Suriah Gugat Dukungan AS atas Teroris di Pengadilan Internasional
-
Hadiyeh Khalaf Abbas, Ketua Parlemen Suriah
Ketua Parlemen Suriah mengatakan, Damaskus memprotes hubungan langsung Amerika Serikat dengan para teroris dan dukungan negara itu atas mereka.
Hadiyeh Khalaf Abbas, Ketua Parlemen Suriah dalam wawancara dengan IRIB (1/10) menyinggung penyadapan pembicaraan telepon Amerika Serikat dengan para teroris di Deir Al Zour, Timur Suriah dan mengabarkan langkah hukum negara itu terhadap Amerika di lembaga-lembaga internasional.
Ketua Parlemen Suriah menambahkan, Amerika secara langsung memusatkan posisi kelompok teroris di dekat markas pasukan Suriah, sehingga dengan dalih menyerang Daesh, mereka menggempur pasukan Suriah dan langkah semacam ini tidak mungkin dilakukan secara tidak sengaja atau karena kekeliruan, tapi pasti atas kesadaran.
Hadiyeh Khalaf Abbas menerangkan, Parlemen Suriah sudah melaporkan hubungan Amerika dengan para teroris kepada lembaga-lembaga pembela hak asasi manusia internasional.
Menurutnya, militer Suriah terbukti mematuhi kesepakatan gencatan senjata, akan tetapi para teroris terus melancarkan serangan mereka dan membuka front-front baru di sejumlah wilayah berbeda dengan dukungan langsung dari Amerika, Arab Saudi, Qatar dan Turki.
Terkait kesepakatan gencatan senjata yang disetujui pemerintah Suriah meski dimanfaatkan untuk memperkuat posisi para teroris, Hadiyeh Khalaf Abbas menuturkan, pemerintah Suriah menjalin kerja sama dan berusaha untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah rakyat negara ini.
Ketua Parlemen Suriah juga menyinggung soal statemen terbaru pejabat Amerika terkait upaya menyelamatkan para teroris.
"Peristiwa terbaru dan manuver kelompok-kelompok teroris di garis batas wilayah pendudukan Palestina dan koordinasi serta dukungan penuh rezim Zionis Israel atas kelompok-kelompok teroris, membenarkan hal ini," ujarnya.
Hadiyeh Khalaf Abbas melanjutkan, Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel secara pribadi menjenguk para teroris yang terluka dan memastikan keselamatan mereka di rumah sakit-rumah sakit milik rezim itu. (HS)