Rafah Ditutup Total, Pasien Palestina Tak Bisa Berobat ke Luar Gaza
-
Jalur Penyeberangan Rafah
Pars Today - Otoritas Perlintasan dan Perbatasan Palestina di Gaza mengumumkan bahwa rezim Zionis akan menutup sepenuhnya Perlintasan Rafah hari ini (Senin). Akibatnya, proses pengiriman pasien untuk berobat ke luar Jalur Gaza akan terhenti.
Melaporkan dari kantor berita Anadolu, IRNA pada Senin, 20 April 2026, Otoritas Perlintasan dan Perbatasan Palestina di Gaza, Minggu malam, dalam pernyataan singkat mengumumkan bahwa menyusul penutupan total Rafah oleh rezim Zionis, pengiriman pasien untuk berobat akan dihentikan mulai Senin.
Pernyataan itu tidak menyebutkan alasan penutupan Rafah, dan militer Israel juga belum berkomentar.
Bukan Pertama Kalinya
Ini bukan pertama kalinya Israel menutup Rafah. Sebelumnya, jalur ini berulang kali diblokade selama berminggu-minggu, memperparah penderitaan pasien dan korban luka Palestina.
Pada 2 Februari lalu, Israel membuka kembali Rafah, yang telah didudukinya sejak Mei 2024, secara sangat terbatas. Sejak saat itu, hanya sekitar 700 pasien berhasil meninggalkan Gaza untuk berobat ke luar negeri. Padahal, menurut Raed Al-Nams, Juru Bicara Bulan Sabit Merah Palestina, lebih dari 18.000 pasien dan korban luka masih menunggu untuk dikirim ke luar guna menerima layanan medis.
Penyiksaan dan Perilaku Merendahkan
Berdasarkan laporan, sejumlah warga yang berhasil keluar atau masuk melalui Rafah selama periode ini melaporkan adanya interogasi keras dan panjang, serta perilaku merendahkan dari pasukan rezim Israel.
Sebelum perang genosida rezim Zionis terhadap warga Gaza pada 7 Oktober 2023, ratusan warga Palestina melintasi jalur ini setiap hari secara normal. Pengelolaannya berada di tangan Kementerian Dalam Negeri Gaza dan pihak Mesir, tanpa campur tangan Israel.
Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata tahap pertama yang mulai berlaku 10 Oktober 2025, Israel diwajibkan membuka kembali Rafah sepenuhnya. Namun, Israel mengingkari komitmen ini.
Latar Belakang: Genosida 2 Tahun
Rezim Zionis, dengan dukungan AS, melanjutkan genosida di Gaza selama dua tahun sejak 7 Oktober 2023. Hingga kini, lebih dari 72.000 warga Palestina telah gugur syahid, lebih dari 172.000 lainnya terluka, dan 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut hancur.
Rafah bukan sekadar perlintasan. Ini adalah jalan hidup bagi ribuan pasien Gaza yang membutuhkan perawatan medis di luar negeri. Dengan penutupan total ini, Israel secara efektif menghukum orang sakit dan menambah daftar panjang kejahatan kemanusiaan mereka.
Hanya 700 pasien yang berhasil keluar dalam lebih dari dua bulan, sementara 18.000 lainnya menunggu. Itu bukan angka. Itu adalah nyawa yang terkatung-katung antara hidup dan mati.
Gencatan senjata seharusnya membawa harapan, tetapi kenyataannya: Rafah masih terkunci, pasien masih menderita, dan Israel masih bebas melanggar komitmennya tanpa konsekuensi.
Dunia boleh sibuk dengan perang di Ukraina dan ketegangan di Hormuz, tetapi bagi warga Gaza, pertanyaannya sederhana: kapan kami bisa berobat tanpa harus mati di antrean?(sl)