Ketika Turki Berputar Arah di Suriah
Kesalahan strategis Turki dan kegagalan kelompok-kelompok teroris takfiri dukungan Ankara yang beroperasi di Suriah menyebabkan negara ini harus melupakan ambisinya menguasai negara Arab tetangganya itu.
Sikap para pejabat tinggi Turki, terutama presiden, perdana menteri dan menteri luar negerinya dalam mereaksi masalah Suriah selama sepekan terakhir menunjukkan adanya perubahan dalam kebijakan politik Ankara terhadap Damaskus yang selama ini konfrontatif.
Selama lima tahun lebih, Turki mengamini kebijakan Arab Saudi dan Qatar dalam mendukung kelompok teroris yang beroperasi di Suriah, terutama Front Al-Nusra dan Daesh. Tapi kini, Ankara mulai seirama dengan publik dunia mendukung penyelesaian diplomatik krisis Suriah.
Perubahan intonasi politik para pejabat Ankara menyikapi krisis Suriah terjadi setelah kelompok teroris dukungannya kalah di provinsi Homs, Deir ez-Zor, dan Raqqa. Lebih dari itu, kekalahan paling telak yang terbaru menimpa kelompok teroris di Aleppo. Kini, kelompok-kelompok teroris berada dalam pengepungan dan kontrol militer Suriah yang didukung Rusia. Fenomena terbaru ini memaksa Ankara meminta maaf kepada Moskow, sebagai sekutu utama Damaskus.
Meskipun perubahan kebijakan Turki dalam masalah Suriah dipicu oleh faktor kekalahan kelompok-kelompok teroris dukungan Ankara di medan perang Suriah. Tapi, faktor lain memberikan kontribusi besar terhadap perubahan kebijakan Ankara terhadap Damaskus, yaitu meluasnya serangan teroris hingga ke Turki dan kerugian negara ini akibat penurunan hubungan bilateral dengan Moskow pasca penembakan pesawat tempur Rusia oleh militer Turki.
Perubahan kebijakan Turki dalam menyikapi krisis Suriah berlangsung di saat sekutu regionalnya, terutama Arab Saudi dan Qatar harus mengeluarkan biaya besar untuk membiayai kelompok-kelompok ekstrem takfiri yang beroperasi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.
Tapi, sejak dua tahun lalu Qatar, Uni Eropa dan dalam tahap tertentu AS mulai realistis menyikapi masalah Suriah dengan mengakui kegagalannya menggunakan opsi militer, dan meninggalkan Ankara dan Riyadh yang masih berpegang teguh terhadap solusi militer.
Meskipun terlambat, tapi langkah Turki ini dipandang oleh sejumlah negara yang sejak awal krisis menentang opsi militer di Suriah, seperti Iran, Rusia, Cina dan India, sebagai keputusan penting.
Sejatinya, Perubahan sikap Turki ini semakin menguatkan pandangan bahwa satu-satunya solusi krisis Suriah adalah perundingan antarkubu politik Suriah, dan petualangan pihak asing yang mencampuri urusan negara Arab itu justru akan mempersulit penyelesaian krisis. (PH)