Iran Aktualita 24 Agustus 2019
-
Pertemuan Presiden dan anggota kabinet Iran dengan Rahbar.
Transformasi Iran sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya pertemuan Rahbar dengan presiden dan jajaran kabinet Iran, Iran meluncurkan sistem pertahanan udara jarak jauh.
Rakyat Iran merayakan Hari Raya Ghadir Khum. Dan isu terakhir mengenai ketua parlemen Iran sebut Trump keliru memahami antara panggung politik dan arena pamer.
Pertemuan Rahbar dengan Presiden dan Jajaran Kabinet
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, menyinggung kemajuan dan peningkatan kemampuan Iran di bidang politik, pertahanan, dan ekonomi.
Menurut Ayatullah Sayid Ali Khamenei, musuh tidak bisa berbuat apapun dan 40 tahun kedua Republik Islam di bandingkan 40 tahun pertama, akan lebih baik bagi kami dan lebih buruk bagi musuh.
Rahbar dalam pertemuan dengan presiden dan jajaran kabinet Iran, hari Rabu (21/8/2019) menuturkan, Amerika Serikat, Eropa, dan bahkan Uni Soviet yang sudah bubar itu, dalam 40 tahun terakhir melakukan apapun yang bisa dilakukan terhadap Republik Islam Iran, mereka berhasil mengganggu Iran, namun tidak berhasil menghambat kemajuan negara ini.
Ayatullah Khamenei menilai upaya mengubah minyak menjadi berbagai jenis produk turunan merupakan jalan utama untuk lepas dari ketergantungan pada ekspor minyak mentah.
"Sebagaimana berulangkali disampaikan, selain menciptakan produk-produk yang ada saat ini seperti gas dan bensin, dengan memanfaatkan ilmuwan dan para produsen, di masa depan kita juga bisa memproduksi senyawa dan produk lain yang nilai ekspornya beberapa kali lipat lebih tinggi," imbuhnya.
Mengenai isu Kashmir, Rahbar menyampaikan kesedihannya atas kondisi umat Islam di wilayah itu dan mengatakan, kita punya hubungan yang baik dengan pemerintah India, namun kita berharap pemerintah India menerapkan kebijakan yang adil terhadap warga Kashmir, dan tidak berbicara kepada warga Muslim wilayah ini dengan bahasa pemaksaan.
Menurut Ayatullah Khamenei, kondisi Kashmir terkini dan konflik India-Pakistan dalam hal ini, adalah buah dari ulah Inggris yang keji ketika mereka meninggalkan Semenanjung India. "Orang-orang Inggris secara sengaja meninggalkan luka di wilayah ini agar pertikaian terus berlanjut di Kashmir," pungkasnya.
Iran Pamerkan Sistem Pertahanan Udara Canggih
Republik Islam Iran memperkenalkan sistem pertahanan udara jarak jauh, Bavar-373 untuk menandai Hari Industri Pertahanan Nasional. Sistem rudal Bavar-373 diresmikan pada Kamis (22/8/2019) pagi di hadapan Presiden Iran Hassan Rouhani, Menteri Pertahanan Brigadir Jenderal Amir Hatami, para pejabat tinggi militer, dan atase pertahanan asing yang bertugas di Iran.
"Saya mengucapkan selamat atas hari-hari yang sangat diberkahi, Hari Raya Ghadir, hari kelahiran Imam Musa al-Kadzim, Pekan Pemerintah dan Hari Industri Pertahanan Iran," ujar Rouhani.
"Sistem pertahanan rudal Bavar-373 lebih kuat daripada sistem rudal S-300 Rusia dan hampir sama dengan S-400," tambahnya.
Sehubungan dengan keamanan kawasan, Rouhani menjelaskan, tanpa Iran, keamanan kawasan tidak akan terwujud. Republik Islam adalah kekuatan yang sangat besar dan berpengaruh di kawasan, juga di Teluk Persia. Iran siap bekerjasama untuk mewujudkan keamanan penuh di jalur maritim.
Bavar-373 adalah sistem pertahanan rudal mobile dengan jangkauan 300 kilometer. Sistem ini mampu mendeteksi 100 target secara bersamaan dan menghancurkan enam target sekaligus. Dengan demikian, Bavar-373 berada dalam kelompok sistem pertahanan rudal tercanggih dunia termasuk S-400.
Sistem rudal ini sepenuhnya buatan dalam negeri dan telah diintegrasikan ke jaringan sistem pertahanan udara Iran atas perintah Presiden Rouhani. Bavar-373 akan memperkuat keamanan zona udara Iran dari ancaman.
Di antara fitur penting Bavar-373 adalah mampu beroperasi dengan kecepatan tinggi, kemudahan persiapan dan perawatan, keamanan operator, penyesuaian dengan teknologi kelas dunia, dan kemampuan penggantian dan penyediaan suku cadang.
Kemampuan operasional sistem ini telah ditingkatkan secara optimal dengan memanfaatkan teknik dan protokol yang aman antara radar, target, dan rudal, serta penggunaan detektor radio canggih.
Rakyat Iran Rayakan Hari Raya Ghadir Khum
Rakyat Iran di seluruh penjuru negeri pada hari Selasa (20/8/2019) merayakan Hari Raya Ghadir Khum dan tenggelam dalam kegembiraan.
Tahun ini, 20 Agustus 2019 bertepatan dengan tanggal 18 Dzulhijah 1440 H yang diperingati sebagai Hari Raya Ghadir Khum. Ghadir Khum adalah nama sebuah telaga yang berada di kawasan Khum di persimpangan jalan antara Mekkah dan Madinah. Pada 18 Dzulhijjah tahun ke-10 H, Nabi Muhammad Saw mengenalkan Imam Ali as sebagai washi, khalifah, dan penggantinya. Kejadian ini terkenal dengan nama peristiwa Ghadir Khum.
Di hari yang juga dikenal dengan Aidullah Al Akbar, Muslim Syiah di seluruh dunia menggelar perayaan di masjid-masjid dan pusat keagamaan.
Kompleks Makam Suci Imam Ridha as di kota Mashhad, timur laut Iran, hari ini dipenuhi para pecinta Ahlul Bait as yang merayakan Idul Ghadir. Di Hari Raya Ghadir Khum selain membaca doa dan beribadah kepada Allah Swt, biasanya masyarakat membagikan makanan dan minuman, serta saling mengucapkan selamat.
Larijani: Trump Keliru Pahami Panggung Politik dengan Arena Pamer
Ketua Parlemen Iran, Ali Larijani mengatakan Presiden AS Donald Trump keliru menganggap ajang politik dengan arena pamer, dan langkahnya ini telah merusak kredibilitas rakyat Amerika.
Menurut laporan IRIB pada hari Selasa (20/8/2019), Larijani dalam wawancara dengan televisi NBC, menyinggung pertemuan Trump dengan Kim Jong-un, Pemimpin Korut dan mengatakan Trump memeluk Kim, tetapi apakah sanksi terhadap Pyongyang dicabut?
Berbicara tentang kesepakatan nuklir JCPOA, Larijani menuturkan tolok ukur Iran di JCPOA seperti yang dicantumkan dalam kesepakatan nuklir ini. "Setelah dua tahun perundingan, diraih sebuah kesepakatan nuklir dan dirilis pula resolusi berkaitan dengan kesepakatan ini di Dewan Keamanan PBB. Namun, AS keluar dari kesepakatan, oleh karena itu mereka harus kembali ke koridor yang telah ditentukan oleh JCPOA," tegasnya.
Ketika ditanya apakah Tehran akan terus melawan sanksi Washington hingga pilpres 2020 di AS, Larijani menjelaskan, "Jalan Republik Islam sudah jelas, kami memiliki tujuan jangka panjang dan sekarang Iran hanya memiliki keluhan terhadap AS. Kami memiliki hubungan baik dengan negara tetangga dan negara lain termasuk Eropa, Rusia dan Cina. Hubungan ini pun kini semakin meningkat."
Pada kesempatan itu, Larijani juga menyinggung ancaman AS terhadap Iran dan mengatakan, Republik Islam tidak pernah berencana mengobarkan perang, bahkan ketika AS memprovokasi Saddam Hussein untuk menyerang Iran, kami tetap tidak berencana memulai perang.
"Strategi Republik Islam Iran bukan perang, namun jika ada yang berani menyerang, kami akan serius membela diri dan tidak akan membiarkan agresor," pungkasnya. (RM)