AS Tinjauan dari Dalam, 1 Agustus 2020
-
Presiden Donald Trump.
Dinamika Amerika Serikat pekan ini diwarnai sejumlah isu penting seperti permintaan Presiden Donald Trump agar pilpres ditunda, kekhawatiran komandan militer AS tentang kapal selam canggih Rusia.
Selain itu, AS terus mengobarkan ketegangan dengan Cina terkait isu Laut Cina Selatan, dan terakhir mengenai usulan Senator Ted Cruz untuk menggunakan Trigger Mechanism terhadap Iran.
Terancam akan Kalah, Trump Usulan Pilpres Ditunda
Presiden AS Donald Trump berulang kali mengkritik metode pemungutan suara dalam pemilu presiden, dan kini menyerukan penundaan penyelenggaraan dai waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Trump di akun Twitternya hari Kamis (30/7/2020) menyerukan penundaan pemilihan presiden tahun 2020.
"Penyelenggaraan pemilu melalui pos akan menjadi pemilu yang paling palsu dan tidak benar dalam sejarah AS. Ini akan menjadi peristiwa sangat memalukan bagi Amerika Serikat," tulis Trump. Dia mengungkapkan bahwa pemilu presiden harus ditunda sehingga rakyat dapat memilih dengan benar, aman, dan nyaman.
Statemen Trump mengemuka di saat tanggal penyelenggaraan pemilu presiden AS telah ditetapkan dalam Konstitusi AS. Sekitar kurang dari 100 hari sebelum pelaksanaan pilpres AS, sebuah jajak pendapat terbaru yang dilakukan CNN Network dan SSRS menunjukkan bahwa Trump tertinggal dari saingannya, Joe Biden di beberapa negara bagian utama yang dulu meraih suara pada pilpres 2016.
Trump sebelumnya mengkritik penyelenggaraan pemilu melalui pos, yang disambut dengan pukulan balasan dari Demokrat. Pemilu presiden AS akan diadakan pada 3 November 2020.
Sementara itu, Direktur Pusat Keamanan Nasional dan Kontra-Intelijen AS, William Ivanina dalam sebuah pernyataan menekankan "para musuh berusaha mencuri korespondensi internal kampanye dan kandidat pemilu serta menyusup ke infrastruktur pemilu AS. Menurutnya, Cina, Rusia, dan Iran adalah perhatian utama kami, sekalipun beberapa negara lain dan aktivis siber non-pemerintah juga dapat membahayakan proses pemilihan umum di negara kita.
Komandan Militer AS Khawatirkan Kapal Selam Canggih Rusia
Seorang komandan militer Amerika Serikat memperingatkan tentang rival, dan musuh-musuh potensial Washington, dan menyebut kemampuan strategis Rusia, termasuk modernisasi kapal selam baru negara ini, sebagai tantangan serius.
Fars News (30/7/2020) melaporkan, Letnan Jenderal Glen D. VanHerck yang baru saja diangkat sebagai komandan komando militer utara Amerika, memperingatkan soal tantangan-tantangan serius rival dan musuh-musuh potensial.
Seperti ditulis Sputnik, Glen D. VanHerck di hadapan anggota Senat Amerika menuturkan, selama 32 tahun bertugas, saya tidak pernah berpikir bahwa tantangan-tantangan yang dihadapi sudah sedemikian strategis, dan berbeda bagi keamanan nasional Amerika. "Rusia sedang meningkatkan kemampuan strategisnya termasuk memperkuat kapal selam yang upaya deteksi kapal selam tersebut, dan kemampuan potensialnya untuk membawa rudal balistik, merupakan tantangan penting," tambahnya.
Menurut jenderal Amerika ini, Cina juga tidak lama lagi akan berubah menjadi ancaman serupa Rusia, karena upayanya mengembangkan kemampuan militer.
Presiden Rusia Vladimir Putin pada 26 Juli lalu, mengatakan angkatan laut negaranya akan diperkuat dengan rudal nuklir hipersonik dan drone nuklir bawah laut. "Kemajuan Angkatan Laut Rusia terus tumbuh dan tahun ini mereka akan menerima 40 kapal perang dari kelas yang berbeda," ujarnya pada acara parade tahunan Angkatan Laut Rusia di St. Petersburg.
Para pejabat militer AS sudah sering memperingatkan tentang kemajuan militer yang dicapai oleh Cina dan Rusia, dan ketertinggalan AS di bidang itu.
Pompeo: Laut Cina Selatan bukan Milik Beijing
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dalam sebuah statemen intervensifnya mengklaim Laut Cina Selatan bukan milik Beijing. Menurut laporan FNA, Mike Pompeo Ahad (26/7/2020) dini hari di akun Twitternya menulis, "Laut Cina Selatan bukan milik Beijing."
Lebih lanjut menlu Amerika ini menulis, "Friksi terkait kepemilikan wilayah di Laut Cina Selatan harus diselesaikan melalui hukum internasional." Pompeo selama beberapa pekan terakhir semakin menunjukkan permusuhannya terhadap Cina dan menuntut pembentukan koalisi internasional baru untuk melawan Beijing.
Pada kesempatan lain, Pompeo mengklaim bahwa ancaman yang timbul bagi keamanan nasional AS adalah akibat kelemahan dan bertekuk lutut di hadapan Cina. Dia kembali menuding Cina bertanggung jawab atas krisis penanganan Corona di Amerika dan transformasi negara ini.
"Virus Corona bersumber dari kota Wuhan di Cina dan selain menewaskan ratusan ribu orang di seluruh dunia, juga menghancurkan ribuan miliar dolar kekayaan," paparnya.
Cina, Vietnam, Filipina, Malaysia dan Brunei Darussalam memiliki sengketa terkait kepemilikan Laut Cina Selatan yang kaya minyak dan gas. Namun, Amerika Serikat melalui intervensinya di Laut Cina Selatan berencana mengobarkan tensi dan perpecahan di kawasan itu.
Senator Ted Cruz Desak Gunakan Trigger Mechanism terhadap Iran
Senator Ted Cruz dari kubu Republik masih melanjutkan sikap anti Irannya dan mengklaim, Amerika berhak menggunakan trigger mechanism terhadap Iran. Seperti dilaporkan IRNA, Ted Cruz pada Kamis (30/7/2020) pada pertemuan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS yang dihadiri Menlu Mike Pompeo, mengatakan bahwa di bawah kesepakatan nuklir JCPOA dan resolusi Dewan Keamanan PBB, AS dapat memanfaatkan mekanisme penyelesaian friksi untuk memulihkan kembali sanksi jika Iran melanggar JCPOA.
Senator Amerika ini lebih lanjut mengklaim Iran kini secara transparan melecehkan kesepakatan ini, mereka tidak berencana melaksanakan kesepakatan ini dan berpaling darinya.
Klaim anti-Iran senator Amerika ini disampaikan ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan negaranya keluar dari JCPOA. Sikap Trump ini berbeda dengan klaim Washington dalam kesepakatan nuklir.
Embargo senjata terhadap Iran berdasarkan resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB akan berakhir pada 18 Oktober 2020, namun pemerintah AS memulai propaganda untuk mencegah penghapusan embargo ini. AS membagikan draf resolusi kepada anggota Dewan Keamanan yang menuntut pencegahan penghapusan embargo senjata terhadap Iran.
Pada 28 Juli lalu, Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Kelly Craft juga mengulangi klaim-klaim tak berdasar terhadap Iran dan menyerukan perpanjangan embargo senjata Tehran.
"AS sangat prihatin dengan prospek bahwa embargo senjata terhadap Iran dapat dicabut dalam beberapa bulan. Iran telah memicu konflik di bawah sanksi. Adalah bodoh untuk percaya bahwa kegiatan destruktif ini tidak akan meningkat begitu mereka tidak memiliki batasan internasional," tulis Kelly Craft di akun Twitternya seperti dikutip kantor berita IRIB.
Para pejabat senior AS terutama Menteri Luar Negeri Mike Pompeo berulang kali mengatakan akan menjegal setiap upaya penghapusan embargo tersebut. Namun, para pejabat Cina dan Rusia menekankan penentangan mereka terhadap upaya AS untuk memperpanjang embargo senjata Iran. (RM)