Imam Shadiq as Dan Problem Sosial
-
Imam Jakfar Shadiq as
Salah seorang pembantu Imam Shadiq as berkata, “Karena jarangnya bahan makanan, harga barang-barang menjadi mahal.”
Imam Shadiq as berkata kepadaku, “Seberapa banyak bahan makanan yang ada di rumah?”
Aku menjawab, “Bisa dipakai dalam beberapa bulan.”
Imam Shadiq as berkata, “Juallah semuanya ke pasar.”
Aku heran dengan ucapan Imam Shadiq as, dan berkata, “Perintah apakah yang Anda sampaikan?”
Imam shadiq as mengulangi katak-katanya sampai dua kali dan menegaskan, "Bawa dan juallah semua barang yang ada di dalam rumah!"
Setelah bahan makanan yang ada di rumah saya jual, Imam Shadiq as berkata kepada saya, “Sekarang engkau punya kewajiban membeli bahan-bahan makanan. Makanan keluargaku harus disiapkan dari campuran separuh dari jelai [jenis gandum] dan separuhnya lagi dari gandum."
Lebih Baik Dari Seribu Orang Ahli Ibadah
Muawiyah bin Ammar berkata, “Aku berkata kepada Imam Shadiq as, “Saya mengenal seorang perawi yang menyampaikan ucapan Anda kepada masyarakat. Dengan cara itu dia menyenangkan dan menguatkan mereka dan saya juga mengenal seorang ahli ibadah dari pengikut Anda, tapi tidak memiliki kemampuan ini. Sementara dia sangat banyak beribadah. Yang manakah dari keduanya yang lebih baik?”
Imam Shadiq as berkata, “Orang yang meriwayatkan hadis kami dan dengan hadis kami dia menguatkan mental dan jiwa masyarakat, dan menguatkan pemikiran para pengikut kami dengan cara menyebarkan ucapan-ucapan kami, maka dia lebih baik dari seribu orang ahli ibadah.”
Menutupi Dosa
Imam Shadiq as berkata, “Barang siapa yang datang untuk belajar fikih, al-Quran dan tafsirnya, maka berilah dia kebebasan untuk datang dan belajar. Barang siapa yang datang untuk mengungkapkan aibnya yang telah ditutupi oleh Allah, maka halangilah kedatangannya kepada kami.”
Salah seorang yang hadir berkata, “Saya menjadi tebusan Anda. Dalam beberapa waktu saya telah berbuat dosa dan ingin sekali meninggalkannya, dan menggantinya dengan kebaikan, tapi tidak berhasil.”
Imam Shadiq as berkata, “Bila engkau benar [memiliki kondisi seperti ini] maka Allah mencintaimu dan tidak ada yang menghalangi Allah untuk memindahkan engkau dari dosa itu ke perbuatan baik, selain hanya karena Dia ingin engkau takut kepada Allah karena dosa dosa itu dan tidak mengalami ujub dan bangga diri.”
Hak Muslim Atas Muslim Lainnya
Mu’alla bin Khunais salah satu sahabat Imam Shadiq as berkata, “Saya berada di dekat Imam Shadiq as dan bertanya kepadanya, “Apa hak seorang muslim atas muslim lainnya?”
Imam Shadiq as berkata, “Setiap muslim atas muslim lainnya memiliki tujuh hak wajib [ditambah selain yang tidak wajib]. Bila salah satu dari hak tersebut diabaikannya, maka ia telah keluar dari naungan wilayah, kekuasan dan ketaatan Allah dan tidak mendapatkan keuntungan dari Allah.
Saya bertanya, “Apakah hak itu?”
Imam Shadiq as berkata, “Hai Mu’alla! Aku adalah teman yang penuh kasih sayang terkait padamu. Aku khawatir engkau mengabaikan hak ini sementara engkau tahu dan tidak mengamalkannya.”
Saya berkata, “Dengan pertolongan Allah, saya berharap bisa mengamalkannya.”
Pada saat itu beliau menjelaskan tentang tujuh hak itu dan berkata:
1. Yang paling sederhana dari hak-hak itu adalah sukailah bagi muslim lainnya, apa yang engkau sukai dan jangan engkau sukai bagi muslim lainnya, apa yang tidak engkau sukai.
2. Jangan marah terhadap muslim lainnya dan lakukanlah sesuatu yang membuatnya senang dan taatilah perintahnya selama dalam ketaatan kepada Allah.
3. Tolonglah dia dengan jiwa, harta, tangan dan kaki serta lisanmu.
4. Jadilah mata, pembimbing dan cermin baginya.
5. Jangan sampai engkau kenyang sementara dia lapar, jangan sampai engkau merasa segar sementara dia haus, jangan sampai engkau berpakaian sementara dia telanjang.
6. Bila engkau punya pembantu dan saudara muslimmu tidak punya pembantu, maka wajib bagimu untuk mengirim pembantu kepadanya, supaya pakaiannya dicuci, dan memasak makanannya dan membentangkan karpetnya.
7. Biarkan dia pada pertanggungjawabannya karena sumpah-sumpahnya. Terimalah undangannya. Bila dia sakit maka jenguklah. Jangan memperlambat dalam memenuhi kebutuhannya sehingga dia terpaksa mengungkapkannya. Tapi segeralah untuk melakukannya. Ketika engkau memenuhi hak ini, maka engkau telah mengikat persahabatanmu dengan persahabatannya dan persahabatannya dengan persahabatanmu.
Ketika Musibah Adalah Nikmat
Imam Shadiq as berkata, “Seorang lelaki mengundang Rasulullah Saw. Beliau menerima undangannya dan pergi ke rumahnya. Di rumahnya orang itu, Rasulullah Saw melihat seekor ayam bertelur di dinding, lalu telur itu menggelinding jatuh di atas paku yang tertancap di dinding dan tidak jatuh ke bawah juga tidak pecah. Rasulullah Saw merasa takjub dengan kejadian itu.
Tuan rumah berkata, “Wahai Rasulullah! Anda merasa takjub dengan telur ini? Demi Allah yang telah mengutus Anda dengan benar. Saya tidak pernah mendapatkan musibah.” Rasulullah Saw bangkit dan tidak makan hidangannya dan bersabda, “Orang yang tidak pernah dapat musibah, maka Allah tidak akan memberikan pertolongan dan perhatian kepadanya.”
Kemudian bersabda, “Allah tidak membutuhkan pada orang yang tidak manfaat harta dan badannya. Yakni Allah tidak akan memperhatikan orang yang tidak pernah mendapatkan penderitaan harta maupun badan. Karena musibah-musibah ini selain sebagai ujian ilahi, juga menyebabkan perkembangan seseorang dan membuatnya sabar. Tentunya bila dia bertahan dan ridha pada keridhaan ilahi.” (Emi Nur Hayati)
Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ja’far Shadiq as