Apa Tujuan Rezim Bahrain Menangkap Para Pemimpin Agama?
Rezim Al Khalifa di Bahrain kembali menangkap sejumlah pemimpin agama sebagai kelanjutan dari kebijakan penindasan terhadap tokoh-tokoh keagamaan.
Penangkapan para pemimpin agama oleh rezim Al Khalifa bukanlah kebijakan baru, melainkan telah menjadi bagian dari praktik yang berlangsung sepanjang hampir setengah abad kekuasaannya. Namun, tingkat penindasan dan luasnya cakupan tokoh yang ditangkap kali ini tergolong belum pernah terjadi sebelumnya.
Baqir Darwish, Ketua Asosiasi Hak Asasi Manusia Bahrain, mengatakan, "Penindasan terhadap komunitas Syiah ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah politik Bahrain. Di antara mereka yang ditangkap terdapat ulama terkemuka, imam shalat Jumat dan imam jamaah, pimpinan hauzah ilmiah, perwakilan marja' keagamaan di Najaf dan Qom, para pengajar hauzah, khatib dan mubalig, serta sejumlah anggota pendiri Majelis Ulama Islam yang dipimpin Ayatullah Syekh Isa Qasim."
Pertanyaannya adalah, apa tujuan rezim Al Khalifa melakukan penindasan sebesar ini terhadap para pemimpin agama di Bahrain?
Tujuan utama Al Khalifa adalah menciptakan suasana takut dan teror agar demonstrasi yang menentang perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta keberadaan pasukan Amerika Serikat di Bahrain tidak terus berlanjut. Gelombang penangkapan sewenang-wenang yang dilakukan rezim Al Khalifa menunjukkan berlanjutnya pendekatan keamanan yang semakin represif serta penerapan kebijakan penindasan sistematis terhadap warga yang menggunakan hak mereka untuk menyampaikan pandangan dan sikap politik secara damai terkait perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran beserta dampak langsungnya terhadap Bahrain. Oleh karena itu, penindasan berskala luas ini merupakan upaya untuk mengendalikan protes masyarakat.
Untuk mencapai tujuan tersebut, penindasan dan penangkapan para ulama dijadikan agenda utama rezim Al Khalifa. Para ulama memiliki tingkat kepercayaan publik yang tinggi serta jaringan sosial yang luas. Di banyak masyarakat, masjid, husainiyah, dan mimbar merupakan pusat pembentukan opini publik. Penangkapan para pemimpin agama dilakukan dengan tujuan mencegah pengaruh dan peran ulama terhadap masyarakat Bahrain.
Tujuan lain rezim Al Khalifa adalah melakukan "de-Syiahisasi" terhadap masyarakat Bahrain. Upaya mengurangi eksistensi Syiah di Bahrain telah lama menjadi strategi rezim tersebut, mengingat mayoritas penduduk negara itu adalah penganut Syiah. Dalam satu abad terakhir, Al Khalifa berupaya mengubah komposisi demografis Bahrain. Meskipun rezim ini juga menerapkan kekerasan berlatar agama terhadap kalangan Sunni yang independen dan kritis, mayoritas tokoh yang ditangkap saat ini berasal dari kalangan pemimpin Syiah.
Baqir Darwish, Ketua Asosiasi Hak Asasi Manusia Bahrain, mengatakan, "Pernyataan-pernyataan Kementerian Dalam Negeri mengenai hauzah ilmiah, majelis-majelis Husaini, masjid, husainiyah, taman kanak-kanak, lembaga-lembaga Islam, bahkan fatwa-fatwa fikih, menunjukkan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan pelaksanaan kampanye pembatasan secara luas terhadap seluruh lembaga yang berafiliasi dengan komunitas Syiah."
Sebagai catatan penutup, rezim Al Khalifa mungkin dapat menciptakan suasana ketakutan dan untuk sementara mengendalikan aksi-aksi protes melalui peningkatan penindasan. Namun, dalam jangka panjang, langkah-langkah semacam itu berpotensi menimbulkan dampak yang berlawanan dan semakin memperdalam krisis legitimasi yang dihadapi rezim tersebut.