Mengapa 77 Delegasi Walk Out Ketika Netanyahu Pidato?
Perjalanan satu hari Netanyahu ke New York, yang berlangsung bersamaan dengan keluarnya 77 delegasi dari ruang Sidang Umum PBB, menjadi gambaran jelas mengenai semakin menguatnya isolasi internasional terhadap rezim Zionis.
Dilaporkan Pars Today, Benjamin Netanyahu pergi ke New York untuk menggunakan mimbar diplomatik terpenting dunia guna membela kinerja rezim Zionis. Namun, adegan yang terbentuk di hadapan kamera-kamera dunia justru menyampaikan pesan yang lebih kuat daripada isi pidatonya. Puluhan delegasi meninggalkan ruang sidang, dan perdana menteri rezim Zionis meninggalkan New York hanya beberapa jam kemudian. Perjalanan singkat ini, ditambah dengan keputusan Trump untuk tidak bertemu dengannya, memberikan gambaran yang berbeda mengenai posisi yang selama bertahun-tahun ditampilkan Netanyahu dan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya dari rezim Zionis di PBB.
Sebelum pidato Netanyahu, Washington Post melaporkan bahwa ia menghadapi “tingkat isolasi internasional yang baru dan belum pernah terjadi sebelumnya”. Pentingnya laporan ini terletak pada kenyataan bahwa Washington Post tidak membatasi isolasi tersebut hanya pada hubungan Tel Aviv dengan Eropa, tetapi menempatkannya dalam konteks meningkatnya ketegangan antara Netanyahu dan Donald Trump. Perselisihan mengenai perang di Gaza dan kemudian perang terhadap Iran kini menjadi salah satu faktor yang memberikan tekanan terhadap hubungan Netanyahu dengan Gedung Putih.
Perubahan dalam sikap Washington ini memiliki arti khusus. Selama bertahun-tahun, Netanyahu berpegang pada asumsi politik bahwa meskipun tekanan internasional meningkat, dukungan Amerika Serikat dapat menetralkan biaya diplomatik dari kebijakan Tel Aviv. Kini, Washington Post berbicara mengenai berkurangnya dukungan publik Amerika Serikat terhadap rezim Zionis dan meningkatnya pembahasan di Kongres mengenai perubahan kebijakan bantuan militer. Meskipun perkembangan ini belum dapat diartikan sebagai keretakan dalam hubungan Amerika Serikat dan rezim Zionis, perubahan suasana politik di sekitar hubungan tersebut tidak dapat diabaikan.
Di Eropa, tanda-tanda tersebut juga semakin terlihat. Meningkatnya sanksi terkait para pemukim, pengakuan terhadap negara Palestina oleh sejumlah pemerintah Eropa, serta pembatasan persenjataan menunjukkan bahwa persoalan ini telah melampaui tingkat kritik verbal dan beralih menjadi tindakan politik dan hukum. Washington Post juga mengkaji perkembangan ini dalam kaitannya dengan meningkatnya kritik global terhadap perang di Gaza, perluasan permukiman di Tepi Barat, dan kekerasan para pemukim.
Namun, pertunjukan di New York juga memiliki aspek yang lebih penting: isolasi Netanyahu tidak lagi sekadar menjadi persoalan diplomatik, tetapi telah berubah menjadi persoalan domestik. Pemilihan anggota Knesset akan segera berlangsung, dan para pengkritik dari dalam negeri menekan pemerintahan Netanyahu terkait biaya internasional perang serta menurunnya posisi rezim Zionis di dunia. Karena itu, mimbar PBB bagi Netanyahu secara bersamaan memiliki dua audiens: dunia dan opini publik domestik. Namun, keluarnya 77 delegasi dari ruang sidang merupakan gambaran yang disaksikan oleh kedua audiens tersebut.
Bahkan media Zionis tidak dapat menyembunyikan perubahan ini. Shalom Yerushalmi dalam Times of Israel menggambarkan perjalanan Netanyahu sebagai tanda menurunnya posisi internasionalnya dan menyoroti bahwa perdana menteri rezim Zionis tidak lagi memiliki keleluasaan untuk berada di New York secara bebas dan dalam waktu lama seperti sebelumnya. Persoalannya bukan sekadar durasi perjalanan; persoalannya adalah perubahan biaya politik dan keamanan yang timbul dari perjalanan luar negeri Netanyahu.
Dalam kondisi seperti ini, keluarnya 77 delegasi dari ruang Sidang Umum tidak dapat dianggap semata-mata sebagai sebuah insiden seremonial. Tindakan tersebut merupakan bagian dari gambaran yang lebih besar; sebuah gambaran ketika dukungan tradisional Barat terhadap Tel Aviv menghadapi tekanan yang semakin besar dari opini publik, pemerintah-pemerintah, lembaga-lembaga hukum, dan bahkan sebagian dari struktur politik Amerika Serikat.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa meskipun Netanyahu pergi ke New York dengan tujuan menyampaikan pidato, yang tersisa dalam ingatan bukanlah pidatonya, melainkan keluarnya para delegasi. Perjalanan satu hari, tidak adanya pertemuan dengan Trump, dan keluarnya 77 delegasi dari ruang sidang merupakan tiga tanda dari suatu perubahan yang lebih besar: biaya internasional dari kebijakan rezim Zionis tidak lagi dapat disembunyikan.