Gagal di Medan Tempur, Saudi Juga Kandas Merangkul Kabilah Yaman
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i35938-gagal_di_medan_tempur_saudi_juga_kandas_merangkul_kabilah_yaman
Menteri Pertahanan dan pangeran mahkota Arab Saudi, menyusul berlanjutnya kegagalan Riyadh dalam perang di Yaman, kini beralih menyuap para pemimpin sejumlah kabilah di Yaman, akan tetapi tampaknya upayanya juga membentur dinding.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 12, 2017 14:25 Asia/Jakarta
  • Raja Saudi dan putranya
    Raja Saudi dan putranya

Menteri Pertahanan dan pangeran mahkota Arab Saudi, menyusul berlanjutnya kegagalan Riyadh dalam perang di Yaman, kini beralih menyuap para pemimpin sejumlah kabilah di Yaman, akan tetapi tampaknya upayanya juga membentur dinding.

Fars News melaporkan, di saat pasukan aliansi Arab pimpinan Arab Saudi terus membombardir Yaman, Arab Saudi berusaha mengelola aliansinya dengan berbagai pihak termasuk para pemimpin kabilah di Yaman. Sementara itu, sebelumnya, Arab Saudi menggunakan aliansinya dengan sejumlah kabilah Yaman sebagai sarana untuk menekan pihak Yaman.

 

Rasheed al-Haddad, analis Arab dalam catatannya kepada koran al-Ikhbar terbitan London, menyinggung masalah ini dan menulis, pertemuan terbaru Muhammad bin Salman, Menteri Pertahanan dan pangeran mahkota Arab Saudi dengan sejumlah pemimpin kabilah Yaman dan mantan presiden Yaman, Abd Rabbuh Mansur Hadi, mensinyalir volume besarnya yang dirasakan Arab Saudi.

 

Tekanan dan kerumitan tersebut bukan hanya karena perang di Yaman saja melainkan juga datang dari kondisi aliansi Arab Saudi dengan kabilah-kabilah Yaman yang menyatakan tidak puas dengan kelabilan politik Riyadh.

 

Strategi baru dan terlambat dalam menggalang dukungan kabilah-kabilah Yaman ini dilakukan setelah pasukan aliansi dan Hadi beserta partainya, tidak dapat memajukan tujuannya sedikit pun. Ini kecolongan bagi Riyadh yang melupakan peran poros kabilah-kabilah Yaman dalam berbagai konflik di negara itu.

 

Riyadh menilai kabilah-kabilah Yaman dapat dijadikan senjata untuk menekan pemerintah berkuasa di Sanna. Padahal masing-masing kabilah di Yaman dengan sendirinya memiliki struktur dan peraturan sendiri yang berbeda dan terpisah dengan pemerintah pusat Yaman. Peraturan itu dimiliki setiap kabilah Yaman dalam mengelola perang dan perselisihan yang muncul. Oleh karena itu, semua kabilah memiliki persenjataan ringan dan semi berat.

 

Akan tetapi analis politik Rasheed al-Haddad berpendapat bahwa senjata tekanan Riyadh itu tidak berfungsi. Tidak adanya tokoh kabilah yang dituakan dan berpengaruh atau tokoh baru yang berpengaruh dalam friksi, menjadi sebab kegagalan Saudi dalam menciptakan jarak antarkabilah di Yaman. Selain itu, Riyadh tidak memiliki informasi yang cukup kredibel terkait karakter masing-masing kabilah.

 

Perlu ditekankan bahwa dalam dua tahun terakhir banyak kabilah Yaman yang akhirnya menjadi target serangan Arab Saudi karena menolak beraliansi dengan Riyadh.

 

Al-Haddad menambahkan, pertemuan Muhammad bin Salman dengan para pemimpin kabilah Yaman kini menjadi bahan lelucon orang-orang Saudi dan kegagalan Riyadh dalam hal ini semakin jelas. Berdasarkan keterangan beberapa sumber, Muhammad bin Salman menginstruksikan pelaksanaan rangkaian konferensi dengan para pemimpin kabilah Yaman pendukungnya di Arab Saudi di mana para pemimpin kabilah Yaman bahkan tidak hadir pada pertemuan pertama karena alasan yang tidak jelas.

 

Menurut sumber yang sama, pangeran mahkota Arab Saudi memberikan bonus 200 ribu riyal atau lebih dari 50 ribu USD kepada para pemimpin kabilah Yaman yang hadir.(MZ)