Suriah: Perancis Merindukan Sejarah Kelam Kolonialisme
Duta Besar Suriah untuk PBB, Bashar al-Jaafari mengatakan draft resolusi Perancis untuk Suriah mencerminkan kerinduan negara itu pada sejarah kelam kolonialisme.
Pada pidato dalam sidang Dewan Keamanan PBB untuk menanggapi resolusi tersebut, Sabtu (8/10/2016), al-Jaafari menandaskan para teroris yang melakukan kejahatan di Suriah merupakan kaki tangan dinas-dinas intelijen Barat. Demikian dilaporkan kantor berita IRIB.
Al-Jaafari juga menyoroti aksi walk out yang dilakukan oleh beberapa anggota Dewan Keamanan saat ia berpidato dan menurutnya, para kekuatan kolonial telah kehilangan jalannya saat mendengarkan ucapan yang benar dan mereka lari dari dialog.
"Politisi Perancis harus merasa malu atas apa yang mereka lakukan terhadap Libya dan orang-orang Libya. Rancangan resolusi ini menunjukkan niat Perancis untuk melemahkan Suriah," tegasnya.
Pada kesempatan itu, al-Jaafari menandaskan bahwa veto Rusia terhadap draft resolusi Perancis dilakukan karena kurangnya tekad politik di antara negara-negara, yang menolak memerangi terorisme dan menentang solusi politik untuk krisis di Suriah.
"Setiap kali tentara Suriah mencapai kemenangan atas teroris dan Front al-Nusra, beberapa anggota Dewan Keamanan bergegas untuk menyelamatkan para teroris ini," jelasnya.
Ia menekankan bahwa Suriah menjadi ladang pembantaian karena para teroris asing, di mana sebagian dari mereka lahir di Perancis dan negara-negara Eropa lainnya.
"Fatwa sesat tentang jihad dan kekayaan Arab Saudi dan Qatar dipersembahkan kepada para teroris. Dukungan Turki terhadap semua tindakan kejahatan telah membuat para teroris berkembang biak," pungkasnya. (RM)