Membangun Ketahanan Peradaban Islam melalui Warisan Budaya
Oleh: Abdullah Assegaf, Dosen Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya.
Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, tantangan yang dihadapi umat Islam tidak lagi terbatas pada aspek politik, ekonomi, maupun keamanan. Persaingan peradaban dewasa ini berlangsung melalui ruang-ruang budaya, media, pendidikan, dan pembentukan opini publik. Oleh karena itu, ketahanan budaya menjadi salah satu fondasi terpenting bagi masa depan peradaban Islam.
Dalam konteks tersebut, warisan pemikiran Ayatullah Sayid Ali Khamenei layak mendapat perhatian sebagai salah satu kontribusi penting dalam diskursus tentang pembangunan peradaban Islam. Salah satu kekuatan utama kepemimpinan beliau terletak pada kemampuannya memandang kebudayaan bukan sekadar simbol identitas, melainkan sebagai instrumen strategis untuk menjaga martabat, kemandirian, dan keberlanjutan suatu bangsa.
Ayatullah Khamenei secara konsisten mengingatkan bahwa masa depan umat Islam tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer ataupun kemampuan ekonomi. Tampaknya, yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan umat dalam mempertahankan identitas, memperkuat tradisi keilmuan, serta menjaga nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi peradaban Islam.
Pandangan tersebut menjadi semakin relevan ketika berbagai bentuk dominasi modern semakin banyak dijalankan melalui apa yang sering disebut sebagai soft war atau perang lunak. Pengaruh budaya, media digital, industri hiburan, hingga sistem pendidikan telah menjadi instrumen yang mampu membentuk cara berpikir masyarakat tanpa harus menggunakan kekuatan fisik. Karena itu, pembangunan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, penguatan literasi media, dan pengembangan intelektual harus menjadi prioritas utama.
Pada saat yang sama, salah satu warisan penting dari pemikiran Ayatullah Khamenei adalah penekanannya terhadap ukhuwah Islamiyah. Keragaman mazhab, etnis, maupun latar belakang budaya di dunia Islam semestinya dipandang sebagai kekayaan intelektual yang memperkuat peradaban, bukan sebagai alasan untuk mempertajam perpecahan. Dialog, saling menghormati, dan kerja sama antarkomunitas Muslim merupakan prasyarat bagi lahirnya peradaban Islam yang kuat dan berdaya saing.
Lebih jauh lagi, pembangunan peradaban tidak berarti menolak modernitas. Justru sebaliknya, masyarakat Muslim perlu terus membuka diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, dan kemajuan sains. Namun, keterbukaan tersebut harus tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman serta jati diri peradaban yang telah diwariskan selama berabad-abad. Kemajuan tidak boleh dibayar dengan hilangnya identitas.
Dalam perspektif ini, budaya merupakan fondasi strategis bagi terwujudnya keadilan, kehormatan, kemandirian, dan kebangkitan kembali peradaban Islam. Pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, dialog antarperadaban, dan penguatan kepercayaan diri budaya menjadi elemen yang tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.
Warisan pemikiran Ayatullah Sayid Ali Khamenei, terlepas dari berbagai dinamika politik yang menyertainya, menawarkan ruang refleksi mengenai bagaimana masyarakat Muslim dapat melangkah menuju kemajuan tanpa kehilangan akar spiritual, identitas keagamaan, dan warisan peradabannya. Tampaknya, inilah salah satu pelajaran yang tetap relevan untuk didiskusikan dalam upaya membangun masa depan peradaban Islam yang lebih kokoh, mandiri, dan berkeadaban.