Anak-anak, Korban Utama Tragedi Suriah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i18970-anak_anak_korban_utama_tragedi_suriah
Anak-anak menjadi korban utama tragedi yang terjadi di Suriah selama lima tahun terakhir. Sebab, melebihi korban dari pihak manapun, mereka yang tidak berperan apapun dalam penyebaran konflik di Suriah, justru menjadi korban utama perang yang berkecamuk di negara Arab itu.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Aug 28, 2016 13:15 Asia/Jakarta
  • Anak-anak, Korban Utama Tragedi Suriah

Anak-anak menjadi korban utama tragedi yang terjadi di Suriah selama lima tahun terakhir. Sebab, melebihi korban dari pihak manapun, mereka yang tidak berperan apapun dalam penyebaran konflik di Suriah, justru menjadi korban utama perang yang berkecamuk di negara Arab itu.

Direktur Eksekutif UNICEF menyampaikan kekhawatirannya mengenai  kondisi kemanusiaan di Aleppo. Anthony Lake mengatakan, lebih dari 100 ribu anak sejak awal Juli menjadi korban perang yang terjadi di wilayah timur kota Aleppo. Selain itu, lebih dari 350 ribu orang mengungsi dari wilayah barat yang dilanda konflik.

Di tahun 2011, Suriah mengalami nasib yang mirip dengan negara Arab lainnya, menghadapi gelombang protes terhadap pemerintah. Tapi, ada dua perbedaan utama antara fenomena yang terjadi di Suriah dengan negara Arab lainnya. Perbedaan tersebut terletak pada posisi geografis dan kedudukan politik Suriah di kawasan Asia barat.

Suriah memiliki perbatasan dengan Palestina Pendudukan, Irak, Yordania, Turki dan Lebanon. Masing-masing memiliki kedudukan khusus bagi kekuatan regional dan trans-regional. Selain itu, posisi politik Suriah juga tidak kalah penting dari geografisnya yang strategis. Sebab, Suriah merupakan salah satu poros perlawanan di Timur Tengah yang selama ini menjadi penentang utama rezim Zionis. Dua faktor utama ini menyebabkan gelombang protes rakyat di Suriah berubah menjadi "ajang bancakan multinasional" yang melibatkan begitu banyak negara dunia.

Friksi dalam negeri Suriah berubah menjadi konflik internasional, karena intervensi negara-negara Barat dan Arab, serta tetangga regionalnya, terutama AS, Inggris dan Prancis, serta Arab Saudi, Qatar, Turki dan rezim Zionis Israel. Negara-negara asing inilah yang memfasilitasi masuknya kelompok teroris semacam Daesh, Front Al-Nusra dan lainnya ke wilayah Suriah, sehingga friksi internal Suriah berubah menjadi perang besar yang terus berkecamuk hingga kini.

Bulan ke-65 dari krisis Suriah akan berlalu, tapi konflik di negara Arab ini tidak kunjung usai. Sebagian besar kota dan desa porak-poranda. Infrastruktur hancur lebur. Lebih dari 11 juta orang mengungsi di dalam dan luar negeri Suriah. Ratusan ribu orang tewas dan cidera. Korban utama tragedi ini adalah anak-anak. Ketika seusia mereka di negara lain bisa menikmati pendidikan dengan tenang, anak-anak Suriah menyaksikan rangkaian kehancuran di negaranya sendiri. Jika pun mereka bisa bersekolah, hanya di kamp-kamp pengungsian dengan fasilitas seadanya. Lebih dari itu, sebagian dari mereka kehilangan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Kelaparan, kemiskinan, penyakit dan ancaman perang terus-menerus menghantui mereka.

Anak-anak Suriah menghadapi masalah tekanan mental dan psikologis yang begitu besar akibat perang. Bahkan, sebagian dari mereka harus hidup dengan fisik yang cacat disebabkan perang. Pada saat yang sama, teroris terus-menerus mengancam kehidupan mereka setiap saat.

Kini muncul pertanyaan, di tengah gegap gempita slogan HAM negara-negara Barat selama ini, dan laporan para reporter khusus hak asasi manusia di negara-negara target mereka, mengapa anak-anak Suriah dan Yaman tidak memiliki tempat dalam slogan dan klaim yang mereka usung selama ini? (PH)