Bergantung pada AS, Kesalahan Fatal Qatar
Di saat Amerika Serikat berdiri di samping Arab Saudi di kasus tensi antara Doha dan Riyadh, angkatan laut Qatar Jumat (16/6) menggelar latihan perang bersama dengan angkatan laut Amerika di perairan Teluk Persia.
Departemen Pertahanan Qatar seraya merilis statemen menyatakan, manuver gabungan hari Jumat lalu melibatkan 12 tim dari angkatan laut AS dan Qatar serta digelar di perairan negara ini di Teluk Persia. Latihan perang selama satu hari ini membidik target dengan senjata artileri dan serta penggunaan beragam peralatan angkatan laut lainnya.
Ketika pemerintah Donald Trump cenderung berdiri di samping Riyadh di kasus tensi antara Arab Saudi dan Qatar, kini muncul pertanyaan, apa tujuan yang diinginkan Doha menggelar latihan perang gabung dengan angkatan laut Amerika Serikat?
Sepertinya tujuan utama Qatar menyelenggarakan latihan perang gabungan ini adalah melanjutkan ketergantungan keamanannya kepada Amerika. Pangkalan udara al-Udeid Qatar menjadi tuan rumah bagi pasukan Amerika. Di pangkalan udara ini, Amerika menempatkan sekitar sepuluh ribu pasukannya.
Selain itu, pangkalan al-Sayliyah Qatar juga menampung peralatan logistik tambahan Amerika dan jika Washington terlibat perang di kawasan, maka negara ini mampu memanfaatkan logistik yang ditimbun di pangkalan ini. Sejatinya pemerintah Qatar dengan memberikan pangkalan militer kepada Amerika telah membeli keamanannya dari Washington.
Namun poin penting di sini adalah reaksi pemerintah Trump terkait tensi antara Qatar dan Arab Saudi serta esensi transisi kekuasaan dari Sheikh Hamad kepada Sheikh Tamim di tahun 2013 yang terjadi atas kesepakatan rahasia Riyadh dan Washington, membuktikan bahwa menyerahkan keamanan kepada pihak luar tidak akan mampu menjamin kelanggengan kekuasaan Al Thani. Oleh karena itu, penyelenggaraan manuver perang gabungan serta pembelian senjata senilai 12 miliar dolar dari Amerika merupakan kelanjutan dari kekeliruan terbesar Qatar yakni mempercayakan keamanannya kepada pemerintah Gedung Putih.
Poin kedua adalah sesuai dengan keterangan yang disebutkan oleh Departemen Pertahanan Qatar, target di latihan perang ini berhasil ditembak dengan artileri. Kini pertanyaannya adalah apakah maksud dari target tersebut adalah Arab Saudi? Jika demikian Qatar tetap saja melakukan kesalahan terkait Amerika, karena sama seperti posisi Israel lebih penting ketimbang Arab Saudi dalam pandangan Amerika, begitu juga posisi Riyadh dalam pandangan negara adidaya ini lebih penting ketimbang Doha.
Oleh karena itu, manuver perang ini yang digelar di kondisi regional dewasa ini ketika muncul tensi antara Qatar dengan Arab Saudi beserta sekutunya, cenderung menunjukkan kekhawatiran Al Thani atas dampak tensi ini.
Hasilnya adalah Donald Trump melalui aksi-aksinya telah memperparah ketidakpercayaan dan tensi antara negara-negara Arab khususnya antara Qatar dan Arab Saudi, kini dengan memanfaatkan kekhawatiran akibat tidak adanya kedalaman geopolitik Qatar, juga memanfaat iklim penuh tensi demi kepentingan ekonomi. Sejatinya pemicu tensi terbaru antara Qatar dengan Arab Saui beserta sekutunya adalah pemerintah Amerika, juga Gedung Putih memanfaatkan dengan baik tensi tersebut.
Di sisi lain, kekhawatiran keamanan pemerintah Doha tetap saja tidak akan terselesaikan dengan melanjutkan ketergantungan keamanannya kepada Amerika Serikat. (MF)