Di Balik Manuver Perang Gabungan Berulang Qatar-Turki
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i42412-di_balik_manuver_perang_gabungan_berulang_qatar_turki
Angkatan darat Turki dan Qatar menggelar manuver bersama dengan sandi Iron Shield (Perisai Besi) di Doha.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Aug 08, 2017 09:20 Asia/Jakarta
  • Kapal Perang Turki
    Kapal Perang Turki

Angkatan darat Turki dan Qatar menggelar manuver bersama dengan sandi Iron Shield (Perisai Besi) di Doha.

Sementara itu, manuver laut gabungan kedua negara juga tengah digelar di perairan Qatar di Teluk Persia.

Proses penempatan militer Turki di Qatar dilakukan berdasarkan restu parlemen Turki pada 7 Juni. Jumlah militer Turki yang rencananya ditempatkan di Qatar untuk latihan perang dan melawan teroris sekitar 3000 personel. Unit pertama militer Turki tiba di Qatar 19 Juni lalu yakni 12 hari setelah ijin yang dikeluarkan parlemen negara ini. Unit militer tersebut langsung memulai latihan perangnya di Doha.

Militer Turki dan Qatar bulan lalu juga menggelar sejumlah latihan perang bersama. Ada dua poin penting terkait manuver perang gabungan kedua negara ini. Pertama, latihan perang ini digelar berdasarkan kesepakatan militer Qatar-Turki yang ditandatangani tahun 2014. Berdasarkan kesepakatan ini, Turki akan membangun pangkalan militernya di Doha.

Sementara poin kedua adalah, proses penempatan militer Turki di Qatar semakin cepat setelah meningkatnya tensi antara Doha dan tiga negara Arab, Bahrain, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang menjadi anggota Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) ditambah Mesir.

Masing-masing dari kedua negara memiliki tujuan khusus dalam memperkokoh kerja sama militernya. Turki melalui kesepakatan militer dengan Qatar dan setelah mendapat ijin mengirim pasukannya ke Doha serta menempatkannya di negara Arab ini, tengah berusaha memperkuat pengaruhnya di dunia Arab serta mengenalkan dirinya sebagai sebuah kekuatan di kawasan yang memiliki kemampuan militer tinggi.

Dengan demikian Turki selain di Qatar, juga menempatkan pasukannya di Irak dan Suriah. Padahal penempatan militer Turki di Suriah dan Irak ilegal dan tercatat sebagai pendudukan sebagian wilayah kedua negara Arab tersebut.

Sementara itu, Qatar yang bersedia menerima kehadiran militer Turki ingin memperkuat sistem pertahanannya. Tujuan defensif Qatar muncul setelah tensi terbaru antara negara ini dengan Arab Saudi Cs serta pemutuhan hubungan dengan empat negara tersebut serta represi di segala bidang terhadap Doha.

Dalam hal ini, tujuan penyelenggaraan manuver perang baik darat maupun laut antara Turki dan Qatar juga disebut-sebut sebagai penguatan sistem pertahanan Doha khususnya menganalisa infrastruktur dan peralatan penting serta strategis negara ini.

Poin penting lainnya adalah dukungan Qatar dan Turki terhadap Ikhwanul Muslimin juga menjadikan kedua negara semakin dekat.

Hasilnya adalah meski kesepakatan militer antara Turki dan Qatar ditandatangani tahun 2014, namun Turki memanfaatkan tensi internal terbaru di dunia Arab untuk memperkuat kehadiran dan pengaruhnya di Doha. Tentu saja hal ini bertentangan dengan kepentingan regional empat negara yang mengisolasi Qatar, khususnya Arab Saudi dan Mesir. (MF)