Hamas: Musim Dingin Dekat, Gaza Terancam Krisis Kemanusiaan yang Memburuk
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i197094-hamas_musim_dingin_dekat_gaza_terancam_krisis_kemanusiaan_yang_memburuk
Pars Today - Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) dalam serangkaian kontak intensif dengan pihak-pihak mediator, dengan memperhatikan mendekatnya musim dingin, memperingatkan tentang memburuknya krisis kemanusiaan di Gaza.
(last modified 2026-09-20T04:47:19+00:00 )
Sep 20, 2026 11:41 Asia/Jakarta
  • Khalil Al-Hayya, Kepala Biro Politik Hamas
    Khalil Al-Hayya, Kepala Biro Politik Hamas

Pars Today - Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) dalam serangkaian kontak intensif dengan pihak-pihak mediator, dengan memperhatikan mendekatnya musim dingin, memperingatkan tentang memburuknya krisis kemanusiaan di Gaza.

Melansir IRNA dari kantor berita Palestina Safa, Minggu, 20 September 2026, Hamas dalam sebuah pernyataan mengumumkan bahwa Khalil Al-Hayya, Kepala Biro Politik gerakan ini pada hari Sabtu (19/9), dengan memperhatikan perkembangan berbahaya di Jalur Gaza dan intensifikasi serangan rezim Zionis Israel serta runtuhnya bangunan-bangunan hunian yang rusak akibat perang yang mengakibatkan korban jiwa, melakukan serangkaian kontak intensif dengan para mediator.

Menurut pernyataan Hamas, Al-Hayya dalam kontak-kontak ini, dengan merujuk pada pencegahan rezim Zionis Israel terhadap masuknya mesin berat yang diperlukan untuk mengumpulkan puing dan mengamankan bangunan yang berisiko runtuh, serta penghalangan masuknya kafilah, tenda, dan logistik untuk melindungi dari dingin dan hujan yang menempatkan puluhan ribu orang dalam kondisi tempat tinggal yang tidak aman, memperingatkan tentang memburuknya krisis kemanusiaan menjelang musim dingin.

Kepala Biro Politik Hamas juga mengirim pesan-pesan ke beberapa negara dan di dalamnya memperingatkan tentang meningkatnya serangan dan pembunuhan oleh tentara rezim Zionis di Jalur Gaza serta berlanjutnya agresi dan pelanggaran hak-hak rakyat Palestina di Tepi Barat dan Masjid Al-Aqsa, dan menilai tindakan-tindakan ini melemahkan peluang ketenangan dan stabilitas.

Al-Hayya menyatakan bahwa pembatasan yang diberlakukan pada upaya bantuan, pemulihan, dan rekonstruksi oleh rezim Zionis, bersamaan dengan intensifikasi kekerasan di lapangan, merupakan pelanggaran terhadap komitmen yang tercantum dalam rencana Donald Trump, Presiden Amerika.

Ia meminta para mediator dan pihak-pihak terkait untuk terus memberikan tekanan pada rezim Israel agar mematuhi kondisi yang disepakati, khususnya komitmen tahap pertama yang mencakup penghentian serangan terencana dan pembunuhan serta izin masuk segera dan tanpa pembatasan bagi mesin berat, peralatan bantuan dan tempat tinggal, serta kebutuhan musim dingin lainnya.

Berdasarkan pernyataan Hamas, para mediator selama perundingan menegaskan upaya berkelanjutan mereka untuk memberikan bantuan ke Jalur Gaza dan memenuhi kebutuhan kemanusiaan mendesak serta komunikasi berkelanjutan dengan pihak-pihak terkait dan berpengaruh untuk melaksanakan kesepakatan dan mewujudkan persyaratannya.

Rezim Zionis pada 7 Oktober 2023 (15 Mehr 1402) memulai perang terhadap Jalur Gaza dengan dua tujuan utama: menghancurkan Gerakan Hamas dan mengembalikan tawanan Zionis dari wilayah ini, tetapi gagal mencapai tujuan-tujuan ini dan terpaksa beralih ke kesepakatan dengan Gerakan Hamas untuk pertukaran tawanan.

"Khalil Al-Hayya, Kepala Biro Politik Hamas, dalam kontak intensif dengan mediator, memperingatkan memburuknya krisis kemanusiaan di Gaza menjelang musim dingin. Israel dicegah masuknya mesin berat untuk membersihkan puing dan mengamankan bangunan berisiko runtuh, serta menghalangi masuknya kafilah, tenda, dan logistik musim dingin, menempatkan puluhan ribu orang dalam kondisi tidak aman. Al-Hayya juga memperingatkan meningkatnya serangan dan pembunuhan di Gaza serta pelanggaran di Tepi Barat dan Masjid Al-Aqsa."(Sail)