Manuver Militer Terbesar Israel
-
Militer Israel
Rezim Zionis Israel memulai manuver militer terbesarnya selama dua dekade terakhir di perbatasan Lebanon dan Suriah. Manuver ini digelar hari Selasa (5/9/2017).
Di manuver militer kali ini yang akan berlangsung selama 10 hari, puluhan unit militer rezim ini dikabarkan bergabung dan ribuan personel cadangan juga dilibatkan dalam manuver perang tersebut. Militer Israel di statemennya menyatakan bahwa sejumlah besar jet tempur dan kendaraan lapis baja juga turut andil di manuver ini. Israel pernah menggelar manuver besar seperti ini pada tahun 1998.
Sepertinya manuver ini digelar mengingat transformasi beberapa bulan terakhir di kawasan khususnya di Suriah. Israel dan khususnya Amerika Serikat berharap pemerintah Damaskus tumbang akibat perang yang dilancarkan kelompok teroris sejak tahun 2011. Kelompok teroris yang mayoritasnya dukungan Amerika beserta sekutunya termasuk Israel. Namun setelah enam tahun perang berlangsung, bukan saja Bashar al-Assad, presiden Suriah tetap berkuasa, bahkan perang kontra terorisme di negara ini mulai menunjukkan tanda-tanda berakhir serta pemerintah Suriah menjadi pemenang.
Salah satu dalih utama kemenangan pemerintah Suriah juga berkaitan dengan peran efektif Gerakan Perlawanan Islam Lebanon (Hizbullah) di krisis Damaskus. Peran ini khususnya selama beberapa bulan terakhir semakin cemerlang, karena Hizbullah selain berhasil membebaskan kawasan Arsal dan Qalamoun dari pendudukan teroris dalam waktu singkat, juga sukses menekan anasir teroris Daesh menyerahkan diri untuk lari dari kekalahan yang lebih besar.
Keberhasilan ini bahkan mendorong Amerika kembali berencana mengintervensi urusan internal Lebanon dan mengobarkan friksi antara militer dengan Hizbullah serta melancarkan sabotase di operasi Arsal dan Qalamoun.
Di statemen militer Israel disebutkan, salah satu tujuan dari manuver perang kali ini adalah mempertahankan kemampuan bersaing dan cerdas angkatan bersenjata rezim ini. Dalam hal ini, Koran al-Akhbar cetakan Lebanon menulis, "Prediksi pakar Israel dan komandan militer rezim ini dengan jelas menunjukkan bahwa Hizbullah setelah berpartisipasi di perang Suriah, berubah menjadi kekuatan profesional, kuat dan berpengalaman."
Poin penting lain terkait hal ini adalah Israel yang dilanda ketakutan atas kemenangan terbaru Hizbullah di perang melawan teroris berusaha mengirim pesan kepada Hizbullah akan kemampuan militer dan defensifnya dengan menggelar manuver perang berskala luas.
Amous Hareil, pakar militer di surat kabar Haaretz di artikelnya menulis, "Israel dengan manuver perang ini berencana mengirim pesan pertahanan kepada Hizbullah."
Poin penting di sini adalah ketika Israel ketakutan atas kemampuan Hizbullah, kelompok muqawama ini tidak pernah menjadi pihak pertama yang mengobarkan perang terhadap Israel dan kemampuan Hizbullah ini senantiasa dimaksudkan sebagai kekuatan defensif. Di sisi lain, Israel selama beberapa tahun terakhir berulang kali melanggar kedaulatan Suriah dan Lebanon serta menyerang berbagai wilayah kedua negara tersebut.
Manuver perang ini meski tercatat sebagai manuver terbesar Israel selama dua dekade terakhir, namun juga termasuk manuver ketiga rezim ini selama dua bulan terakhir. Militer Israel di bulan Agustus menggelar manuver laut dengan klaim melawan ancaman Daesh dan pada bulan Juli lalu juga menggelar latihan perang besar pasukan elitnya di pegunungan Siprus. (MF)