Burnout di Kampus
Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
Ada masa ketika kekuasaan berbicara dengan suara keras. Seorang atasan memerintah, seorang pekerja menaati. Ada jam kerja yang ditentukan, target yang dipaksakan, dan hukuman yang menunggu di ujung kegagalan. Dalam dunia semacam itu, manusia tahu dari mana tekanan datang. Ia dapat menunjuk seseorang, sebuah lembaga, atau sebuah sistem sebagai sumber penindasan.
Kini, kekuasaan tidak selalu datang dengan bentakan. Ia hadir sebagai kalimat yang terdengar ramah.
“Kamu pasti bisa.”
“Jangan cepat puas.”
“Teruslah berkembang.”
“Jadilah versi terbaik dari dirimu.”
Tak ada ancaman dalam kalimat-kalimat itu. Tetapi justru karena itulah ia lebih sulit ditolak. Manusia modern tidak merasa sedang dipaksa. Ia merasa sedang memilih. Ia bekerja lebih lama, menerima lebih banyak tugas, mengejar lebih banyak capaian, lalu mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa semua itu merupakan jalan menuju keberhasilan.
Byung-Chul Han menyebut perubahan ini sebagai peralihan dari masyarakat disiplin menuju masyarakat prestasi. Dalam masyarakat disiplin, manusia diatur oleh larangan: jangan terlambat, jangan membantah, jangan meninggalkan pekerjaan. Dalam masyarakat prestasi, larangan diganti dengan kemungkinan: Anda mampu, Anda bebas, Anda dapat melakukan apa saja.
Namun, kebebasan itu ternyata menyimpan paradoks.
Ketika seseorang diyakinkan bahwa ia dapat melakukan segalanya, kegagalan tidak lagi dianggap sebagai akibat dari keterbatasan sistem. Kegagalan menjadi kesalahan pribadi. Jika target tidak tercapai, ia menyalahkan dirinya. Jika kariernya tidak berkembang, ia merasa kurang rajin. Jika tubuhnya jatuh sakit, ia menganggap dirinya tidak cukup kuat.
Di situlah manusia berubah menjadi pengawas sekaligus tahanan bagi dirinya sendiri.
Kampus juga mengenal perubahan itu.
Seorang dosen mungkin memasuki dunia akademik karena mencintai ilmu. Ia ingin membaca dengan tenang, mengajar dengan kesungguhan, melakukan penelitian, serta menulis sesuatu yang dapat memperluas pengetahuan manusia. Tetapi perlahan-lahan, pekerjaan akademik berubah menjadi deretan angka.
Berapa artikel yang diterbitkan tahun ini?
Berapa sitasi yang diperoleh?
Berapa hibah yang dimenangkan?
Berapa mahasiswa yang dibimbing?
Berapa laporan yang telah diunggah?
Pertanyaan-pertanyaan itu tentu tidak seluruhnya keliru. Lembaga memerlukan ukuran, pertanggungjawaban, dan bukti kinerja. Namun, masalah muncul ketika ukuran berhenti menjadi alat dan berubah menjadi tujuan. Artikel tidak lagi lahir terutama karena ada persoalan ilmiah yang hendak dijawab, tetapi karena ada kolom kinerja yang harus diisi.
Dosen kemudian terus menulis. Ia mengirim artikel sambil memperbaiki proposal. Ia memeriksa tesis di antara rapat. Ia mengajar sambil memikirkan tenggat laporan. Bahkan ketika berada di rumah, pikirannya masih tinggal di kampus. Tubuhnya telah pulang, tetapi pekerjaannya ikut masuk ke ruang keluarga, ke meja makan, bahkan ke tempat tidur.
Tidak ada atasan yang terus-menerus memegang cambuk di belakangnya. Ia sendiri yang menggerakkan cambuk itu.
Dalam pandangan Byung-Chul Han, eksploitasi semacam ini lebih efektif daripada penindasan lama. Seorang pekerja yang ditindas oleh orang lain masih dapat memberontak. Tetapi bagaimana seseorang akan memberontak ketika penindas itu berada di dalam dirinya sendiri? Ia adalah majikan sekaligus buruh, pemenang sekaligus korban.
Burnout lahir dari keadaan itu.
Ia bukan sekadar lelah setelah bekerja. Kelelahan biasa dapat pulih melalui tidur dan istirahat. Burnout lebih dalam. Ia adalah saat ketika seseorang masih mampu bergerak, tetapi tidak lagi merasakan makna dari gerakannya. Seorang dosen masih mengajar, masih menulis, masih menghadiri seminar, tetapi ada sesuatu yang perlahan padam. Ilmu yang dahulu terasa sebagai jalan pembebasan berubah menjadi beban administratif. Tulisan ilmiah yang dahulu lahir dari rasa ingin tahu berubah menjadi barang produksi.
Akademisi akhirnya hidup dalam kecepatan. Ia harus segera membaca, segera menulis, segera menerbitkan. Padahal ilmu tidak selalu tumbuh dalam kecepatan. Ada gagasan yang memerlukan kesunyian bertahun-tahun. Ada pertanyaan yang harus dibiarkan mengendap. Ada penelitian yang gagal dan justru membuka jalan bagi pengetahuan baru.
Tetapi masyarakat prestasi tidak menyukai jeda. Jeda dianggap ketidakproduktifan. Diam dianggap kemalasan. Merenung sulit dimasukkan ke dalam laporan tahunan.
Barangkali karena itu kita perlu bertanya kembali: untuk apa universitas dibangun؟
Universitas bukan pabrik artikel. Dosen bukan mesin sitasi. Ilmu tidak selalu dapat diukur dari jumlah keluaran yang dihasilkan dalam satu tahun anggaran. Sebuah tulisan yang lahir perlahan, tetapi mengubah cara orang memahami dunia, mungkin lebih berharga daripada puluhan artikel yang segera dilupakan.
Persoalannya bukan bahwa dosen tidak boleh produktif. Persoalannya ialah ketika produktivitas menjadi satu-satunya bahasa untuk menilai kehidupan akademik. Pada titik itu, manusia dinilai bukan berdasarkan kedalaman pikirannya, melainkan berdasarkan kecepatan produksinya.
Mungkin perlawanan terhadap burnout harus dimulai dari keberanian mengakui batas. Bahwa tubuh memiliki hak untuk berhenti. Pikiran membutuhkan ruang kosong. Dan ilmu, seperti benih, tidak selalu tumbuh karena terus-menerus dipaksa.
Kadang-kadang ia justru tumbuh dalam keheningan.