Dari Sejarah hingga Strategi: Mencari Jalan Tengah Persatuan Islam
https://parstoday.ir/id/news/religion-i195568-dari_sejarah_hingga_strategi_mencari_jalan_tengah_persatuan_islam
Pars Today - Melihat perkembangan intelektual di Iran dan masyarakat Islam lainnya menunjukkan bahwa kepedulian untuk menciptakan saling pengertian dan mengurangi perpecahan di antara umat Islam bukanlah fenomena baru, tetapi memiliki akar sejarah yang dalam.
(last modified 2026-08-25T08:42:37+00:00 )
Aug 25, 2026 15:31 Asia/Jakarta
  • Persatuan umat Islam
    Persatuan umat Islam

Pars Today - Melihat perkembangan intelektual di Iran dan masyarakat Islam lainnya menunjukkan bahwa kepedulian untuk menciptakan saling pengertian dan mengurangi perpecahan di antara umat Islam bukanlah fenomena baru, tetapi memiliki akar sejarah yang dalam.

Melaporkan Mehr News, Selasa, 25 Agustus 2026, hubungan antara Syiah dan Sunni, sebagai dua cabang utama dan besar dari agama Islam, adalah salah satu topik paling vital dalam sejarah politik, sosial, dan intelektual dunia Islam. Akar dan awal mula perbedaan historis antara kedua mazhab ini kembali ke peristiwa-peristiwa setelah wafatnya Nabi Islam, titik di mana perselisihan tentang suksesi dan kepemimpinan umat Islam terbentuk, dan secara bertahap memperoleh dimensi politik, sosial, dan fikih yang lebih luas.

Melihat perkembangan intelektual di Iran dan masyarakat Islam lainnya menunjukkan bahwa kepedulian untuk menciptakan saling pengertian dan mengurangi perpecahan di antara umat Islam bukanlah fenomena baru, tetapi memiliki akar sejarah yang dalam.

Dari motif pragmatis Hasan Sabbah pada abad keenam Hijriah untuk membangun pemahaman dengan Sunni, hingga pendekatan damai dari gerakan-gerakan tasawuf dan mistisisme pada abad ketujuh dan kedelapan Hijriah, serta upaya Nader Shah untuk mengadakan pertemuan para ulama Syiah dan Sunni di Najaf untuk mencapai aliansi formal dan mengurangi konflik, semuanya adalah bukti dari upaya berkelanjutan untuk mengatasi masalah ini sepanjang sejarah. Totalitas dari perkembangan historis ini menyediakan landasan yang cocok untuk pembentukan ide-ide baru tentang rekonsiliasi dan konvergensi di era kontemporer.

Meninjau Kembali Perbedaan dan Persamaan Doktrinal

Dalam menganalisis hubungan antara Syiah dan Sunni, pemahaman yang akurat tentang perbedaan dan, pada saat yang sama, persamaan fundamental sangatlah penting. Masalah tawassul (perantaraan) dan istighatha (permohonan pertolongan) adalah salah satu titik yang diperdebatkan dalam diskusi teologis dan fikih. Syiah menganggap meminta syafaat dan bantuan dari hamba-hamba yang saleh, para nabi, dan imam sebagai hal yang diperbolehkan dan sah.

Di sisi lain, para ulama Sunni memiliki pandangan yang berbeda tentang hal ini; beberapa mengizinkan tawassul kepada Nabi dan para wali, beberapa membatasinya hanya pada pribadi Nabi, dan yang lain menganggapnya sama sekali tidak diizinkan. Namun, di samping perbedaan pandangan dan fikih ini, kedua mazhab memiliki keyakinan yang sama dalam prinsip-prinsip dasar Islam, termasuk tauhid, kenabian Muhammad, otoritas Al-Qur'an, kiblat yang sama, dan ritual bersama seperti haji dan salat. Titik-titik persamaan fundamental inilah yang membentuk fondasi utama dari gagasan persatuan dan solidaritas Islam dalam menghadapi ancaman eksternal.

Evolusi Pemikiran Persatuan di Era Kontemporer dan Strategi Praktis

Pemikiran persatuan Islam dalam arti modernnya terbentuk terutama di era kontemporer, sebagai respons langsung terhadap fenomena kolonialisme dan masalah politik serta internasional masyarakat Islam. Para pemikir dan reformis agama, menyaksikan perpecahan internal umat Islam dan eksploitasi kekuatan asing terhadap perpecahan sektarian, semakin menyerukan perlunya konvergensi.

Di antara mereka, tokoh-tokoh seperti Jamal al-Din al-Afghani adalah pelopor dalam menyeru umat Islam untuk bersatu melawan kolonialisme. Selanjutnya, para pembaharu dan ulama terkemuka seperti Ayatullah Boroujerdi, Syekh Shaltut, Ayatullah Taleqani, Profesor Morteza Motahhari, dan Dr. Ali Shariati masing-masing dengan caranya sendiri menekankan perlunya melampaui perbedaan sektarian dan menekankan cita-cita bersama Islam. Juga, di bidang fikih dan politik, pernyataan-pernyataan para marja' terkemuka seperti Akhund Khorasani dan Nurullah Najafi Isfahani tentang persatuan politik dunia Islam menunjukkan kecerdasan para ulama Syiah pada periode-periode sejarah yang kritis.

Dalam beberapa dekade terakhir, dan setelah kemenangan Revolusi Islam di Iran, upaya untuk melembagakan persatuan telah mengambil dimensi baru. Salah satu tindakan paling penting dalam hal ini adalah penetapan "Pekan Persatuan" (Hafte Vahdat). Karena Sunni merayakan kelahiran Nabi pada 12 Rabiul Awal dan sebagian besar Syiah merayakannya pada 17 Rabiul Awal, periode antara dua tanggal ini dinamai sebagai Pekan Persatuan Islam.

Tujuan dari tindakan ini adalah untuk mengubah titik perbedaan kalender menjadi peluang untuk rekonsiliasi, dialog, dan menyelenggarakan konferensi lintas-mazhab di antara para ulama dari berbagai mazhab. Pendirian lembaga-lembaga seperti Forum Internasional Pendekatan Antar-Mazhab Islam dan penyelenggaraan konferensi persatuan tahunan adalah langkah-langkah struktural lainnya untuk mewujudkan cita-cita ini.

Salah satu topik kunci dan menantang dalam literatur rekonsiliasi adalah penjelasan yang tepat tentang konsep "persatuan" dan perbedaannya dari integrasi doktrinal atau koeksistensi damai. Pengalaman historis menunjukkan bahwa upaya untuk menyamakan doktrin atau memaksa pengikut satu mazhab untuk meninggalkan keyakinan khusus mereka tidak hanya tidak mungkin, tetapi juga dapat menyebabkan perilaku kekerasan dan reaksi balik.

Atas dasar ini, para pemikir dan otoritas keagamaan menekankan bahwa yang dimaksud dengan persatuan Islam bukanlah mengabaikan perbedaan teologis dan historis atau melepaskan mazhab sendiri, tetapi tujuan utamanya adalah "persatuan politik dan sosial" dan "koeksistensi damai" dalam menghadapi musuh dan tantangan bersama.

Dalam hal ini, para pemimpin agama Syiah terkemuka selalu membuat perbedaan yang jelas antara solidaritas sosial-politik dan masalah doktrinal. Sebagai contoh, Imam Syahid Ayatullah Sayid Ali Khamenei menganggap Pekan Persatuan sebagai proses untuk mendekatkan dan mempersatukan secara praktis antara Syiah dan Sunni, sementara dalam menanggapi beberapa keraguan, ditegaskan bahwa persatuan politik tidak berarti melepaskan prinsip-prinsip doktrinal, dan hubungan politik serta sosial tidak masalah dan penting.

Sikap berani dan penuh kasih sayang Ayatullah Sistani juga merupakan contoh cemerlang dari pendekatan praktis ini, dengan mengharamkan setiap tindakan yang memecah belah, ia mengemukakan pernyataan abadi bahwa, "Kita tidak boleh mengatakan bahwa Sunni adalah saudara kita, tetapi harus mengatakan bahwa mereka adalah diri kita sendiri (jiwa kita)". Pandangan tegas ini menolak setiap upaya untuk menimbulkan perpecahan, bahkan sebesar satu kata pun, dan memberikan landasan etis dan fikih yang kokoh untuk koeksistensi damai.

Di dunia kontemporer, dengan tumbuhnya arus ekstremis dan takfiri di beberapa masyarakat Islam dan, sebagai akibatnya, meningkatnya gelombang Islamofobia di Barat, kebutuhan akan konvergensi dan rekonsiliasi antarmazhab Islam menjadi dua kali lipat. Meluasnya kekerasan sektarian menunjukkan betapa mengabaikan koeksistensi damai dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada tubuh umat Islam. Karena itu, melampaui slogan-slogan teologis dan bergerak menuju solusi konkret dan nyata adalah strategi utama untuk masa depan hubungan Syiah-Sunni.

"Tulisan ini menelusuri sejarah panjang upaya rekonsiliasi antara Sunni dan Syiah, dari tokoh-tokoh awal seperti Hasan Sabbah dan Nader Shah hingga gerakan modern yang dipelopori oleh al-Afghani, Boroujerdi, dan lainnya. Poin-poin utama:

Perbedaan vs Persamaan: Meskipun ada perbedaan doktrinal (seperti tawassul), kedua mazhab memiliki persamaan fundamental dalam tauhid, kenabian, Al-Qur'an, dan ritual bersama.

Persatuan Bukan Integrasi: Tujuan persatuan Islam bukanlah untuk menghilangkan identitas mazhab, tetapi untuk mencapai persatuan politik dan sosial serta koeksistensi damai dalam menghadapi ancaman bersama.

Upaya Modern: Penetapan Pekan Persatuan dan pendirian Forum Pendekatan Antar-Mazhab adalah langkah-langkah kelembagaan untuk mempromosikan dialog.

Pandangan Para Pemimpin: Ayatullah Khamenei dan Ayatullah Sistani menekankan persatuan praktis tanpa mengorbankan prinsip-prinsip doktrinal, dengan Sistani menyatakan bahwa Sunni adalah "diri kita sendiri", bukan sekadar saudara.

Tantangan Kontemporer: Ekstremisme dan Islamofobia membuat rekonsiliasi menjadi lebih mendesak dari sebelumnya."(Sail)