Bantuan Senjata AS ke Israel Terhambat: Krisis Anggaran, Politik, dan Persediaan
-
Helikopter AH-64E Apache
Pars Today - Berbagai laporan menunjukkan adanya berbagai penundaan dalam pengiriman senjata Amerika ke rezim Zionis karena berbagai alasan.
Melansir Pars Today, Selasa, 22 September 2026, harian Jerusalem Post dalam sebuah laporan mengumumkan bahwa kontrak pembelian helikopter AH-64E Apache antara rezim Zionis dan Amerika belum dibatalkan, tetapi karena keterlambatan Kementerian Keuangan Zionis ini dalam membayar 15 miliar shekel, kontrak tersebut berada dalam risiko penundaan serius. Jika tren ini berlanjut, Israel mungkin kehilangan posisinya dalam lini produksi yang dapat menunda pengiriman helikopter selama beberapa tahun dan meningkatkan biaya pembelian.
Di bidang amunisi, Senator Jeanne Shaheen, Demokrat paling senior di Komite Hubungan Luar Negeri Senat, dan Anggota Kongres Gregory Meeks, Demokrat paling senior di Komite Hubungan Luar Negeri DPR, secara terpisah memberlakukan penghentian sementara atas penjualan senjata senilai 2,8 miliar dolar ke rezim Zionis yang mencakup 40 ribu bom seberat satu ton. Perusahaan Boeing juga telah menandatangani kontrak senilai 289 juta dolar untuk pengiriman hingga 5.000 bom pintar baru ke rezim Zionis, tetapi pengiriman senjata ini tidak akan dimulai hingga 36 bulan ke depan.
Di bidang jet tempur juga, kesepakatan penjualan 50 unit jet tempur F-15 ke rezim Zionis dari Gedung Putih telah ditunda. Israel mengajukan permintaan awalnya untuk membeli 25 unit F-15EX pada tahun 2020, tetapi penjualan ini terhenti akibat perkembangan politik dan kini pengiriman jet-jet tempur ini diperkirakan dimulai pada tahun 2031 dan berlanjut hingga 2035.
Angkatan Laut dan Angkatan Udara Amerika Serikat juga memperingatkan sekutunya termasuk rezim Zionis bahwa keterlambatan pengiriman amunisi kunci mungkin berlanjut hingga lima tahun, karena cadangan amunisi Amerika sangat menurun akibat perang terhadap Iran.
Keterlambatan pengiriman peralatan militer Amerika ke rezim Zionis pada tahun 2026 tidak dapat dianggap semata-mata masalah logistik atau administratif sederhana. Keterlambatan ini sebenarnya mencerminkan kumpulan kompleks faktor domestik rezim Zionis, perkembangan politik di Washington, tekanan akibat perang regional, dan pendefinisian ulang hubungan strategis kedua pihak. Yang membedakan situasi ini dari keterlambatan biasa dalam kontrak persenjataan adalah bersamaan beberapa faktor kritis yang masing-masingnya saja dapat memperlambat proses pengiriman.
Di tingkat domestik rezim Zionis, krisis anggaran telah menjadi hambatan utama. Tentara Rezim Zionis setelah hampir tiga tahun perang berkelanjutan di lima front, menghadapi defisit anggaran sekitar 40 miliar shekel yang terutama disebabkan biaya operasional saat ini dan pembayaran terkait hari-hari dinas pasukan cadangan. Kementerian Keuangan rezim Zionis juga menolak membayar 15 miliar shekel yang dijanjikan untuk pembelian helikopter Apache dan hal ini menyebabkan tenggat waktu kontrak satu per satu terlewat.
Perselisihan antara Kementerian Perang dan Kementerian Keuangan bukan hanya tentang jumlah tertentu, melainkan juga tentang struktur anggaran multi-tahun ke depan dan kebuntuan administratif ini telah berubah menjadi krisis struktural dalam pembiayaan persenjataan. Penuaan armada helikopter Apache saat ini dan masalah pengadaan suku cadang telah memperburuk urgensi krisis ini dan tentara rezim Zionis dalam jangka panjang membutuhkan setidaknya 50 helikopter serang baru.
Faktor lain adalah munculnya perpecahan mendalam di Amerika dalam hal dukungan pengiriman senjata ke rezim Zionis. Opini publik Amerika khususnya di kalangan Demokrat sangat berubah akibat tingginya korban sipil dalam perang Gaza. Pemungutan suara bulan Juli di DPR tentang pemotongan bantuan militer ke rezim Zionis dengan 104 suara setuju melawan 314 suara menolak menunjukkan bahwa meskipun mayoritas masih mendukung bantuan, dukungan ini tidak lagi otomatis dan tanpa syarat.
Pemberlakuan penghentian sementara oleh dua legislator senior Demokrat atas paket penjualan bom Amerika senilai 2,8 miliar dolar ke Israel merupakan tindakan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah hubungan kedua pihak yang sebelumnya pada era Biden juga memiliki preseden terbatas. Kekhawatiran utama para legislator ini adalah pemerintahan Netanyahu tidak memberikan jaminan yang cukup untuk penggunaan legal senjata Amerika dan berlanjutnya pemboman luas di Gaza dan Lebanon telah mempertanyakan legitimasi pengiriman ini.
Faktor ketiga adalah erosi cadangan militer Amerika sendiri. Selama Perang 40 Hari terhadap Iran, cadangan rudal kunci tentara Amerika sangat menurun. Berdasarkan laporan Bloomberg, Amerika Serikat memperingatkan sekutunya bahwa pengiriman beberapa sistem rudal dan pencegat mungkin tertunda hingga lima tahun.
Dalam kaitan ini, Amerika untuk membela rezim Zionis terhadap serangan rudal Iran, menghabiskan setengah rudal THAAD, sepertiga pencegat balistik, dan produksi satu tahun rudal Standard 3 hanya dalam satu serangan. Situasi ini menyebabkan Washington meninjau ulang prioritas ekspor militernya dan bahkan beberapa kiriman yang dijanjikan ke negara-negara Eropa juga dibatalkan atau ditunda.
Kumpulan faktor ini menunjukkan bahwa keterlambatan yang terjadi bukan fenomena sementara, melainkan tanda perubahan pola hubungan militer Amerika dan rezim Zionis. Dalam jangka pendek, keterlambatan ini memengaruhi kemampuan operasional tentara rezim Zionis. Armada Apache yang menua serta kekurangan amunisi dan bom terpandu dapat memengaruhi kesiapan pasukan rezim Zionis, khususnya jika mengambil keputusan untuk operasi independen terhadap Iran. Para komandan Israel khawatir bahwa keterlambatan pengambilan keputusan menyebabkan hilangnya pesanan persenjataan ke Amerika dan rezim Zionis terpaksa membayar biaya lebih tinggi dan menunggu lebih lama.
Dalam jangka panjang, proses ini dapat mendorong rezim Zionis untuk mendiversifikasi sumber pengadaan senjata dan memperkuat industri militer domestiknya. Beberapa analis rezim Zionis meyakini bahwa berlanjutnya proses ini dapat secara bertahap melemahkan peran Amerika sebagai pemasok utama dan tanpa syarat persenjataan rezim ini dan memaksanya meninjau ulang doktrin keamanannya.
"Berbagai laporan menunjukkan penundaan pengiriman senjata AS ke Israel karena berbagai alasan. Jerusalem Post melaporkan kontrak helikopter AH-64E Apache terancam penundaan serius karena Kementerian Keuangan Israel menunggak pembayaran 15 miliar shekel, risiko kehilangan posisi di lini produksi. Senator Jeanne Shaheen dan Anggota Kongres Gregory Meeks memberlakukan penghentian sementara penjualan senjata $2,8 miliar (termasuk 40 ribu bom satu ton). Boeing menandatangani kontrak $289 juta untuk 5.000 bom pintar, tetapi pengiriman baru dimulai dalam 36 bulan. Penjualan 50 F-15 ditunda; permintaan awal 25 F-15EX (2020) terhenti; pengiriman diperkirakan 2031–2035."(Sail)