Memburuknya Krisis Ekonomi Saudi
Arab Saudi dilaporkan akan membatalkan sepertiga proyek senilai 20 miliar dolar menyusul krisis finansial baru akibat penurunan harga minyak dan biaya perang di Yaman serta dukungan finansial kepada kelompok-kelompok teroris di beberapa negara kawasan.
Pemerintah Riyadh berusaha meninjau ulang ribuan proyek senilai sekitar 260 miliar rial Saudi atau sekitar 69 miliar dolar dan berencana membatalkan sekitar sepertiga proyek ini.
Tidak ada hasil lain dari kekuasaan bertahun-tahun rezim Al Saud di Arab Saudi kecuali lemahnya ekonomi negara ini yang selalu bergantung pada hasil penjualan minyak.
Selama beberapa tahun terakhir, terutama pasca konspirasi penurunan drastis harga minyak, di mana Al Saud terlibat dalam konspirasi ini dengan Barat, kondisi ekonomi Arab Saudi melemah dan terancam. Tentunya dampak dari melemahnya ekonomi tersebut bisa dirasakan langsung oleh masyarakat Arab Saudi.
Dalam beberapa bulan terakhir, Arab Saudi terpengaruh oleh kebijakan konspiratif AS untuk menurunkan harga minyak, namun Riyadh sendiri terkena dampak negatif dari konspirasi tersebut sehingga ekonomi Arab Saudi melemah.
Penurunan drastis harga minyak selama dua tahun, meskipun berdampak negatif terhadap ekonomi sejumlah negara pengekspor minyak, namun pada akhirnya Arab Saudi menjadi pihak yang paling rugi dibandingkan dengan negara lain. Sebab, ekonomi negara ini bergantung pada pendapatan penjualan minyak.
Bedasarkan laporan Organisasi Internasional Pembangunan Sumber Daya Manusia (WHDO), meskipun Arab Saudi memperoleh pendapatan ratusan miliar dolar pertahun dari penjualan minyak, namun sekitar 70 persen warga negara ini mengalami kesulitan ekonomi dan tidak puas dengan kondisi ekonomi mereka. Mereka menginginkan perubahan dasar di Arab Saudi terutama di sektor ekonomi.
Menurunnya harga minyak dunia pada musim panas tahun 2014, telah membuat Arab Saudi kehilangan sumber-suber pendapatan, di mana 90 persen pendapatannya berasal dari penjualan minyak. Hal ini berdampak negatif juga pada cadangan devisa Arab Saudi.
Meskipun pengaruh penurunan harga minyak global terhadap sejumlah negara pemasok minyak terjadi secara bertahap, tapi pada akhirnya perekonomian negara yang mengandalkan minyak sebagai sumber pendapatan tunggalnya, seperti Arab Saudi, terpukul oleh petualangannya sendiri.
Pemerintah Saudi harus menanggung defisit anggaran yang besar. Tidak hanya itu, rezim Al Saud juga menghadapi persoalan menyusul membengkaknya biaya perang di Yaman dan Suriah, yang memaksa negara ini mengambil cadangan devisa negaranya. Namun cadangan devisa tersebut juga tidak mampu memulihkan kondisi buruk finansial Arab Saudi.
Menurut para pengamat, Arab Saudi menghadapi persoalan serius di sektor sumber-sumber finansialnya disebabkan kebijakan diskriminatif Al Saud terhadap warga Arab Saudi dan peningkatan biaya di berbagai bidang termasuk pola hidup hedonis para pangeran dan pembiayaan proyek sektarian dan terorisme di Yaman, Suriah, Irak, lebanon dan sejumlah negara lainnya di kawasan.
Berlanjutnya kebijakan anti-rakyat oleh Al Saud di sektor politik, sosial, hukum dan ekonomi menimbulkan konsekuensi buruk di berbagai sektor kehidupan warga Arab Saudi terutama di bidang ekonomi.
Memburuknya ekonomi Arab Saudi telah mendorong Raja Salman untuk menerapkan kebijakan pengetatan ekonomi. Meski demikian, Al Saud tetap mengalokasikan pendapatan minyaknya untuk mengintervensi dan mendukung kelompok-kelompok teroris di Suriah, Irak, Lebanon dan sejumlah negara kawasan.
Pendapatan miliaran dolar Arab Saudi dari hasil penjualan minyak alih-alih dialokasikan di sektor infrastruktur di negara ini, namun justru dihabiskan untuk kemewahan dan bidang-bidang tidak penting lainnya. Jika mamajemen seperti ini berlanjut, maka Arab Saudi terancam dengan kebangkrutan dan keruntuhan.
Kondisi Arab Saudi sedemikian rupa, bahkan kalangan Barat sebagai pendukung Al Saud pun tidak memiliki banyak harapan. Ada banyak faktor yang akan menjadi penyebab kemungkinan runtuhnya rezim Al Saud. Surat kabar The Independent mengungkap bahwa memburuknya ekonomi Arab Saudi menjadi salah satu faktor kemungkinan runtuhnya rezim Al Saud. (RA)