Menyingkap Kerja Sama Uni Emirat Arab dan Israel
Sebuah organisasi HAM yang berbasis di Inggris membongkar kedok kerja sama antara rezim Zionis Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) dalam masalah terorisme yang selama ini ditutupi oleh penguasa Arab itu.
Laporan organisasi Arab untuk hak asasi manusia (AOHR) menunjukkan dua orang pelaku teror Mahmoud Mabhouh, pejabat Hamas yang tewas di Uni Emirat Arab, hingga kini secara bebas hidup di negara Arab itu. Organisasi HAM ini dalam statemennya menyatakan, pelaku teror terhadap Mahmoud Mabhouh setelah melakukan aksinya meninggalkan Uni Emirat Arab menuju Yordania. Tapi petugas keamanan menyerahkan mereka kepada pejabat Uni Emirat Arab.
Aksi teror terhadap Mahmoud Mabhouh terjadi pada 19 Januari 2010 di sebuah hotel Dubai. Dilaporkan, petugas dinas intelejen Israel, Mossad melancarkan sebuah operasi pembunuhan terhadap Mabhouh di sebuah hotel di kota Dubai, dan mereka menyuntikkan bahan kimia hingga merenggut nyawa aktivis Palestina ini.
Berita pembunuhan Mahmoud Mabhouh tersebut juga dilaporkan televisi Aljazeera, Qatar. Sejumlah dokumen menunjukkan tujuh tahun sebelum aksi teror terhadap Mabhouh dilancarkan, mereka dibebaskan dari penjara oleh petugas keamanan Uni Emirat Arab. Pelaku melakukan berbagai pertemuan dengan salah seorang intel Mossad.
Mossad berulangkali melancarkan aksi teror di dalam dan luar wilayah Palestina Pendudukan. Selain aksi teror terhadap Mahmoud Mabhouh rezim Zionis melancarkan serangan teror terhadap Fathi Shaqaqi, pendiri Jihad Islam Palestina di pulau Malta pada Oktober 1995, teror terhadap Imad Moghniyah, anggota senior Hizbullah Lebanon yang diteror di Suriah pada tahun 2008, dan aksi teror terhadap pendiri gerakan Hamas, Ahmad Yasin di Gaza, dan para tokoh lainnya.
Khaled Meshal juga pernah menjadi target teror Mossad di tahun 2007 di Yordania, tapi berhasil lolos. Penyelidikan terhadap jejak serangan teror ini menunjukkan salah satu pusat operasi yang dilancarkan Mossad adalah Uni Emirat Arab.
Selama dua dekade terakhir, rezim Zionis Isarel dan Uni Emirat Arab melakukan kerja sama dengan menjadikan negaranya sebagai tempat berbagai aksi teror yang dilancarkan oleh Mossad. Petugas Mossad dengan lampu hijau pejabat Uni Emirat Arab tidak memiliki batasan untuk menjalankan aksi teroris terhadap orang-orang yang menjadi targetnya di negara Arab itu. Aksi mereka juga didukung jawatan keamanan dan pengadilan negara lain seperti Yordania.
Kebanyakan aksi teror yang dilancarkan Mossad di Dubai dan Abu Dhabi terjadi atas koordinasi dengan pemerintah Uni Emirat Arab. Dengan demikian, rezim Arab ini membiarkan negaranya dijadikan sebagai arena operasi spionase dan terorisme rezim Zionis Israel di kawasan.Meski demikian, Uni Emirat Arab tidak pernah dipersoalkan di tingkat dunia berkat dukungan sepihak Barat, terutama AS. Akibatnya para penguasa Arab semacam Uni Emirat Arab semakin arogan dalam menjalankan aksi destruktifnya di kawasan.
Israel meningkatkan aksi teror demi menciptakan ketakutan dan memberangus segala bentuk aksi perlawanan terhadap rezim Zionis di kawasan. Para penguasa Arab yang tidak memiliki dukungan dari rakyatnya sendiri memandang gerakan perlawanan terhadap Israel juga menjadi ancaman baginya. Oleh karena itu mereka bekerja sama dengan Israel untuk mewujudkan tujuannya masing-masing. Meskipun kerja sama tersebut ditutup-tutupi, tapi kebijakan para penguasa Arab tersebut, sebagaimana menimpa Uni Emirat Arab mulai diketahui publik dunia, dan rakyatnya. Lambat atau cepat akan menjadi api yang menjadi bumerang bagi mereka sendiri.