PBB dan Tragedi Kemanusiaan Yaman
Di saat beberapa hari lalu PBB menyerukan urgensi bantuan kemanusiaan dari masyarakat internasional sebesar 2,1 miliar dolar untuk membantu mengatasi krisis Yaman, kantor PBB di Yaman hari Kamis (9/2) mengumumkan perlunya dukungan bantuan segera untuk memenuhi kebutuhan pokok lebih dari 10 juta orang di negara Arab itu.
Kantor urusan kemanusiaan PBB di Sanaa, ibu kota Yaman mengatakan, setidaknya 10,3 juta orang di Yaman menjadi korban langsung perang di negara itu, dan kini mereka membutuhkan bantuan makanan untuk bertahan hidup. Mereka juga membutuhkan akses air minum, dan layanan kesehatan yang paling dasar.
Agresi militer yang dilancarkan koalisi Arab pimpinan Saudi, dengan dukungan AS dan negara-negara Barat, menyebabkan lebih dari 80 persen infrastruktur negara ini porak-poranda. Dilaporkan, sekitar 12.000 warga Yaman tewas dan lebih dari 35.000 orang lainnya terluka akibat perang tersebut.
Lebih dari 21 juta orang dari seluruh penduduk Yaman yang berjumlah 27.870.046 orang membutuhkan bantuan kemanusiaan. Kini, lebih dari 2 juta orang Yaman terlantar tidak memiliki tempat tinggal.
Selama ini, PBB bersikap pasif menyikapi krisis Yaman, dan tidak melakukan tindakan yang signifikan untuk menghentikan agresi militer koalisi Arab yang dipimpin Saudi. Padahal PBB sangat mengetahui penyebab terjadinya krisis kemanusiaan di Yaman akibat serangan militer yang dilancarkan rezim Al Saud. PBB hanya cukup mengeluarkan pernyataan kekhawatiran, dan menyampaikan seruan yang tidak mengikat.
Jamie McGoldrick, koordinator PBB urusan kemanusiaan Yaman hari Rabu (8/2) menyerukan pengumpulan bantuan kemanusiaan senilai 2,1 miliar dolar untuk membantu 12 juta orang Yaman yang menderita kelaparan. Statemen tersebut disampaikan tanpa menyinggung sama sekali solusi untuk mengakhiri agresi militer, atau setidaknya mengurangi tingkat serangan yang dilancarkan Arab Saudi terhadap negara tetangganya itu.
Kantor urusan kemanusiaan PBB hari Kamis (9/2) menyerukan pengumpulan dana bantuan senilai 1,2 miliar dolar untuk memenuhi kebutuhan bantuan kemanusiaan Yaman di tahun 2017. Ironisnya, PBB sama sekali tidak berdaya untuk mendesak Saudi menghentikan agresinya terhadap Yaman, padahal serangan militer itulah yang menjadi penyebab krisis di negara Arab itu. PBB bisa saja mengajukan gugatan ke pengadilan pidana internasional melalui Dewan Keamanan PBB terkait kejahatan perang yang dilakukan Arab Saudi di Yaman.
Pengadilan pidana internasional pun bisa mengeluarkan vonis terhadap Saudi dengan bersandar pada berbagai laporan kejahatan yang terang-benderang dilakukan rezim Al Saud di Yaman. Begitu banyak laporan organisasi internasional, termasuk HRW yang telah menjelaskan terjadinya pelanggaran HAM oleh Saudi di Yaman.
Hingga kini, PBB tidak melakukan aksi signifikan untuk menindak kejahatan yang dilakukan Saudi. Bahkan, tahun lalu, ketika Sekjen PBB saat itu, Ban Ki-moon memasukkan Arab Saudi dalam daftar negara pelanggar hak anak, tidak berapa lama keputusan tersebut dianulir kembali, karena Riyadh mengancam akan menghentikan bantuan finansial terhadap PBB.
Lemahnya PBB di hadapan Saudi juga dipengaruhi oleh dukungan segelintir negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, terutama AS, yang selama ini diuntungkan oleh sepak terjang destruktif Saudi di Yaman.(PH)