Iran Aktualita 22 Juni 2019
-
Pertemuan Rahbar dengan panitia penyelenggara kongres peringatan 5.400 syuhada Provinsi Kurdistan di Tehran.
Transformasi Iran sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya pesan Rahbar untuk Kongres Syuhada Provinsi Kurdistan, Iran tidak akan memperpanjang batas waktu untuk Eropa.
Presiden Hassan Rouhani pada rapat kabinet pekan lalu menyebut aksi AS anti-Iran sebagai sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan. Isu terakhir dari Iran mengenai penembakan jatuh drone Global Hawk AS yang melanggar wilayah negara ini.
Rahbar: Warga Kurdi Gagalkan Perpecahan Mazhab di Iran
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar mengatakan, para pejuang Kurdi Iran selain berperang dengan musuh dari luar, di dalam negeri mereka juga berperang dengan kelompok anti-revolusi, oleh karena itu kesyahidan di wilayah Kurdistan bercampur dengan pengorbanan lebih besar dan perjuangan yang jujur.
Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyampaikan hal itu dalam pertemuan dengan panitia penyelenggara kongres peringatan 5.400 syuhada Provinsi Kurdistan, yang dipublikasikan hari Kamis (20/6/2019). Menurut Rahbar, karakteristik lain warga Kurdi Iran adalah mereka berhasil menggagalkan perpecahan mazhab dan etnis.
Ia menambahkan, sejak awal musuh berusaha memanfaatkan perpecahan mazhab dan etnis untuk menjatuhkan Republik Islam Iran, namun orang-orang Mukmin dan waspada di Kurdistan, juga di Azerbaijan Barat, berhasil menggagalkan konspirasi ini, dan dengan berbakti kepada Revolusi Islam, mereka membuat musuh putus asa.
Ayatullah Khamenei menegaskan, masyarakat terutama generasi muda harus tahu apa yang sudah dilakukan untuk membangun dan memperkokoh pondasi Revolusi Islam, kemajuan dan keunggulannya.
Rahbar menyinggung kebijakan keliru dan cacat rezim Shah Pahlevi yang membiarkan wilayah etnis Kurdi Iran terus terbelakang dan kepada pejabat pemerintah daerah ia menekankan upaya di bidang konstruksi dan mengentaskan keterbelakangan Provinsi Kurdistan.
Iran Tak akan Perpanjang Batas Waktu untuk Eropa
Juru bicara Badan Energi Atom Iran (AEOI) mengatakan, batas waktu dua bulan yang diberikan Iran kepada para anggota yang tersisa dari kesepakatan nuklir JCPOA, tidak akan diperpanjang.
Jubir AEOI, Behrouz Kamalvandi, Rabu (19/6/2019) menuturkan, penangguhan komitmen JCPOA Iran dilakukan dalam kerangka undang-undang yang disahkan Majelis Syura Islam Iran dalam langkah yang tepat dan balasan pemerintah Iran terkait pelaksanaan JCPOA.
"Berdasarkan aturan Majelis Syura Islam Iran itu, langkah Tehran tergantung pada cara implementasi komitmen pihak lain dalam JCPOA, dan jika sebuah negara mematuhi komitmennya sementara pihak lain tidak, hal itu tidak bisa dibenarkan," tegas Kamalvandi.
Ia lebih lanjut menjelaskan, langkah Iran dilakukan secara berkelanjutan, saling terkait dan tidak ada istilah kembali atau mundur, jika ingin penangguhan komitmen Iran dicabut, negara-negara penandatangan JCPOA yang tersisa harus memenuhi komitmennya.
Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran pada 8 Mei 2019 mengumumkan, Republik Islam berdasarkan butir 26 dan 36 JCPOA dapat menghentikan sebagian komitmennya karena Eropa tidak memenuhi isi kesepakatan.
Behrouz Kamalvandi sebelum ini mengatakan produksi uranium Iran hingga 10 hari mendatang (27 Juni) akan melampaui 300 kilogram. "Produksi uranium di Iran mencapai empat kali lipat dan ini akan ditingkatkan jika ada instruksi dari petinggi Republik Islam," tandasnya.
Dia menjelaskan bahwa Iran setelah melampaui batas 300 kg uranium akan mempercepat peningkatan uranium yang diperkaya sebesar 3,67 persen, persentase ini dengan mudah dapat meningkat hingga 20 persen.
Rouhani: Aksi AS anti Iran sebuah Kejahatan anti Kemanusiaan
Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani menyebut langkah Amerika Serikat terhadap Iran sebagai sebuah kejahatan anti-kemanusiaan dan terorisme ekonomi.
Dalam rapat kabinet pada Rabu, (19/6/2019), Rouhani mengatakan tindakan AS tidak terbatas pada sanksi, mereka juga melakukan terorisme ekonomi terhadap Iran dan Washington harus bertanggung jawab di hadapan opini publik dunia dan rakyat Iran.
Menurut Presiden Iran, Washington gagal mengucilkan Tehran, tapi justru dirinya sendiri yang terkucil dan tidak berhasil memajukan kampanye Iranphobia, saat ini semua pihak di dunia menentang unilateralisme.
"Unilateralisme AS adalah apa yang membuat opini publik dunia, kekuatan dan berbagai pemerintah takut serta khawatir, karena pemerintahan Trump selalu menginjak-injak hukum internasional, perjanjian bilateral dan multilateral," ungkap Rouhani.
Mengenai perjanjian nuklir JCPOA, Rouhani mengatakan, "Kami akan bertindak sesuai dengan ketentuan dan jika kepentingan kami tidak dijamin, maka setelah 60 hari kami akan mengambil langkah baru yang telah kami umumkan sebelumnya."
Iran Tembak Jatuh Drone Mata-mata AS di Pesisir Hormozgan
Sebuah pesawat tanpa awak mata-mata Amerika Serikat, MQ-4C Global Hawk, Kamis (20/6/2019) dini hari di pesisir pantai Hormozgan, ditembak jatuh oleh angkatan udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran).
Divisi Humas Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) menyatakan bahwa pesawat pengintai Global Hawk lepas landas dari pangkalan AS di selatan Teluk Persia pada Kamis dini hari. "Drone tersebut mematikan semua peralatan pengenalnya yang melanggar aturan penerbangan internasional dan bergerak secara senyap," kata kantor berita IRIB mengutip pernyataan Pasdaran.
Pesawat Global Hawk kemudian melintasi Selat Hormuz dan terbang ke arah Chabahar, tanggara Iran. "Pada saat kembali drone AS itu menerobos wilayah teritorial Republik Islam Iran dan melakukan aksi pengintaian. Pada pukul 04:05 waktu setempat, sistem pertahanan udara Pasdaran menembak jatuh drone tersebut," kata Divisi Humas Pasdaran.
Sementara itu, Komandan Pasdaran, Brigadir Jenderal Hossein Salami mengatakan penembakan jatuh drone mata-mata AS di wilayah perairan Iran memiliki sebuah pesan yang jelas yaitu teritorial Republik Islam adalah garis merah.
"Sistem pertahanan udara Pasdaran menembak jatuh sebuah drone mata-mata Amerika yang menerobos ke wilayah perairan Iran. Ini merupakan cara dan aturan main bangsa Iran dalam menghadapi musuh," tegas Brigjen Salami.
Iran, lanjutnya, tidak mencari perang dengan negara manapun, tetapi siap untuk perang dan Republik Islam dengan perlawanannya terus memberikan peringatan kepada musuh-musuh. Menurut Brigjen Salami, Iran selalu menang dimana pun melakukan perlawanan dan musuh harus menghormati wilayah teritorial dan kepentingan nasional Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras pelanggaran wilayah udara Iran oleh pesawat pengintai AS. "Para agresor bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan jika menerobos dan melanggar wilayah udara Iran," tegas pernyataan Kemenlu. (RM)