Kedermawanan Sebelum Diminta
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i28888-kedermawanan_sebelum_diminta
Wahai Putra Rasulullah! Jelaskan makna dermawan dan kikir padaku, agar saya tahu, apakah saya kikir ataukah dermawan?!
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Des 22, 2016 15:05 Asia/Jakarta
  • Imam Hasan as
    Imam Hasan as

Wahai Putra Rasulullah! Jelaskan makna dermawan dan kikir padaku, agar saya tahu, apakah saya kikir ataukah dermawan?!

Imam Hasan as saat itu sedang melakukan thawaf Kabah dan lelaki ini sedang menanyakan pada beliau.

Pada saat itu juga Imam Hasan as menjawab, “Jawaban pertanyaan ini ada dua macam; kedermawanan Khaliq [Pencipta] dan kedermawanan makhluk. Kedermawanan makhluk adalah terletak pada melakukan apa yang diwajibkan oleh Allah. Bila tidak dilakukannya, maka berarti kikir. Namun Allah itu dermawan, baik Dia memberi atau tidak memberi. Karena hamba-hamba tidak punya hak atas Allah...”

Kemudian beliau berkata, “Untuk para hamba, sebaiknya tidak mengungkit-ungkit kebaikan yang dilakukannya untuk seseorang, dan tentunya kedermawanan sebelum diminta merupakan tanda kebesaran. 

Siapakah Yang Lebih Dermawan?

Perselisihan dua orang memuncak. Yang berasal dari kabilah Umawi menilai kabilahnya sangat dermawan. Dan yang dari kabilah Bani Hasyim mengatakan, “Orang-orang dari kabilahku adalah masyarakat yang paling dermawan.”

Akhirnya keduanya mencoba orang-orang dari kabilahnya. Keduanya sepakat bahwa masing-masing pergi menemui sepuluh orang dari kabilahnya sendiri dan meminta bantuan kepada mereka. Kemudian kembali bertemu dan ketahuan siapa sebenarnya yang lebih dermawan. Di samping itu, keduanya juga sepakat, uang yang didapatkannya harus dikembalikan lagi kepada mereka yang membantu, namun tidak menyampaikan masalah ini kepada mereka.

Lelaki Umawi pergi menemui orang-orang dari kabilahnya sendiri dan mendapatkan seribu dirham dari masing-masing mereka. Lelaki Hasyimi pertama menemui Imam Hasan as. Imam Hasan memerintahkan untuk memberinya 150 ribu dirham kepadanya. Kemudian lelaki itu menemui Imam Husein as. Imam Husein as berkata, “Hai lelaki, apakah sebelum ini engkau pergi menemui seseorang?”

Lelaki itu berkata, “Iya. Saudara yang mulia Anda telah membantu saya 150 ribu dirham.

Imam Husein as berkata, “Dalam urusan kebaikan saya tidak akan mendahului saudara dan imam saya. Untuk itu, saya memberimu 150 ribu dirham.”

Melihat semua kedermawanan ini, lelaki ini tahu bahwa ia tidak perlu mendatangi yang lain untuk minta bantuan. Dia langsung menuju tempat perjanjian. Lelaki Umawi kembali dengan membawa 10 ribu dirham. Sementara lelaki Hasyimi kembali dengan membawa 300 ribu dirham uang. Di samping itu, lelaki Umawi mendapatkan uang dari sepuluh orang dan lelaki Hasyimi hanya dari dua orang.

Lelaki Umawi paham bahwa kabilah Bani Hasyim sangat dermawan dan suka membantu. Berdasarkan kesepakatan, masing-masing harus kembali ke kabilahnya mengembalikan uang tersebut. Orang-orang dari kabilah Umawi dengan gembira mengambil kembali uangnya. Imam Hasan dan Imam Husein tidak mengambil kembali uangnya dan berkata, “Kami Ahlul Bait [keluarga Rasulullah Saw] tidak akan pernah mengambil kembali sesuatu yang telah kami berikan kepada orang lain.”

Menebus Perbuatan Baik

Imam Hasan as setiap tahun menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan haji kali ini, beliau pergi bersama saudaranya, Imam Husein as dan Abdullah bin Ja’far. Di tengah perjalanan mereka kehilangan bekal makanan dan airnya. Dalam beberapa hari mereka meneruskan perjalanan dalam kondisi seperti ini. Sampai akhirnya menemui sebuah tenda. Pemilik tenda itu adalah seorang perempuan tua. Begitu melihat ketiga orang itu, ia lalu menolong mereka. Perempuan tua memiliki seekor kambing dan memerah susunya untuk menghilangkan rasa haus, kemudian menyembelihnya dan membuat sate dari dagingnya.

Imam dan rombongannya menyampaikan terima kasih atas kedermawanan perempuan tua ini, dan Imam Hasan berkata, “Kami berasal dari kabilah Quraiys, mau pergi ke Mekah. Ketika kami sudah kembali dari haji, datanglah kepada kami, supaya kami mengganti kebaikan-kebaikanmu.”

Waktupun berlalu. Perempuan tua ini menjadi miskin dan tidak punya apa-apa. Dia pergi ke Madinah, barangkali bisa meminta bantuan seseorang. Dia terlantar di kota itu, sampai akhirnya Imam Hasan melihatnya dan mengenalnya. Dengan penuh kasih sayang Imam Hasan mendekatinya dan berkata, “Apakah engkau mengenalku?”

Perempuan tua itu menjawab, “Tidak. Aku tidak mengenalmu.”

Imam Hasan as berkata, “Beberapa lama sebelum ini, ketika kami dalam kondisi lapar dan terlantar, engkau memberi kami air dan makanan. Sekarang, katakanlah, apa yang engkau inginkan sehingga aku berikan.”

Perempuan tua itu berkata, “Sekarang aku miskin dan sudah lemah. Aku memerlukan bantuan.”

Imam Hasan memberikan beberapa ekor kambing dan uang seribu dinar kepadanya. Kemudian mengirimnya kepada saudaranya Imam Husein as. Imam Husein memberikan seribu dinar kepadanya dan beberapa ekor kambing. Kemudian mengirimnya kepada Abdullah. Abdullah juga memberi seribu dinar dan beberapa ekor kambing kepadanya.

Perempuan tua ini merasa takjub dengan semua kedermawanan ini. Namun Imam Hasan berkata kepadanya, “Kebiasaan kami adalah menebus kebaikan orang lain dengan bentuk yang lebih baik. Pada waktu itu, engkau telah memberikan semua hartamu berupa seekor kambing kepada kami, padahal kami hanya memberikan sebagian dari harta kami kepadamu.” (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Hasan as