Iring-Iringan Pemakaman yang Menjadi Deklarasi Sebuah Bangsa
https://parstoday.ir/id/news/opini-i192628-iring_iringan_pemakaman_yang_menjadi_deklarasi_sebuah_bangsa
Oleh: Mohd Azmi Abdul Hamid, Presiden Majelis Permusyawaratan Organisasi Islam Malaysia (MAPIM)
(last modified 2026-07-06T05:04:03+00:00 )
Jul 06, 2026 11:48 Asia/Jakarta
  • Iring-Iringan Pemakaman yang Menjadi Deklarasi Sebuah Bangsa

Oleh: Mohd Azmi Abdul Hamid, Presiden Majelis Permusyawaratan Organisasi Islam Malaysia (MAPIM)

Hari ini, 6 Juli 2026, sejarah menjadi saksi salah satu iring-iringan pemakaman terbesar pada zaman kita. Sejak dini hari, jutaan rakyat Iran memadati jalan-jalan Teheran. Mereka datang dari setiap provinsi, setiap generasi, dan setiap lapisan masyarakat. Para lansia yang bertumpu pada tongkat, para ibu yang menggendong bayi, para mahasiswa yang berselimut bendera nasional, para veteran perjuangan masa lalu, para pekerja, cendekiawan, ulama, dan warga biasa semuanya menyatu menjadi satu arus besar kemanusiaan.

Ini bukan sekadar sebuah pemakaman. Ini adalah sebuah bangsa yang berbicara dengan satu suara. Ini adalah mereka yang hidup mengusung kenangan terhadap mereka yang telah tiada, sambil memperbarui ikrar terhadap cita-cita yang diperjuangkannya.

Jalan-jalan Teheran menjadi lebih dari sekadar tempat berkabung. Jalan-jalan itu menjadi jalan kesaksian. Setiap air mata menyatakan kesetiaan. Setiap tangan yang terangkat menyatakan keteguhan. Setiap lantunan seruan menggema sebagai penolakan sebuah bangsa untuk menyerahkan martabatnya. Mereka yang membayangkan bahwa pembunuhan akan melemahkan Iran justru menyaksikan hal yang sebaliknya.

Kesyahidan tidak pernah menghancurkan suatu bangsa yang identitasnya berakar pada keimanan. Sebaliknya, kesyahidan sering kali menjadi kekuatan yang mempersatukan mereka. Yang menyatukan rakyat Iran bukanlah rasa takut. Bukan pula kepentingan politik sesaat.Melainkan kesadaran peradaban yang dibentuk oleh Islam, diperkuat oleh pengorbanan, dipupuk oleh kemandirian, dan ditopang oleh keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa martabat tidak pernah dapat ditawar.

Selama beberapa dekade, Iran telah menghadapi sanksi, ancaman, isolasi, tekanan ekonomi, dan konfrontasi militer. Namun setiap ujian telah melahirkan ketangguhan yang lebih besar. Setiap upaya untuk mengisolasi bangsa itu justru memperdalam solidaritas internalnya. Setiap syuhada menginspirasi generasi berikutnya. Iring-iringan pemakaman ini mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada dunia.

Kepemimpinan dapat dibunuh. Gagasan tidak dapat dibunuh. Individu mungkin telah tiada. Tapi prinsip-prinsipnya tetap hidup. Tidak ada kekuatan militer yang mampu menghancurkan sebuah bangsa yang kekuatan terbesarnya berada di dalam hati rakyatnya.

Iring-iringan hari ini menunjukkan bahwa Iran tidak sedang menjadi lebih lemah. Iran justru tampil lebih kuat karena persatuan yang ditempa melalui pengorbanan tidak mudah dipatahkan. Gambaran yang akan terukir dalam sejarah adalah lautan kepalan tangan yang terangkat.

Kepalan tangan sang syahid. Sebuah kepalan tangan yang tidak lagi hanya menjadi milik seorang pemimpin. Ia telah menjadi kepalan tangan jutaan orang. Sebuah kepalan tangan yang terangkat bukan semata-mata karena kemarahan, melainkan karena tekad. Bukan sebagai simbol kebencian, melainkan perlawanan terhadap ketidakadilan. Bukan untuk menaklukkan orang lain, melainkan untuk mempertahankan martabat. Ia menyatakan kepada setiap penindas:

Kalian mungkin bisa menghancurkan bangunan. Kalian juga bisa membungkam suara. Kalian bisa melenyapkan para pemimpin. Namun kalian tidak akan pernah mampu memadamkan suatu bangsa yang imannya telah mengubah kesyahidan menjadi kemenangan moral.

Ada pula pelajaran yang sangat mendalam bagi umat Islam. Pemakaman di Teheran bukan hanya momen bagi Iran. Ia adalah cermin yang memantulkan kondisi dunia Islam. Ketika musuh-musuh kita mengoordinasikan strategi di berbagai benua, terlalu sering umat Islam justru tetap terpecah oleh perselisihan mazhab, persaingan etnis, kompetisi politik, dan kepentingan nasional yang sempit.

Tantangan terbesar kita bukanlah keberagaman yang Allah ciptakan di antara kita. Tantangan terbesar kita adalah ketidakmampuan kita mengubah keberagaman itu menjadi kekuatan bersama. Umat Islam kini harus mengubah arah. Kita harus melampaui slogan-slogan emosional menuju persatuan sejati yang berlandaskan keadilan, saling menghormati, musyawarah, dan tanggung jawab bersama.

Persatuan tidak menuntut keseragaman. Persatuan menuntut komitmen bersama untuk membela kebenaran, melindungi mereka yang tertindas, dan menjaga kehormatan umat. Masa depan bukan milik masyarakat yang terpecah-pecah, melainkan milik mereka yang menemukan kekuatan dalam berdiri bersama.

Iring-iringan pemakaman di Teheran mengingatkan kita bahwa ketika iman mempersatukan hati, jutaan orang menjadi satu tubuh. Barangkali hari yang bersejarah ini akan menjadi lebih dari sekadar bab penutup perjalanan seorang pemimpin di dunia. Barangkali ia akan menjadi bab pembuka bagi kebangkitan Islam yang diperbarui.

Semoga Allah mempersatukan hati kita. Semoga Dia menguatkan setiap bangsa yang berdiri untuk keadilan. Semoga Dia memuliakan mereka yang berkorban demi kebenaran. Semoga Dia membangkitkan dalam diri umat ini keberanian untuk bangkit bersama sebelum sejarah bertanya mengapa kita tetap terpecah.

Kepalan Tangan Sang Syahid

Jalan-jalan menjadi sungai,Sungai menjadi bangsa,Bangsa menjadi doa. Sebuah peti jenazah melintas dalam keheningan,Namun jutaan orang menemukan suara mereka. Tak ada pedang yang mampu memutus keyakinan,Tak ada rudal yang mampu mengubur harapan,Tak ada kubur yang mampu memenjarakan sebuah cita-cita. Dari setiap air mata lahir keteguhan.Dari setiap detak jantung lahir kenangan.Dari setiap kepalan tangan yang terangkat lahir sebuah janji.

Sang syahid telah gugur,Namun panji itu tetap berkibar. Jejak langkahnya telah terhenti, Namun tak terhitung banyaknya langkah kini melanjutkan perjalanan. Wahai Tuhan Yang Maha Melindungi orang-orang yang tertindas,Satukanlah umat yang terluka ini dalam satu hati. Jadikanlah perbedaan kami sebagai kebijaksanaan,Bukan perpecahan. Jadikanlah iman sebagai kekuatan kami,Keadilan sebagai perisai kami, Dan keridaan-Mu sebagai kemenangan kami. Sebab ketika para syuhada kembali kepada Tuhan mereka,Bangsa-bangsa yang dibangunkan oleh pengorbanan