Menteri Ekstrem Netanyahu Tolak Perjanjian Gencatan Senjata Permanen di Gaza
Dua menteri garis keras dan ekstrem dalam kabinet koalisi pimpinan Benjamin Netanyahu mengancam akan membubarkan kabinet jika terjadi gencatan senjata permanen di Gaza.
Kantor berita Palestina, Sama hari Selasa (28/11/2023) Itamar Ben Gvir, Menteri Keamanan Dalam Negeri Rezim Zionis, mengatakan, "Penghentian perang di Gaza berarti pembubaran dan runtuhnya pemerintah Israel."
Bezalel Smotrich, Menteri Keuangan dan tokoh garis keras di kabinet Netanyahu juga mengungkapkan, "Jika Israel dan Palestina mencapai gencatan senjata permenen di Jalur Gaza, saya akan mengundurkan diri dari pemerintahan dan akibatnya kabinet akan dibubarkan,".
Ancaman kedua pejabat kabinet Netanyahu ini muncul di tengah spekulasi bahwa pihak-pihak yang bertikai, bersama dengan Amerika Serikat dan Qatar, berupaya memperluas gencatan senjata di Gaza.
Kanal 12 televisi rezim Zionis mengumumkan bahwa David Barnea, Direktur Mossad telah tiba di Doha dan ada kemungkinan untuk memperluas perjanjian pertukaran tahanan setelah berakhirnya masa perjanjian gencatan senjata saat ini.
Kantor berita Reuters juga melaporkan bahwa Direktur CIA dan Mossad dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammad bin Abdulrahman Al Thani untuk membahas perpanjangan perjanjian gencatan di Jalur Gaza.
Menurut sumber Reuters, pejabat dari Mesir juga telah melakukan perjalanan ke Qatar untuk berpartisipasi dalam pertemuan ini.
Negosiasi baru-baru ini, yang dimediasi oleh Doha, menghasilkan gencatan senjata sementara selama empat hari, termasuk pembebasan tahanan antara rezim pendudukan Zionis dan perlawanan Palestina di Gaza.
Gencatan senjata ini dimulai pada hari Jumat dan berakhir pada Senin malam, namun diperpanjang selama 2 hari lagi dengan upaya mediator Qatar, Mesir dan Amerika Serikat.(PH)