Warga Syiah di Pakistan, Yaman dan Jerman Gelar Perayaan Idul Ghadir
-
Perayaan Hari Raya Ghadir.
Warga Muslim bermazhab Syiah dan para pengikut Ahlulbait as di Pakistan, dan warga Iran yang tinggal di negara tersebut, merayakan Idul Ghadir Khum sebagai Yaumullah al-Akbar dan hari pengumuman wilayah (kepemimpinan) dan penunjukan Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai penerus Rasulullah SAW oleh Nabi Agungg Muhammad SAW, dengan penuh kebahagiaan.
Parstoday – Para pecinta Ahlulbait as di seluruh Pakistan pada Rabu (3/6/2026) malam dengan antusias menghadiri masjid dan husainiyah untuk memperingati Hari Raya Wilayah dan Imamah Amirul Mukminin Ali, wasi dan penerus Nabi Agung Muhammad SAW, dengan menyelenggarakan perayaan-perayaan yang meriah.
Dalam acara tersebut, para penceramah menjelaskan peristiwa bersejarah Ghadir Khum dan menyebut hari pengumuman imamah dan wilayah Imam Ali as oleh Nabi Agung Islam SAW sebagai hari yang suci dan mulia. Para pelantun syair keagamaan (madah) juga memeriahkan suasana spiritual acara dengan membawakan lagu-lagu religi dan pembacaan maulid.
Perwakilan politik dan kebudayaan Republik Islam Iran di kota Lahore, Karachi, Quetta, dan Peshawar juga menjadi tuan rumah bagi warga Iran yang tinggal di Pakistan dan komunitas Syiah setempat pada malam Idul Wilayah.
Warga Iran yang bermukim di Islamabad juga pada Rabu malam, dengan kehadiran Reza Amiri-Moghaddam, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Pakistan, para pimpinan lembaga Iran, para kepala Kompleks Pendidikan Imam Husain as, staf kedutaan, dan keluarga mereka, mengadakan acara khusus di Kedutaan Besar Iran.
Langit Yaman Penuh Cahaya dalam Perayaan Hari Raya Ghadir
Langit Sana’a, ibu kota Yaman, dan berbagai provinsi di negara itu pada Rabu malam dipenuhi cahaya kembang api dalam rangka perayaan Hari Raya Ghadir Khum. Pertunjukan ini mencerminkan besarnya makna emosional dan popularitas luas peringatan keagamaan tersebut di kalangan rakyat Yaman.
Kembang api itu menghiasi langit kota-kota Yaman dan menggambarkan kebanggaan rakyat negara tersebut terhadap peringatan yang memiliki makna religius dan historis yang mendalam, yang berkaitan dengan peristiwa Ghadir Khum.
Peringatan Idul Ghadir di Berlin
Sementara itu, acara peringatan Idul Sa’id Ghadir Khum juga diselenggarakan di Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Berlin dengan dihadiri sejumlah warga Iran yang bermukim di Jerman serta para pecinta Iran Islam. Dalam kesempatan tersebut, Majid Nili, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Jerman, dengan menyinggung kedudukan tinggi peristiwa Ghadir Khum, menyebut peristiwa besar Islam ini sebagai dokumen yang jelas dan abadi dalam upaya mewujudkan keadilan Alawi dan menjelaskan prinsip wilayah.
Sejarah
Pada tanggal 18 Dzulhijjah, sebuah peristiwa penting terjadi di daerah telaga Ghadir Khum yang terletak antara Mekkah dan Madinah. Kala itu Rasulullah Saw menyampaikan sebuah pesan kepada 120 ribu orang yang baru pulang dari ibadah haji.
Dalam sejarah Islam peristiwa besar ini dikenal sebagai Ghadir Khum. Karena nilai-nilai dan sakralitas yang dimilikinya, kaum Muslim menganggap momen itu sebagai hari raya (Idul Ghadir) dan merayakannya.
Telaga Khadir Khum yang terletak di antara Mekkah dan Madinah selalu menjadi pilihan para musafir untuk beristirahat. Peristiwa Ghadir terjadi ketika Nabi Muhammad Saw kembali dari Haji Wada' bersama kaum Muslim. Suasana terasa bising karena banyaknya jumlah manusia dan suara deru kaki tunggangan mereka, tetapi Rasulullah Saw larut dalam sebuah perenungan dan menunggu datangnya sebuah perintah besar.
Ketika rombongan jamaah haji tiba di Ghadir Khum, Rasulullah mulai merasakan kedatangan Malaikat Jibril, sang pembawa wahyu. Benar, Jibril datang dengan sebuah pesan dari sisi Allah Swt dan dia berkata kepada Rasulullah, "Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu. Dan jika kamu tidak mengerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (QS. Al Maaidah, ayat 67)
Setelah turunnya ayat ini, Rasulullah Saw dengan wajah yang bercahaya memerintahkan rombongan haji untuk berhenti dan meminta mereka yang telah sampai di depan supaya kembali dan rombongan yang masih di belakang untuk segera bergabung dengan mereka yang sudah tiba di Ghadir Khum.
Nabi Muhammad Saw kemudian mengerjakan shalat Dzuhur dan menyampaikan khutbah setelahnya, di mana Ali bin Abi Thalib berada di sisi kanannya. Beliau berkata, "Segala puji hanya bagi Allah Swt dan dari-Nya aku mohon pertolongan dan aku beriman kepada-Nya dan kami memohon pertolongan dari-Nya dari bujukan hawa nafsu yang tercela… Allah Swt yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui mengabarkan kepadaku bahwa aku akan segera kembali kepada-Nya, aku akan segera memenuhi panggilan-Nya…
Aku akan datang terlebih dahulu di tepi telaga Kautsar, kemudian kalian akan memasuki telaga itu. Oleh karena itu, perhatikanlah setelahku, bagaimana kalian akan memperlakukan Tsaqalain (dua pusaka), Tsiql Akbar (al-Quran) dan Tsiql Asghar yaitu (Itrahku)…"
Kemudian Rasulullah mengangkat tangan Imam Ali as sehingga orang-orang melihatnya sembari berkata, "Siapa saja yang menjadikan aku sebagai pempimpinnya (maulanya), maka Ali adalah pemimpin baginya."
Sebelum rombongan berpisah, Malaikat Jibril turun untuk kedua kalinya menyampaikankan ayat ke-3 surah al-Maidah yang terkenal dengan nama ayat Ikmal. "Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu."
Keheningan menyelimuti wilayah itu dan tiba-tiba suara Rasulullah Saw kembali terdengar dari atas mimbar. Beliau berkata, "Wahai manusia! Cahaya hidayah dari sisi Allah telah menyatu dengan jiwaku, dan setelah itu (cahaya hidayah) ditempatkan dalam jiwa Ali dan kemudian pada keturunannya sampai kepada Imam al-Qaim (Imam Mahdi as)."
Rasulullah Saw kemudian terdiam sejenak dan seakan menyaksikan peristiwa-peristiwa yang bakal dihadapi umat manusia di hari-hari mendatang. Beliau dengan suara yang lebih keras kembali berseru, "Wahai kalian yang hadir, sampaikan pesan ini kepada orang-orang yang gaib (tidak hadir). Aku akan segera pergi dari tengah kalian dan meninggalkan dua pusaka berharga untuk kalian yaitu al-Quran dan Ahlul Baitku."
Peristiwa Ghadir bukanlah sebuah peristiwa biasa, Allah Swt memerintahkan Rasulullah untuk mengangkat Imam Ali as sebagai khalifahnya dan jika perintah ini tidak dilaksanakan, maka beliau dianggap belum menyampaikan risalahnya.
Melalui khutbah Ghadir, Rasulullah telah memperjelas kewajiban setiap orang Muslim. Oleh karena itu, peristiwa dan nilai-nilai Ghadir Khum harus ditransfer dari generasi ke generasi sehingga semua mengetahui kebenaran wilayah (kepemimpinan) Imam Ali as.
Peristiwa Ghadir Khum berkaitan dengan masalah sempurnanya agama dan tercukupinya nikmat bagi kaum Muslim. Ghadir adalah sebuah peristiwa besar sejarah dunia dan merupakan sebuah kesempatan untuk mengenali sejarah Islam dan sebuah fase yang membedakan sejarah Islam dari sejarah Jahiliyah. Untuk itu, semua individu Muslim berkewajiban untuk menela'ah peristiwa Ghadir dan memahami pesan-pesan yang dibawanya.
Setelah beberapa bulan dari peristiwa penting ini, Rasulullah Saw meninggal dunia dan menyisakan duka yang mendalam bagi masyarakat Muslim yang baru terbentuk. Orang-orang larut dalam kesedihan dan duka, sementara sebagian pihak ingin memanfaatkan situasi itu untuk keuntungan kelompoknya.
Para cendekiawan Muslim percaya bahwa jika kaum Muslim menjalani wasiat Rasulullah tentang kepemimpinan Ali as dan mendengarkan nasihat Rasulullah dalam kasus-kasus lain, maka Islam akan menjadi agama universal dan keadilan tersebar ke penjuru dunia.
Mungkin inilah sebabnya para pakar sejarah yang mengetahui kebenaran peristiwa Ghadir Khum, menyesali atas penyimpangan yang terjadi setelah wafatnya Nabi Saw. Filsuf terkenal Prancis, Voltaire dengan nada menyesal mengatakan, "Keinginan terakhir Muhammad tidak terkabulkan, dia telah menunjuk Ali sebagai penggantinya."
Peristiwa Ghadir dapat ditela'ah dari beberapa sudut dan salah satunya, kepemimpinan dalam Islam bukan bermakna meraih kekuasaan dan kedudukan, tetapi sebuah posisi pemberian Tuhan dan pemimpin harus terjaga dari setiap dosa dan kesalahan.
Kepemimpinan yang saleh dan khalifah kaum Muslim merupakan sebuah hal yang sangat penting sehingga Allah Swt menyebut kepemimpinan sebagai perkara penting agama yang membuat ia menjadi sempurna. Oleh karena itu, Rasulullah tidak dapat menunjuk siapa pun sebagai khalifah penggantinya jika tanpa perintah Ilahi.
Perintah penunjukan ini sudah disampaikan oleh Rasul kepada umat. Apa yang terjadi di Ghadir Khum adalah peresmian penunjukan pengganti Rasulullah oleh Allah. Namun, perlu dicatat bahwa faktor penunjukan ini karena keutamaan dan nilai-nilai yang tertanam dalam jiwa Imam Ali as.
Semua sifat-sifat baik berkumpul pada diri Ali as, dan kehendak Tuhan menetapkan kepemimpinan umat setelah Rasulullah diberikan kepada Ali berdasarkan pertimbangan nilai-nilai, keutamaan, dan sifat baik tadi. Di sini, Tuhan ingin menekankan bahwa pemerintahan mengikuti nilai-nilai dan orang yang dapat menjadi khalifah kaum Muslim adalah sosok yang memiliki nilai-nilai itu.
Ibnu Abil Hadid berkata, "Pada masa itu, keutamaan-keutamaan Ali bin Abi Thalib begitu jelas bagi masyarakat di mana setelah wafat Rasul, tidak ada satu pun dari kalangan Muhajirin dan juga mayoritas Ansar yang meragukan bahwa posisi khalifah akan diserahkan kepada Ali."
Bertepatan dengan perayaan Idul Ghadir, perhatian orang-orang tertuju pada sebuah perkara penting akidah, sosial, dan vital dalam kehidupan yaitu wilayah dan kepemimpinan kaum Muslim.
Dalam sejarah Islam, ada dua peristiwa penting dan besar yang tidak boleh dilupakan yaitu risalah Rasulullah Saw dan wilayah Imam Ali as. Peristiwa pertama adalah diturunkannya wahyu ke kalbu Rasulullah yang menandai dimulainya misi kenabian, dan peristiwa kedua adalah Ghadir yang menandai kepemimpinan Ali as. Sebenarnya, Ghadir merupakan pelanjut misi risalah dan sama pentingnya dengan Hari Bi'sat.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengenai hal ini mengatakan, "Idul Ghadir disebut sebagai Idullah al-Akbar, hari raya ini lebih tinggi dari semua hari raya dalam kalender Islam, lebih berbobot, pengaruh hari raya ini lebih besar dari semua hari raya. Mengapa? Karena tugas umat Islam dalam masalah hidayah dan pemerintahan telah ditetapkan pada peristiwa Ghadir.
"Persoalannya bukan masalah wasiat Rasulullah di Ghadir tidak dijalankan, Rasul sendiri – menurut beberapa riwayat – telah mengabarkan bahwa (wasiat ini) tidak akan dilaksanakan, tetapi masalah Ghadir adalah masalah membentuk sebuah teladan, sebuah parameter dan ukuran sehingga kaum Muslim sampai akhir dunia dapat meletakkan parameter ini di depan dirinya dan menentukan jalur umum umat," tambahnya. (RA)