang tidak mudah. Demi buku, beliau rela mengurangi biaya makan hariannya. Tidak hanya itu, Marasyi juga menunaikan shalat istijarah, dan bekerja di sebuah pabrik penggilingan gandum di Najaf. Tujuannya hanya satu, bagaimana menyelamatkan warisan berharga karya para ulama terdahulu supaya tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Kini, perpustakaan umum Ayatullah Marasyi Najafi menjadi salah satu perpustakaan penting di Iran, bahkan dunia. Di perpustakaan ini terdapat lebih dari 31.000 manuskrip tulisan tangan tentang berbagai isu studi Islam dari masalah fiqh dan ushul fiqh, kalam, logika dan filsafat, tasawuf, hadits, dan lainnya yang sekitar 65 persen ditulis dalam bahasa Arab, dan sisanya dalam bahasa Persia, Turki, Urdu, dan bahasa lain. Selain studi Islam, terdapat Alkitab dalam aksara Latin, dan salinan kitab Avesta dalam aksara Pahlavi.

Perpustakaan Ayatullah Marasyi juga menyimpan perbendaharaan lebih dari 100.000 manuskrip surat kuno di era Islam, termasuk keputusan raja, pangeran, penguasa, perjanjian, dan sebagainya.

Warisan Ayatullah Marasyi tidak hanya perpustakaan, tapi juga buku karyanya sendiri, yang berjumlah 150 buku dan artikel. Tidak hanya itu, beliau mencurahkan perhatian besar terhadap berbagai aktivitas sosial seperti mendirikan sekolah hingga membiayai pembangunan rumah sakit di kota Qom. Ia juga melahirkan begitu banyak murid yang menjadi ulama terkemuka seperti Ayatullah Muthahhari, Syahid Behesti, Syahid Mofatih, Sayid Musa Sadr dan lainnya.

Sejak berpindah dari Najaf ke Qom, Ayatullah Marasyi sangat jarang bepergian, bahkan beliau hingga akhir hayatnya tidak sempat menunaikan ibadah haji.

Suatu hari, sang Ayatullah ditanya alasan mengapa tidak menunaikan ibadah Haji, beliau menjawab, "Pertama, saya secara pribadi tidak mampu (secara ekonomi).Semua uang yang ada dalam kendali saya ini milik umat, bukan milik saya, yang bisa digunakan untuk kepentingan pribadi. Kedua, banyak orang yang lebih membutuhkan bantuan ekonomi. Jika saya pergi, maka saya tidak bisa membantu mereka."

Sebagai ulama otoritatif yang memiliki pengaruh luas di tengah masyarakat ketika itu, tentu saja tidak sulit bagi beliau untuk mendapatkan dana demi menunaikan ibadah haji. Sebab ketika beliau masih hidup, tidak sedikit yang menawarkan dana untuk beliau gunakan menunaikan ibadah haji, tapi beliau tolak dan menyarankan dana itu dipergunakan untuk kepentingan umat, seperti mendirikan sekolah, maupun membantu biaya rumah sakit.

Meskipun posisinya sebagai ulama tradional yang memimpin shalat jamah, mengajar studi Islam dan memberikan fatwa, tapi pergaulan Ayatullah Marasyi yang luas dengan berbagai kalangan, termasuk tokoh dari agama lain menjadikannya sebagai tokoh Muslim yang memiliki visi besar.

Ulama Irak yang dimakamkan di kota Qom, Iran ini sejak muda memiliki perhatian besar terhadap kondisi umat Islam dan dunia ketiga, terutama kondisi pendidikan dan sosialnya. Baginya, imperialisme sebagai masalah yang perlu dilawan dengan caranya sendiri melalui gerakan kebudayaan. Pendidikan dan literasi sebagai bagian penting di dalamnya.

Sebagaimana pandangan Rabindranath Tagore yang pernah ditemuinya, Ayatullah Marasyi meyakini kebudayaan sebagai gerakan perlawanan terhadap imperialisme. Meskipun keduanya memiliki cara yang berbeda, tapi mereka dipertemukan pada aspek pendidikan dan pemberdayaan umat. Tagore dengan Shantiniketan yang mempengaruhi banyak gerakan sosial di dunia, termasuk Ki Hadjar Dewantara dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa, Marasyi dengan Hauzah dan perpustakaannya.

Ulama ini percaya, buku sebagai motor yang mengubah sejarah dunia dan peradaban dibangun dari sana. Maka langkah yang dilakukannya adalah mendirikan perpustakaan dari buku-buku yang dia beli dengan keringatnya sendiri.

Sebagai ulama, Ayatullah Marasyi meyakini kehidupan umat harus didahulukan di atas kepentingan pribadinya. Bahkan, beliau menempatkan ibadah haji sebagai bagian dari urusan pribadi yang akan ditunaikan setelah kepentingan umat dilaksanakan terlebih dahulu. Mereka, orang-orang yang sudah Itsar, berkorban dengan mengedepankan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.

Khawajah Abdullah Ansari dalam kitab Manazil Al-Sairin menempatkan Itsar sebagai tingkatan ke-36 dari perjalanan yang harus ditempuh oleh pesuluk. Jalan ini juga ditempuh para sufi besar seperti Bayazid Bustami yang diceritakan Fariduddin Attar Nishaburi dalam Tazkirah Awliya, dan Jalaluddin Rumi dalam Divan-e Shams pada ghazal ke-648.

Wahai kafilah haji, ke mana engkau akan pergi, yang kau cinta ada di sini

Ia begitu dekat, melekat di dinding hatimu, usah berpayah di gurun pasir

Jika kau mampu menangkap gambaran cinta, engkaulah kabah itu sendiri

Sepuluh kali telah kau kunjungi Kabah, sekali ini saja kau ziarahi diri

Kabah adalah rumah cinta-Nya, jika benar kau telah lihat, tunjukan jejak cinta ini

Mana bunga yang kau petik dari taman, mana permata dari lautan rahmat Ilahi

Dengan segala kepayahan yang kau lewati, harta karun itu masih saja terhalang tabir

Ayatullah Marasyi dengan buku dan perpustakaannya, juga Rumi dengan ceritanya tentang Bayazid Bustami yang tidak bisa pergi haji, menunjukkan pesan yang masih relevan hingga kini. Pengabdian pada sesama sebagai kunci, karena inti haji adalah itsar. Lebih dari itu, dalam konteks Futures Studies, peradaban dibangun bukan hanya oleh mereka yang bepergian jauh, tetapi oleh mereka yang menjaga ilmu, nilai, dan makna untuk generasi mendatang.