Peringatan soal Rencana AS Kuasai Sumber Daya Irak
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i198582-peringatan_soal_rencana_as_kuasai_sumber_daya_irak
Pars Today - Zuhair Al-Jalabi, anggota Kerangka Koordinasi Politik Syiah Irak, sambil memperingatkan tentang rencana Amerika Serikat untuk mencengkeram kekayaan dan sumber daya negaranya, menegaskan bahwa Amerika Serikat masih terus menerapkan dominasi dan pengaruh langsungnya terhadap keputusan politik, ekonomi, bahkan keamanan Irak.
(last modified 2026-10-14T05:16:10+00:00 )
Okt 14, 2026 12:10 Asia/Jakarta
  • Zuhair Al-Jalabi, anggota Kerangka Koordinasi Politik Syiah Irak
    Zuhair Al-Jalabi, anggota Kerangka Koordinasi Politik Syiah Irak

Pars Today - Zuhair Al-Jalabi, anggota Kerangka Koordinasi Politik Syiah Irak, sambil memperingatkan tentang rencana Amerika Serikat untuk mencengkeram kekayaan dan sumber daya negaranya, menegaskan bahwa Amerika Serikat masih terus menerapkan dominasi dan pengaruh langsungnya terhadap keputusan politik, ekonomi, bahkan keamanan Irak.

Pernyataan Al-Jalabi sekali lagi mengembalikan isu kedaulatan nasional Irak dan batas intervensi Washington dalam pengambilan keputusan Bagdad ke pusat perhatian. Pentingnya Irak bagi Amerika Serikat tidak terbatas pada sumber daya minyak negara itu. Irak terletak di jantung kawasan Asia Barat dan memiliki perbatasan bersama dengan Iran, Turki, Suriah, Yordania, Arab Saudi, dan Kuwait. Posisi geografis ini, bersama kapasitas energi dan pasar konsumsi yang luas, memberikan Irak kedudukan penting dalam persamaan keamanan dan ekonomi kawasan serta menyediakan landasan bagi intervensi Amerika Serikat dalam urusan internal negara ini.

Intervensi Amerika Serikat di Irak tidak terbatas pada kehadiran militer, kerja sama keamanan, atau hubungan diplomatik, melainkan mekanisme keuangan dan ekonomi juga telah menjadi salah satu bidang terpenting bagi penerapan pengaruh Washington. Dari sudut pandang ini, peringatan tentang sumber daya Irak harus ditelaah dalam kerangka perselisihan yang lebih luas mengenai kemerdekaan ekonomi, kewenangan pemerintah dalam mengelola pendapatan minyak, dan orientasi politik luar negeri negara ini. Irak dengan memiliki cadangan minyak dan gas yang besar, sangat bergantung pada pendapatan minyak.

Minyak, selain menyediakan bagian utama pendapatan pemerintah, juga merupakan sumber dasar pembiayaan anggaran umum, pembayaran gaji pegawai, dan pelaksanaan program ekonomi serta pembangunan negara ini. Setelah serangan Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003 dan jatuhnya rezim Saddam, mekanisme pengelolaan pendapatan minyak negara ini mengalami perubahan.

Laporan Reuters pada 30 September 2026 menunjukkan bahwa pendapatan minyak Irak masih disimpan dalam kerangka pengaturan keuangan dengan Federal Reserve Amerika Serikat, dan situasi ini menciptakan tuas yang cukup berarti bagi penerapan intervensi Amerika Serikat di Irak serta memengaruhi kemerdekaan ekonominya.

Selain itu, kebijakan Amerika Serikat terhadap Irak tidak dapat ditelaah terpisah dari tujuan-tujuan Washington yang lebih luas di Asia Barat. Dengan kata lain, dimensi lain pengaruh Amerika Serikat harus ditelaah dalam upaya Washington untuk mengarahkan politik luar negeri dan keamanan Irak dalam kerangka persaingan Asia Barat.

Irak karena bertetangga dengan Iran dan memiliki ikatan ekonomi, sosial, serta politik yang luas dengan negara ini, serta kehadiran kelompok-kelompok perlawanan, memiliki kedudukan khusus dalam perhitungan strategis Amerika Serikat. Karena itu, kebijakan Washington terhadap Bagdad tidak terbatas pada kerja sama bilateral, melainkan juga berkaitan dengan tujuan Amerika Serikat terhadap Iran dan Poros Perlawanan serta dukungan terhadap rezim Zionis.

Pemerintahan Donald Trump pada periode kedua kepresidenannya, sambil mendukung kejahatan rezim Zionis, menempuh kebijakan agresif terhadap Republik Islam Iran dan Poros Perlawanan. Dalam kaitan ini, pemerintahan Trump menekan Irak karena hubungan ekonomi, politik, dan keamanannya yang luas dengan Iran.

Dari sudut pandang ini, peringatan yang diajukan Al-Jalabi tentang upaya Amerika Serikat untuk menguasai sumber daya Irak mencerminkan kekhawatiran sebagian arus politik negara ini terhadap upaya Amerika Serikat membentuk semacam ketergantungan strategis dan memengaruhi keputusan politik luar negeri Irak. Arus-arus politik Irak menegaskan bahwa Irak tidak boleh menjadi panggung pelaksanaan kebijakan konfrontatif Amerika Serikat terhadap negara-negara tetangga.

Secara umum, persoalan utama di Irak bukan sekadar ada atau tidaknya kehadiran militer Amerika Serikat, melainkan sejauh mana kewenangan Bagdad dalam mengelola sumber daya keuangan, menentukan prioritas keamanan, dan memilih mitra kawasan. Selama ketergantungan ekonomi Irak memungkinkan tekanan keuangan berubah menjadi tuas politik, kedaulatan negara ini terancam.

Dari sudut pandang ini, peringatan Al-Jalabi dapat dianggap sebagai cerminan kekhawatiran sebagian kekuatan politik Irak terhadap perubahan ketergantungan keuangan menjadi alat untuk membatasi kemerdekaan politik luar negeri negara ini atau bahkan dominasi Amerika Serikat atas pengambilan keputusan politik luar negeri Bagdad, persoalan yang selain dihadapi arus-arus politik Irak, juga mendapat protes luas dari rakyat negara ini. Rakyat Irak menegaskan perlunya kemerdekaan negara ini dari Amerika Serikat dalam kebijakan internal dan eksternalnya.(Sail)