Jembatan Batin Megawati: Sukarno dan Khamenei
Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
Di tengah suasana duka prosesi pemakaman Sayid Ali Khamenei muncul statemen Megawati Soekarnoputri tentang adanya "jembatan batin" antara Indonesia dan Iran.
Tampaknya, ungkapan itu tidak terdengar sebagai retorika diplomasi. Ia hadir sebagai bahasa kebudayaan dan Sejarah. Sebuah metafora yang lahir dari kedalaman pengalaman peradaban, bukan dari ruang perundingan atau kepentingan politik sesaat.
Jembatan batin tidak dibangun oleh beton, baja, ataupun kontrak ekonomi. Ia bertumpu pada memori kolektif, pertukaran gagasan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai yang mampu melintasi batas negara dan zaman. Ketika Megawati mengetahui bahwa Pancasila dan semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung pernah menjadi salah satu inspirasi dalam perjalanan sejarah Republik Islam Iran, yang ia tangkap bukan sekadar fakta hubungan antarnegara. Mega melihat adanya denyut nilai yang saling berjumpa dan saling menguatkan.
Sesungguhnya, hubungan Indonesia dan Persia jauh lebih tua daripada hubungan diplomatik modern. Berabad-abad sebelum paspor dan visa dikenal, para ulama, saudagar, penyair, dan pengembara telah menghubungkan kedua kawasan melalui jalur perdagangan, keilmuan, dan spiritualitas. Jejak itu masih dapat ditemukan pada tokoh-tokoh seperti Fatimah binti Maimun di Gresik maupun Syekh Syamsuddin Al-Wasil di Kediri. Mereka datang bukan membawa penaklukan, melainkan ilmu, adab, dan kebijaksanaan.
Hubungan itu tidak berhenti pada mobilitas manusia. Ia juga hidup dalam pertukaran gagasan. Tradisi tasawuf, sastra Persia, konsep hikmah, hingga etos keilmuan Islam memberi warna pada perkembangan intelektual Nusantara. Karena itu, ketika Mega menggunakan istilah "jembatan batin", sesungguhnya beliau sedang merangkum sebuah sejarah panjang yang tidak selalu tercatat dalam dokumen diplomatik, tetapi hidup dalam ingatan peradaban. Jembatan itu menghubungkan dua bangsa melalui nilai, bukan sekadar kepentingan.
Dalam konteks itu, menarik pula merenungkan salah satu kata penting dalam sila keempat Pancasila: hikmat. Kata ini memiliki akar yang kuat dalam tradisi intelektual Islam yang berkembang melalui bahasa Arab dan Persia. Hikmat bukan hanya kecerdasan berpikir, melainkan kebijaksanaan yang lahir dari perpaduan akal, pengalaman, dan keluhuran moral. Kesamaan ini menunjukkan bahwa dialog antarkebudayaan sering kali berlangsung jauh sebelum negara-negara modern berdiri.
Karena itulah, jembatan batin tidak pernah dapat diukur dengan statistik. Nilainya tidak tercermin dalam angka perdagangan atau kunjungan kenegaraan. Ia hidup dalam warisan pemikiran lintas generasi; dalam karya para ulama, filsuf, penyair, dan pedagang yang menjadikan samudra sebagai ruang perjumpaan.
Bagian yang paling menyentuh dari pidato Megawati ketika ia menggambarkan Sayid Ali dengan satu kata sederhana: teguh. Keteguhan bukan berarti tidak pernah lelah atau terluka, melainkan kemampuan untuk tetap berdiri ketika tekanan datang dari segala arah. Cara Mega mengucapkan kata itu memperlihatkan empati terhadap perjalanan panjang seorang tokoh yang dipandang mengabdikan hidupnya bagi keyakinan dan prinsip yang diyakininya.
Di tengah dunia yang semakin sering memaknai hubungan antarbangsa semata-mata sebagai transaksi ekonomi atau kalkulasi geopolitik, ungkapan "jembatan batin" menghadirkan perspektif yang berbeda. Bangsa dapat berbeda bahasa, budaya, bahkan sistem politik, tetapi tetap dipertemukan oleh penghormatan terhadap martabat manusia, keberanian menjaga prinsip, dan pencarian bersama akan keadilan.
Mungkin di situlah makna terdalam dari jembatan batin. Ia memang tidak tampak pada peta dunia, tetapi nyata dalam sejarah peradaban. Dengan satu frasa sederhana, Mega berhasil merangkum lembaran-lembaran panjang sejarah Indonesia dan Persia. Ungkapan itu bukan sekadar pilihan kata yang puitis, melainkan sintesis atas hubungan dua peradaban yang dipersatukan oleh ilmu, kebudayaan, dan hikmat. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa dalam dua kata itu, Mega berhasil mengartikulasikan apa yang selama ini diuraikan oleh begitu banyak buku sejarah, kebudayaan, dan politik.