Provokasi Militer Turki terhadap Irak
Perdana menteri Irak, Haider Al-Abadi mengeluarkan peringatan keras kepada pemerintah Turki mengenai dampak kemungkinan operasi militer di negara ini yang akan berujung separatisme di Turki sendiri.
Haider Al-Abadi dalam konferensi pers hari Selasa (1/11) menegaskan bahwa Baghdad tidak ingin menyulut perang dengan Ankara, tapi jika itu terjadi, Irak selalu siap menghadapinya.
Statemen PM Irak mengemuka sebagai reaksi keras terhadap penempatan pasukan dan alutsista Turki di distrik Silopi, provinsi Sirnak, yang berada di dekat perbatasan Irak.
Pejabat militer Turki kepada kantor berita Prancis, AFP, mengatakan konvoi militer yang terdiri dari 30 unit tank disertai dengan pasukan artileri pada hari Selasa ditempatkan di wilayah yang berdekatan dengan perbatasan Irak.
Sepak terjang pemerintah Turki terhadap Irak tidak mencerminkan penghormatan terhadap hubungan bertetangga yang baik. Politik luar negeri yang diterapkan pemerintahan Erdogan ini bukan hanya tidak membantu meredam konflik di kawasan, bahkan sebaliknya justru menyulut konflik semakin membara.
Aksi militer Turki terhadap Irak kali ini tentu saja tidak menguntungkan kedua negara bertetangga itu. Sebab hanya musuh yang akan mengeruk keuntungan dari memanasnya hubungan antara Ankara dan Baghdad.
Peningkatan aktivitas militer Turki di perbatasan negara ini dengan Irak sangat bertentangan dengan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan negara lain. Selain itu, sepak terjang pemerintah Erdogan terhadap Baghdad berlawanan dengan upaya untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan di kawasan.
Aksi militer Turki menempatkan pasukannya di dekat perbatasan Irak dilakukan setelah negara ini mengerahkan tentaranya ke Mosul yang dilakukan tanpa koordinasi dengan Baghdad.
Penempatan militer Turki di Mosul pada akhir tahun 2015 dan perpanjangan masa tugasnya selama setahun menunjukkan dengan jelas pelanggaran terhadap kedaulatan teritorial Irak.
Pada saat yang sama, pemerintah Baghdad sudah menunjukkan reaksinya yang mengusung perdamaian dan itikad baik untuk menjalin hubungan damai dengan negara tetangganya. Tapi, niat baik Baghdad tersebut tidak sikapi secara positif oleh Ankara.
Rakyat dan pemerintah Irak memandang sepak terjang Turki tersebut sebagai bentuk provokasi dan pelanggaran terang-benderang terhadap kedaulatan negaranya. Mereka memandang masuknya pasukan Turki ke Mosul sebagai bentuk agresi, dan kini diperparah dengan penempatan pasukan Turki di perbatasan negara ini.
Irak saat ini berada dalam kondisi yang sensitif. Perang melawan teroris Daesh hingga kini terus berlanjut dan membuahkan hasil signifikan, meski belum tuntas.
Kini, konsentrasi rakyat dan pemerintah Irak saat ini adalah menumpas kelompok teroris Daesh dan membebaskan seluruh wilayah negara ini dari cengkeraman kelompok teroris. Oleh karena itu provokasi militer Turki di perbatasan negara ini tidak terlalu menjadi perhatian yang akan membuyarkan konsentrasi mereka dalam menumpas terorisme.