Politik Luar Negeri, Alat Putra Mahkota Saudi Perkuat Posisi
Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi menunjukkan bahwa untuk memperkokoh posisi dalam struktur kekuasaan negara itu, ia harus memberikan perhatian khusus pada politik luar negeri.
Salman bin Abdulaziz, Raja Saudi sejak 24 Juli 2017 melakukan kunjungan ke Maroko dan Mohammed bin Salman untuk sementara memegang tampuk kekuasaan negara selama ayahnya bepergian. Mohammed bin Salman selama sepekan lalu melakukan dua pertemuan dengan tamu asing. Pada 30 Juli 2017, Menhan Saudi bertemu dengan Moqtada Sadr, Pemimpin gerakan Sadr, Irak di Saudi, dan pada hari Senin (31/7) Putra Mahkota Saudi itu bertemu dengan Abdul Qader Masahel, Menteri Luar Negeri Aljazair.
Meski baru pertama kali menduduki posisi ayahnya dan dalam kedudukannya sebagai Putra Mahkota, menerima kunjungan Moqtada Sadr dan Menlu Aljazair, akan tetapi sejak Januari 2015, ketika diangkat sebagai Menteri Pertahanan Saudi, Mohammed bin Salman terlihat menaruh perhatian khusus pada politik luar negeri.
Pada kenyataannya, Mohammed bin Salman dianggap oleh para pengamat sebagai orang yang tidak layak menduduki tampuk kekuasaan Saudi karena tindakannya yang begitu menunjukkan kurangnya pengalaman dan kekanak-kanakan. Ia menggunakan politik luar negeri sebagai alat untuk menunjukkan kekuatan, memperkokoh posisinya di dalam dan luar negeri dan untuk mempromosikan dirinya di level internasional. Mohammed bin Salman untuk meraih ambisinya mengubah kebijakan luar negeri Saudi dari defensif menjadi ofensif.
Surat kabar The Atlantic dalam salah satu analisanya menulis, Mohammed bin Salman telah menjadikan kebijakan luar negeri Saudi di kawasan, ofensif. Setelah ayahnya berkuasa pada tahun 2015, Mohammed bin Salman dikenal sebagai kekuatan di balik layar di Saudi. Ia yang menyulut perang Saudi dengan Yaman dan merancang isolasi Qatar dengan sebuah kampanye. Donald Trump, Presiden Amerika Serikat juga menjalin hubungan baik dengan Mohammed bin Salman. Putra Mahkota Saudi juga berteman dekat dengan Gerard Kouchner, menantu Trump.
Bukan rahasia lagi, lobi-lobi Mohammed bin Salman dengan Presiden Amerika dan keluarganya merupakan salah satu faktor terpenting yang memainkan peran signifikan dalam proses penggantian posisi Mohammed bin Nayef sebagai Putra Mahkota Saudi oleh dirinya. Pada saat yang sama, sekalipun tidak ada data akurat terkait pertemuan dengan tamu-tamu asing dan kunjungan luar negeri yang dilakukan Mohammed bin Salman, namun itu menunjukkan bahwa ia adalah pengambil keputusan utama di Saudi.
Sekarang Mohammed bin Salman yang menganggap dirinya Raja Saudi, melakukan sejumlah pertemuan dengan tamu asing di saat kepergian ayahnya. Ia juga mencoba menunjukkan bahwa jika menjadi Raja Saudi, negara-negara kawasan akan diuntungkan, karena hubungan Saudi dengan negara-negara itu akan pulih. Terkait hal ini, Salah Al Obeidi, juru bicara Moqtada Sadr dalam wawancara dengan TV Al Arabiya mengatakan, Mohammed bin Salman dalam pertemuan dengan Moqtada Sadr mengakui kesalahan-kesalahan pemerintahan Saudi sebelumnya dan kedua pihak menegaskan bahwa kesalahan-kesalahan itu harus ditebus dan Baghdad bersama Riyadh akan memiliki hubungan yang lebih baik. Sadr dan Mohammed bin Salman juga menyepakati masalah ini, bahwa sikap moderat harus dikedepankan dan sikap sektarian dihindari.
Meski mengakui telah melakukan kesalahan terkait negara lain seperti Irak, tapi statemen Putra Mahkota Saudi ini disampaikan setelah dua tahun lalu kecenderungan sektarianisme di pemerintahan Saudi lebih besar ketimbang sebelumnya. Hal itu terbukti dalam aksi brutal militer Saudi di Timur negara itu yang memaksa warga Muslim Syiah keluar dari wilayah tersebut. (HS)