Menelisik Kabinet Baru Suriah
Kabinet baru Suriah dilantik dan menyampaikan sumpah di hadapan presiden negara Arab itu. Bashar Assad hari Minggu (3/7) melantik kabinet baru yang dipimpin oleh perdana menteri Imad Khamis.
Kabinet baru Suriah terdiri dari 26 menteri dan menteri penasehat. Dari jumlah tersebut, sebagian besar masih melanjutkan kerjanya di posisi lama, ditambah 14 menteri dari muka baru.
Kabinet baru Suriah merupakan pemerintahan keenam yang dibentuk di bawah pimpinan Bashar Assad selaku presiden.
Setelah melantik anggota kabinet, Bashar Assad mengatakan bahwa penantian rakyat terhadap kabinet baru semakin besar dan berat. Presiden Suriah juga menegaskan urgensi sikap yang proporsional dan transparan dari perilaku kabinet baru.
Selain itu, Assad juga menekankan hubungan yang baik antara rakyat dengan pemerintah. Presiden Suriah meminta anggota kabinet baru untuk menjalin komunikasi langsung dengan rakyat melalui kementerian masing-masing, dan melayani keperluan rakyat serta menyelesaikan berbagai masalah mereka.
Menurut Assad, terbentuknya kabinet baru berutang besar dari jasa rakyat Suriah. "Tantangan pertama yang sangat penting bagi warga Suriah adalah masalah jaminan keamanan, dan berlanjutnya perang menghadapi kelompok teroris, yang sedang dilancarkan oleh kementerian pertahanan, angkatan bersenjata Suriah di tingkat tertinggi," ujar presiden Suriah.
Selain itu, Assad juga menekankan masalah ekonomi dan pembangunan sebagai prioritas terpenting kabinet baru Suriah. Presiden Suriah menilai ekonomi, pembangunan dan layanan publik sebagai prioritas utama kabinet baru.
Di bagian lain statemennya, Assad menyinggung peran media. Menurutnya, media tidak boleh hanya berperan sebagai juru bicara pemerintah, tapi lebih dari itu harus bisa menyuarakan kepentingan rakyat, sebab kepentingan rakyalah yang harus diprioritaskan.
Sementara itu, dinamika pertempuran di medan perang Suriah menunjukkan indikasi kemenangan pihak Damaskus melawan kelompok teroris. Terkait hal ini, penasehat perdana menteri Suriah menekankan bahwa militer Suriah dan gerakan perlawanan di wilayah utara Aleppo untuk membebaskan sebagian wilayah dari cengkeraman kelompok teroris.
Kini, kelompok teroris dalam kondisi terdesak. Mereka menerima pukulan telak akibat serangan militer Suriah yang dibantu sekutunya serta gerakan perlawanan rakyat.
Sebagian negara berupaya mencegah digelarnya perundingan Jenewa dengan meningkatkan kekuatan di medan tempur, tapi faktanya kelompok teroris dukungan mereka justru kalah. Indikasi di lapangan menunjukkan pasca pertemuan Jenewa 3 mereka meningkatkan pembantaian, perusakan dan aksi teror bom yang membabi-buta. Tapi alih-alih meraih tujuannya, mereka semakin tersudut karena perlawanan militer yang didukung kekuatan rakyat Suriah.
Mufti Suriah, Ahmad Badreddin Hasoun dalam pertemuan dengan sejumlah anggota parlemen Eropa mengkritik kebijakan regional dan internasional dalam masalah internal Suriah. "Skenario AS, Turki, Arab Saud dan rezim Zionis adalah memecah-belah Suriah, tapi dinamika politik dan perkembangan di medan tempur menunjukkan skenario mereka membentur dinding," tegas Hasoun.(PH)