Bahrain Jangan Bermain Api di Teluk Persia!
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i187682-bahrain_jangan_bermain_api_di_teluk_persia!
Pars Today - Bahrain memerlukan peninjauan ulang yang serius terhadap pendekatannya. Melanjutkan jalur saat ini tidak hanya menempatkan negara tersebut pada risiko ancaman keamanan, tetapi juga menjadikannya bagian dari krisis yang lebih luas.
(last modified 2026-03-26T14:40:59+00:00 )
Mar 26, 2026 21:35 Asia/Jakarta
  • Peta Bahrain
    Peta Bahrain

Pars Today - Bahrain memerlukan peninjauan ulang yang serius terhadap pendekatannya. Melanjutkan jalur saat ini tidak hanya menempatkan negara tersebut pada risiko ancaman keamanan, tetapi juga menjadikannya bagian dari krisis yang lebih luas.

Menurut laporan Pars Today mengutip Mehr, sekitar empat minggu telah berlalu sejak agresi Amerika-Israel terhadap Iran. Selama agresi tersebut, salah satu aktor regional yang mengadopsi posisi yang patut dicermati dan mengkhawatirkan adalah Bahrain.

Negara kecil di Teluk Persia ini tidak hanya berada di samping pihak-pihak agresor di tingkat politik, tetapi juga di bidang operasional, dengan menyediakan pangkalan dan wilayah udara, secara efektif menjadi bagian dari mekanisme serangan terhadap Iran. Pendekatan seperti itu, dari sudut pandang hukum internasional dan pertimbangan strategis, lebih dari sekadar dukungan politik. Ini merupakan partisipasi langsung dalam tindakan militer.

Dalam menganalisis perilaku Bahrain, beberapa poin penting perlu diperhatikan.

Pertama, negara ini, dalam beberapa tahun terakhir, karena hubungan keamanan dan militer dengan Amerika Serikat, telah berada dalam orbit pengambilan keputusan Washington. Kehadiran pangkalan militer AS di wilayah Bahrain secara efektif telah mengubah negara tersebut menjadi platform operasional yang, pada saat-saat kritis, alih-alih memainkan peran yang seimbang, bertindak untuk tujuan kekuatan ekstrateritorial.

Namun, apa yang terjadi pada tahap ini melampaui kerja sama militer yang biasa. Bahrain, menyadari implikasi dari keputusan tersebut, dan telah memasuki tingkat konflik yang dapat menimbulkan biaya yang besar.

Kedua, Bahrain menyalahgunakan mekanisme internasional. Pengajuan dua rancangan resolusi terhadap Iran di Dewan Keamanan menunjukkan upaya negara ini untuk melegitimasi tindakan militer pihak lawan. Tindakan ini terjadi meskipun pengamat internasional menganggap serangan terhadap Iran sebagai pelanggaran yang jelas terhadap prinsip-prinsip dasar Piagam PBB. Dalam situasi seperti itu, Bahrain, alih-alih mengadopsi posisi netral atau menyerukan de-eskalasi, secara efektif mengambil langkah menuju peningkatan krisis.

Namun, mungkin aspek terpenting dari masalah ini adalah konsekuensi keamanan bagi Bahrain itu sendiri. Iran, sebagai salah satu kekuatan utama di kawasan, dalam beberapa tahun terakhir telah memperoleh kemampuan yang luar biasa di bidang rudal dan drone. Kemampuan ini tidak hanya berada pada tingkat pencegahan, tetapi juga telah berulang kali menarik perhatian analis militer di bidang operasional.

Sebaliknya, Bahrain adalah negara kecil dengan kapasitas pertahanan yang terbatas, yang sebagian besar mendefinisikan keamanannya berdasarkan dukungan asing. Ketidakseimbangan ini, jika terjadi konflik langsung, dapat menimbulkan masalah yang sangat besar bagi Bahrain.

Kenyataan yang ada adalah ketergantungan berlebihan pada dukungan eksternal selalu membawa risiko serius. Pengalaman sejarah di kawasan ini telah menunjukkan bahwa kekuatan besar, dalam situasi krisis, memprioritaskan kepentingan mereka sendiri, dan tidak selalu melindungi sekutu yang lebih kecil. Bahkan pada tahap ini, ada bukti yang tak terbantahkan bahwa Amerika Serikat dan Israel menghadapi tantangan serius dalam menghadapi kemampuan militer Iran.

Dalam kondisi seperti itu, anggapan bahwa kedua aktor ini dapat menjamin keamanan Bahrain terhadap kemungkinan reaksi Iran lebih merupakan bentuk optimisme yang berbahaya daripada didasarkan pada kenyataan. Menurut Haaretz, dari 10 rudal Iran, 8 mengenai targetnya. Ini berarti tidak adanya pertahanan yang efektif terhadap kekuatan ofensif Iran, dan ini merupakan tanda bahaya bagi semua negara kecil di Teluk Persia jika mereka terus berpartisipasi dalam agresi terhadap Iran.

Di sisi lain, masuknya Bahrain ke tingkat ketegangan ini dapat membawa konsekuensi internal bagi negara tersebut. Masyarakat Bahrain adalah kombinasi dari berbagai kelompok yang selalu sensitif terhadap perkembangan regional. Mengadopsi posisi keras terhadap Iran dapat menyebabkan peningkatan perpecahan internal dan munculnya ketidakpuasan sosial. Masalah yang, dalam situasi kawasan yang tidak stabil, dapat menjadi faktor yang memperburuk krisis internal.

Dalam kerangka ini, tampaknya Bahrain membutuhkan peninjauan ulang yang serius terhadap pendekatannya. Melanjutkan jalur saat ini tidak hanya menempatkan negara ini pada risiko ancaman keamanan, tetapi juga menjadikannya bagian dari krisis yang lebih luas yang konsekuensinya tidak dapat diprediksi.

Perubahan pendekatan ini dapat dilakukan melalui beberapa jalur: pertama, menghentikan kerja sama operasional yang telah menjadikan teritorial dan zona udara Bahrain sebagai tempat untuk tindakan militer terhadap Iran. Kedua, mengadopsi posisi yang seimbang di bidang diplomatik dan menghindari tindakan provokatif di lembaga-lembaga internasional. Ketiga, berusaha memainkan peran yang netral atau mengurangi ketegangan, alih-alih memperburuknya.(sl)