Kegembiraan Aktivis Emirat atas Kekalahan Arab Saudi di Yaman
https://parstoday.ir/id/news/daily_news-i198550-kegembiraan_aktivis_emirat_atas_kekalahan_arab_saudi_di_yaman
Pars Today – Di bawah bayang-bayang pendalaman lingkup perselisihan Arab Saudi dan UEA, Abu Dhabi yang masih marah atas pengusiran dari Yaman selatan oleh Arab Saudi, telah menetapkan prasyarat-prasyarat ketat untuk masuk ke dalam perang.
(last modified 2026-10-13T11:04:47+00:00 )
Okt 13, 2026 18:01 Asia/Jakarta
  • Saudi dan Emirat
    Saudi dan Emirat

Pars Today – Di bawah bayang-bayang pendalaman lingkup perselisihan Arab Saudi dan UEA, Abu Dhabi yang masih marah atas pengusiran dari Yaman selatan oleh Arab Saudi, telah menetapkan prasyarat-prasyarat ketat untuk masuk ke dalam perang.

Menurut laporan Kantor Berita Mehr yang dikutip dari surat kabar Lebanon Al-Akhbar, meskipun ada perjalanan Mansour bin Zayed, Wakil Presiden UEA ke Arab Saudi, belum terlihat tanda-tanda kesepakatan tentang perselisihan seputar Yaman. Abu Dhabi sebagai imbalan untuk masuk ke dalam perang, mensyaratkan pengambilalihan kembali pengelolaan wilayah selatan dan mempertahankan bagiannya; sementara Riyadh bersikeras pada bidak-bidak permainannya dan menuduh "Dewan Transisi Selatan" melakukan pengkhianatan.

 

Tampaknya Riyadh tidak siap menerima tuntutan Abu Dhabi untuk membatasi pengelolaan provinsi-provinsi selatan di tangannya sendiri; karena Arab Saudi menganggap provinsi-provinsi ini sebagai wilayah pengaruh dan bagian politik serta militernya. Namun, Arab Saudi melihat tuntutan-tuntutan ini dari sudut pandang yang lebih strategis dan khawatir menyerah pada pengaruh UEA di selatan, akan menyebabkan melemahnya kartu-kartu yang tersisa dalam persamaan Yaman.

 

Meskipun kondisi sulit pihak Saudi di Yaman dan kebutuhan mereka untuk memanfaatkan semua bidak mereka, pemerintah bayaran Riyadh di Aden masih menuduh "Aidarous al-Zubaidi", kepala "Dewan Transisi Selatan" melakukan pengkhianatan besar dan beberapa aktivis atau orang-orang dekat Riyadh menuduh Abu Dhabi berkolusi dengan pemerintah Sana'a dan koordinasi lapangan dengan komandan-komandan yang terkait dengan "Dewan Transisi".

 

Sebaliknya, UEA juga tidak memiliki kemampuan untuk terlibat langsung dalam perang di samping Arab Saudi; khususnya dalam kondisi di mana kekuatan-kekuatan besar internasional dan regional menghindari konflik semacam itu karena risiko keamanan dan strategisnya.

 

Selain itu, UEA masih mengalami konsekuensi perang Israel-Amerika melawan Iran dan masuk ke dalam konfrontasi lain dengan biaya yang sangat tinggi, tidak menguntungkan baginya.

 

Menurut keyakinan para pengamat politik, satu-satunya keadaan di mana UEA dapat mengambil keputusan untuk berpartisipasi langsung dalam perang Yaman, adalah masuknya Amerika Serikat ke dalam konflik ini dalam format rencana komprehensif di mana Abu Dhabi mempertahankan bagiannya dari rampasan. Ini persisnya yang terjadi pada tahun 2021; ketika UEA kembali ke negara ini atas permintaan Washington untuk menyerang Ma'rib melawan pasukan bersenjata Yaman, itu pun setelah pada tahun 2019 secara resmi mengumumkan penarikannya.

 

Saat ini, posisi media-media Emirat dan platform-platform selatan yang terkait dengan Abu Dhabi menunjukkan bahwa UEA masih belum mengabaikan konsekuensi "penghinaan berat" Arab Saudi dalam pengusiran dari provinsi-provinsi selatan Yaman pada akhir tahun lalu. Bahkan aktivis dan politisi Yaman selatan, tidak menyembunyikan kegembiraan mereka atas kekalahan Riyadh dalam mengelola operasi militer dan melindungi fasilitas vitalnya. (MF)